
Bang Arma menepis tangan Bang Ojaz. Sahabatnya itu ingin terus menempel padanya sampai membuat Bang Arma jengah tapi Bang Ojaz serasa tak mau tau sedangkan duduk di seberang sana wajah Rhena dan Rika sudah semakin terlipat saja melihat kelakuan suami mereka.
"Ojaz yang nggak mau lepas dek." Kata Bang Arma cemas melihat raut wajah Rhena.
"Apa kalian ini kembar dempet?" Tanya Rhena mulai jengah.
"Tolong Rhen, aku lagi mual pengen dekat sama Arma." Kata Bang Ojaz.
"Tapi aku mual dekat kamu Jaaazz..!!" Bang Arma mendorong lengan Bang Ojaz agar lekas menjauh darinya. "Jadi apa anakku kalau ketempelan begini??"
Rika terdiam sejenak karena dirinya juga merasakan hal yang tidak jauh berbeda, dirinya merasa perutnya sangat nyaman saat berdekatan dengan Rhena. "Apa jangan-jangan anakmu perempuan ya Rhen.. anakku laki-laki nih."
Rhena mengangguk membenarkan, selama kehamilan Ghema dulu tidak pernah ada kerewelan tapi sejak kehamilannya kali ini Rhena menyadari bahwa dirinya tidak bisa jauh dari Bang Arma dan dirinya begitu merasa lemas saat Bang Arma jauh darinya.
"Alhamdulillah kalau perempuan." Bang Arma jauh lebih tenang, terlihat senyumnya pun menyimpan sejuta harapan.
Tiba-tiba hati Rhena merasa lebih sejuk dan tenang melihat senyum Bang Arma. "Abaang..!!"
"Dhalem sayang??"
"Pacaran yuk..!!" Ajak Rhena.
Untuk pertama kalinya Bang Arma mendengar ajakan manja Rhena, tentu saja dirinya tidak akan menyiakan ajakan sang istri dan menyambutnya dengan penuh suka cita. Seketika mabuk dan mualnya pun hilang.
"Okeeyy... Mau pacaran dimana sayangku?" Tanya Bang Arma.
"Tapi jangan bawa Ghema dan anak-anak ya..!!"
Kening Bang Arma berkerut. "Memangnya mau kemana?" Tanya Bang Arma.
Rhena menjentikkan jari telunjuk nya agar Bang Arma duduk mendekat padanya. Tau Bang Arma akan mendekat, Rika pun sedikit bergeser memberi jeda.
Tak disangka Rhena mengalungkan kedua lengannya di belakang tengkuk Bang Arma. "Ke hotel." Bisik Rhena.
Mendengar bisikan Rhena, denyut nadi Bang Arma berdesir kencang menyentil ujung hati. Ia tersenyum sampai pipinya memerah. Bang Ojaz hanya bisa ternganga tak tau apa yang sedang di bicarakan pasutri di hadapannya, namun Rika yang mendengar ikut tersenyum dan segera pamit pulang mengajak Bang Ojaz.
"Masa langsung pulang dek?" Protes Bang Ojaz.
"Sudah ayoo..!! Mau nggak? Rika mau es krim nih." Rika menawari Bang Ojaz.
~
__ADS_1
Beberapa saat sejak para tamu berpamitan untuk kembali ke tempat masing-masing, Bang Arma menatap paras wajah cantik Rhena.
"Seberapa besar cinta itu tersisa di hatimu?" Tanya Bang Arma. "Apakah sudah ada celah pintu maaf?"
"Anak Abang ini rewel sekali, mana mungkin Rhena nggak membuka pintu maaf. Tapi...."
"Tapi apa sayang?"
"Rhena masih marah sama Abang perkara semalam sama perkara tadi." Jawab Rhena. "Sebenarnya Abang cinta apa nggak sih sama Rhena?"
Bang Arma tersenyum kecut mendengarnya. "Pak Dankimu ini harus berbuat apalagi to cinta?"
"Mana buktinya??"
Tak tahan lagi menahan rasa gemasnya, Bang Arma pun menyambar bibir Rhena tapi Rhena melarangnya.
"Kenapa?" Tanya Bang Arma dengan wajah kusut semrawut karena merasa di tolak.
"Rhena maunya di hotel." Jawab Rhena.
"Nyenggol sedikit saja dek, buat validasi..!!" Bujuk Bang Arma.
"Bukannya kamu nggak punya baju warna merah cabe ya?" Bang Arma mulai ragu dan bingung dengan permintaan Rhena.
"Makanya Abang pinjamkan Rhena baju warna merah cabe."
"Pinjam??? Kamu mau pinjam??"
"Bukan Rhena yang mau Bang, anak Abang yang mau."
:
Sore itu satu kompi di gegerkan oleh pesan Danki yang meminta tolong untuk di carikan baju berwarna merah cabe karena Bu Danki berniat meminjamnya sebentar saja.
Para istri anggota bingung, para anggota pun juga ikut bingung. Lima puluh lima istri anggota tidak ada satu pun yang memiliki baju berwarna merah cabe.
"Ijin Bang, tidak ada." Kata Bang Musa.
"Ada doonk.. puyeng kepala saya kalau nggak ada baju warna merah cabe."
"Mau cari dimana Abaaang?? Toko baju juga hampir tutup." Masalah Danki ini sampai membuat resah satu kompi.
__ADS_1
Bang Arma mengacak rambutnya sampai membuat nafas berat bercampur kesal. Pikirannya masih buntu.
Bang Musa pun ikut duduk mende*ah pasrah di samping Bang Arma. Mau tidak mau dirinya terbawa arus ikut pusing.
"Ijin Bang, kalau merah bata bagaimana? Beberapa ibu-ibu ada yang menawarkan baju merah bata." Tanya Bang Musa.
"Kalau ibu Dankimu tidak berkenan?? Pipimu bisa di tabok sampai warna merah darah." Jawab Bang Arma.
"Aahh Abang nih, persoalan ini mudah saja. Kenapa rasanya jadi sangat berat melebihi ujian psiko??" Gerutu Bang Musa. "Kita ini di latih untuk kuat mental Bang."
"Eehh kucing garong. Teori mu itu fiktif kalau di terapkan saat ini. Matamu minus???? Lihat siapa lawannya..!! Ini bumil, di medan perang kita kuat, tangguh, jaya dan perkasa. Kalau urusannya sama bumil.. mental tiarap, garang kabur, gemulai.. paham lu????"
"Siap salah Bang."
Ddrrtttt.. ddrrtttt.. ddrrtttt..
Getar di saku Bang Arma seketika membuat panik.
"Ya salaaam.. nggak sabar amat yaaa.. gimana nih???" Bang Arma sampai gugup mengangkat panggilan teleponnya.
"Angkat Baaang.. angkaatt..!!"
"Dhalem sayang..!!" Suara Bang Arma sudah mendayu lembut.
"Warna merah cabe nya nggak jadi aja deh Bang." Kata Rhena.
"Alhamdulillah.." Bang Arma membuang nafas lega.
"Warna putih jigong aja."
"Ya gustiiiiii.. Tobat Abang deekk..!!" Bang Arma menepuk dahinya.
Bang Musa kembali bersandar gemas. "Ini inspirasinya dari jigong siapa sih??"
.
.
.
.
__ADS_1