Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
7. Ext part.


__ADS_3

"Keluarkan barangnya..!!" Perintah Bang Rojaz.


Bang Musa dan Prada Erky menggelar 'helm' pengaman di hadapan Bang Rojaz.


"Astagaaa.. banyak sekali. Mau kalian apakan benda sebanyak itu???" Tegur Bang Rojaz.


"Ijin Dan, buat mengamankan barang kami saat latihan tempur esok lusa." Jawab Prada Erky.


"Barang yang mana yang perlu di amankan???" Tegur Bang Rojaz menatap kedua pria di hadapannya secara bergantian.


"Ponsel, biji peluru dan barang-barang yang harus di selamatkan dari air Bang." Jawab Bang Musa.


"Benarkah?" Mata Bang Rojaz masih menatap penuh selidik.


"Untuk apa saya bohong Bang. Saya belum ada lawan untuk hal begitu."


"Lalu kenapa sejak tadi tangan Erky menggenggam tanganmu??" Bang Rojaz kembali mencecar Bang Musa dan Prada Erky.


Seketika Bang Musa tersadar. "Astagfirullah.. kenapa kamu pegang tangan saya?????" Bentak Bang Musa.


"Maaf Dan, refleks..!!" Mata itu menatap Bang Musa seolah sarat akan tatapan cinta.


Bang Musa yang melihat hal tersebut langsung menepak dahi Prada Erky. "Kau mau buat kita celaka??? Jangan melihat saya dengan tatapan mata yang menjijikan macam itu..!!!!"


Prada Erky tersenyum malu kemudian menunduk.


"Ya Tuhan, jangan sampai di antara kalian berdua ada apa-apa."


"Nggak ada Bang, sumpah."


Prada Erky menunduk terdiam dengan senyum yang sulit di jelaskan.


"Jangan bilang kamu naksir saya ya..!!" Bang Musa balik menegur Prada Erky.

__ADS_1


Melihat kecemasan Prada Erky, Bang Rojaz pun tersenyum geli. "Oohh.. jadi ada benih cinta di antara kalian. Bilang donk" Ledek Bang Rojaz berbalik haluan karena juniornya terlihat sangat ketakutan.


Bang Musa panik dan berdiri tapi senyum Bang Rojaz dan Prada Erky begitu menakutkan.


"Abang bicara apa?" Entah sejak kapan Rhena berdiri di pintu ruang tengah.


Tawa Bang Rojaz menghilang berganti senyum gugup salah tingkah.


"Kalian bertiga duduk..!!" Pinta Rhena.


~


"Abang bisa berubah atau tidak??" Tanya Rhena.


"Mau berubah jadi apa? Abang nggak buat macam-macam. Abang sedang menegur Musa dan Erky karena membeli barang tersebut. Kalau Abang beli ya memang mau Abang pergunakan pribadi, untuk rumah tangga kita." Jelas Bang Rojaz tak karuan paniknya melihat raut wajah Rhena yang mencurigai dirinya. Niat hati mengerjai junior tapi malah terkena batunya.


"Kalau benar Abang doyan perempuan, kenapa Abang bisa sampai membujang sangat lama. Memangnya Abang nggak pengen kawin?" Cecar Rhena tetap tidak bisa berfikir positif saat berhadapan dengan ketiga pria.


"Kawin mah pengen. Tapi waktu itu belum ada jodohnya, terus Abang mau kawin sama siapa? Sekalinya naksir malah babak belur di hajar Arma." Kata Bang Rojaz mengaku.


Mulut Bang Rojaz rasanya terkunci, ia hanya bisa mengepalkan kedua. Baru membayangkan ada pria lain yang melirik istrinya saja rasanya sudah sangat kesal, apalagi sampai ada pria lain yang diam-diam mencintai Rhena. Tatapan mata Bang Rojaz langsung mengarah pada Bang Musa.


"Waduuuuhh.. apa nih Bang? Saya sudah pensiun mengharapkan Rhena. Saya sudah ngincar yang lain." Kata Bang Musa menghindari masalah besar dengan seniornya.


"Siapa??? Erky????" Tanya Bang Rojaz berang.


Keduanya pun panik lalu mengangkat kedua tangan tanda penolakan.


"Ijin Dan, tidak berani."


"Nggak Baaang.. Ya ampun, Abang nggak percaya amat sama saya." Jawab Bang Musa.


"Heehh.. sama benda mati saja saya nggak percaya, apalagi sama kamu." Ucap tegas Bang Rojaz kemudian mengambil sebatang rokok dari wadahnya. "Ya wes lah sana, tapi awas saja kalau sampai saya dengar atau tau kalian macam-macam. Bersiap saja kalian jadi dodol..!!" Ancam Bang Rojaz.

__ADS_1


"Siaaap..!!"


\=\=\=


Rhena membuka laci lemari pakaiannya, masih ada bungkus pembalut utuh yang belum di bukanya sama sekali. Ia tertegun mengingat kapan terakhir kali menerima kunjungan tamu bulanan.


"Ada apa dek?" Tegur Bang Rojaz kemudian mendaratkan satu kecupan sayang di kening Rhena.


"Rhena belum datang bulan Bang."


"Oya, telat berapa hari?" Tanya Bang Rojaz tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Hampir dua Minggu Bang." Jawab Rhena.


"Periksa ke dokter kandungan yuk..!!" Ajak Bang Rojaz hati-hati.


"Baaang.. Rhena nggak mau punya anak lagi."


"Sayang, nggak boleh begitu. Anak juga rejeki. Kalau sudah kejadian ya sudah, kita terima saja. Apa kamu tega membuang sesuatu yang sudah bernyawa?" Bujuk Bang Rojaz menghadapi Rhena, ia tidak ingin menjadi emosi dengan jawaban Rhena yang tidak menginginkan ada anak lagi di antara mereka.


"Kalau Rhena hamil, berarti anak ini masih sangat kecil. Masih belum terlambat Bang." Kata Rhena.


"Dimana-mana namanya hamil itu berarti sudah terlambat. Lagipula kenapa kamu tidak mau hamil lagi? Tidak suka punya anak dari Abang?" Bang Rojaz yang sejatinya sangat menginginkan anak seketika terpancing emosi. "Ayo kita ke rumah sakit..!!" Bang Rojaz menarik tangan Rhena.


"Nggak mau Bang, belum tentu Rhena hamil." Tolak Rhena.


"Makanya kita cek dulu. Hamil atau tidak yang jelas kita tau kepastiannya."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2