Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
25. Prahara pahit.


__ADS_3

"Jawaaaabb..!!!!!" Bentak Bang Arma tak bisa menahan amarahnya. "Apa nyalimu tidak cukup gentle untuk mengakui?


"Heeehh.. kenapa kamu ini?? Datang langsung ngamuk, mabuk lu Ar????" Tegur Bang Arma melihat amarah adiknya.


"Iya, menyimpan perasaan untuk Rhena." Jawab Bang Ojaz tanpa ada yang ditutupi lagi.


Bang Renash ternganga bingung sedangkan Bang Arma langsung melayangkan pukulan telak di dada Bang Ojaz.


buugghh...


Sesakit apapun itu, Bang Ojaz sama sekali tidak membalas hantaman Bang Arma dan hal itu semakin membuat Bang Arma kesal.


"Apa itu artinya kau mengakui sudah menjalin hubungan dengan Rhena??" Tanya Bang Arma.


Kali ini Bang Ojaz ingin meluruskan sesuatu yang salah dari pemikiran Bang Arma. "Nggak Ar, aku yang salah. Rhena nggak tau apapun tentang masalah ini."


"Bohong..!! Tadi aku meminta Wahyu untuk menjemputnya tapi Wahyu bilang Rhena sedang bersamamu." Bang Arma mengambil ponselnya dan menunjukan foto tidak sengaja saat Rhena kesulitan naik motor Bang Ojaz.


"Istrimu sedang tidak enak badan, aku hanya membantunya Ar..!!" Jawab Bang Ojaz.


"Waahh.. kau mau bilang kalau kau yang lebih mengerti Rhena daripada aku??????" Suara Bang Arma menggelegar mengundang para rekan.


Bagai orang kerasukan Bang Arma menghajar Bang Ojaz membabi buta.


"Biar aku jelaskan dulu Ar..!!" Pinta Bang Ojaz.


"Kalau kamu tidak ada main dengan Rhena, kenapa kamu bisa mendapatkan foto Rhena tanpa jilbab???" Satu tinjuan telak menyambar wajah Bang Ojaz.


Dari jauh Rhena melihat kejadian tidak mengenakan itu, ia pun menghampiri Bang Arma dan menarik lengan suaminya.


"Baang, ada apa sih?? Kenapa pukul Bang Ojaz???" Pekik Rhena.


"Kenapa?? Kamu mau membela selingkuhanmu itu??" Bentak Bang Arma menepis tangan Rhena.


"Armaaa..!!" Bang Renash memberi satu kali peringatan pada adiknya.

__ADS_1


Rhena begitu syok mendengar bentakan Bang Arma.


"Katakan.. yang ada di perutmu itu anak Rojaz atau anakku?????"


"Armaaa..!!!!!" Bang Renash balik membentak dan menampar wajah adiknya. "Jangan sampai rasa cemburu dan amarahmu membuatmu hilang akal..!!"


Bang Arma tersenyum sinis, ia meninggalkan semua orang dan menepi untuk menenangkan diri.


Tubuh Rhena gemetar, tatapan matanya kosong. Bang Rhenas bingung bagaimana menenangkan Rhena.


Secepatnya Bang Ojaz berlari mengejar Bang Arma.


"Rhen.. Abang antar pulang ya.." Bang Rhenas menawari adik iparnya bantuan tapi Bang


"Terima kasih banyak Bang. Rhena pamit pulang." Ucap Rhena kemudian melangkah pergi.


Bang Renash begitu mencemaskan keadaan rumah tangga Arma dan Rhena. Ia meminta pos Ksatrian menutup akses keluar untuk keduanya.


...


Sampai di rumah Rhena mengemas pakaiannya, tanpa tangisan, tanpa banyak meratap. Ia membuka berkas pernikahan dirinya yang terselip di antara berkas Bang Arma yang lain. Tak sengaja dirinya membuka satu berkas, penghargaan karena seorang Letda Lanang Armayudha sudah membantai kepala seorang mafia perdagangan senjata dan di sana tertulis nama dan foto korban di balik map salinan visum rahasia dan antemortem.


"Ayah.. Nagataksaka.. Bang Layung?" Rhena mencari berkas nama tersebut. Rhena mengobrak-abrik berkas hingga bagian terkecil dan akhirnya. "Layung... Kau yang membunuh ayahku????"


Rhena berteriak menangis histeris, para anggota yang di minta berjaga rasanya tak sanggup menghadapi situasi tersebut dan secepatnya menghubungi Bang Renash.


Selang beberapa waktu kemudian Bang Renash dan mendobrak rumah adiknya.


//


Bang Ojaz masih kewalahan membujuk Bang Arma. Memang kali ini kesalahannya terlalu berat. Ia mencintai sahabat baiknya.


"Marahlah padaku saja, jangan sakiti Rhena..!!"


"Kau puas?? Ini yang kau inginkan??" Bang Arma hendak menghajar Bang Ojaz lagi tapi dering ponselnya berbunyi, HT pun tak hentinya bersahutan.

__ADS_1


"Apa Bang?" Tanya Bang Arma.


"Pulang Ar, situasi genting. Rhena.. dan kandungannya.........."


"Kau katakan saja pada Ojaz Bang."


"Ini lebih dari sekedar Ojaz. Ini tentang misi Nagataksaka." Ucap lirih Bang Renash.


"Ada apa Bang?" Tanya Bang Arma.


"Rhenata Ghea.. adalah putri Baharuddin."


...


Entah saat ini masalah mana dulu yang harus di selesaikan. Semua begitu kompleks. Bang Arma duduk berhadapan dengan Rhena. Ia menggenggam sesuatu di tangan. Semarah-marahnya Bang Arma, hatinya tidak setega itu pada Rhena. Mulutnya bisa berucap kasar namun di dasar hatinya masih tersimpan rasa sayang yang begitu besar.


"Kenapa kau bunuh ayahku?"


"Saat itu adalah misi penugasan pertama saya. Dan penyelundupan senjata api adalah perkara ilegal." Jawab Bang Arma berusaha tenang tapi matanya siaga mengamati setiap pergerakan Rhena.


"Haruskah kau membunuh ayahku?" Tanya Rhena terus menatap mata Bang Arma.


"Ayahmu kriminal, beliau melawan dan menyerang aparat. Logika penyergapan adalah mendapatkan musuh hidup atau mati begitu pula dalam misi penyelesaian juga pilihannya hidup atau mati."


"Tidak kah kau berpikir jika saat itu dia memiliki anak dan istri? Bagaimana dengan putrinya?? Bagaimana keadaan istrinya???"


Pertanyaan itu menyentil perasaan Bang Arma, hal yang masih menimbulkan resiko bahkan setelah tugas itu terselesaikan.


"Dengar Armayudha.. aku bersumpah di rahimku ini adalah darah dagingmu, tidak ada satu tetes pun m**i pria lain mengotoriku. Sebab kau pun tak inginkan dia, aku akan membuangnya..!!" Rhena membuka botol kecil di tangannya.


Bang Arma terperanjat kaget. Tangannya berusaha menyambar botol tersebut.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2