
"Broken white.. kalau bahasa Indonesia nya mungkin putih jigong." Kata Prada Erky setelah browsing di internet.
"Ya sudah.. cari..!!"
"Ijin Bang.. ini untuk warna cat. Kalau kain tidak ada atau jarang ada." Tunjuk Bang Musa pada ponsel Prada Erky.
"Hiiiiihh.. asam urat betul mikir Rhena." Gerutu Bang Arma tapi kemudian ia pun menarik nafas agar pikirannya sedikit lebih tenang.
Beberapa saat kemudian Bang Arma mengetik pada layar ponselnya dan warna baru yang di cari adalah warna putih jigong.
Entah bagaimana reaksi anggota membaca pesan dari Dankinya, yang jelas kini warna yang di minta sudah berubah.
'Selamat malam Danki. Ijin.. saya punya warna tersebut tapi sayangnya ini kain untuk taplak meja makan.'
"Oke.. ini ada yang punya. Tolong di ambil..!!" Perintah Bang Arma pada Prada Erky.
"Ijin Dan.. kainnya buat taplak meja." Kata Prada Erky.
"Nggak apa-apa. Sudah ambil saja. Nanti kita urus itu kain." Jawab Bang Arma.
:
Dengan akal cerdiknya Bang Arma meminta Prada Erky untuk menjahit tepi kain taplak tersebut dan memberinya karet elastis hingga menjadi sebuah kain lilit mirip kemben.
"Ini bagus Bang. Punya siapa?" Tanya Rhena.
"Adaaaa.. sudah pakai saja kalau kamu suka." Jawab Bang Arma agar tidak ada pertanyaan lagi dari mulut mungil Rhena.
Rhena tersenyum bahagia. Memang kalau wanita sudah cantik mau memakai pakaian apapun tetap saja cantik. Melihat Rhena tersenyum bahagia, terang saja hati Bang Arma ikut bahagia. Senyumnya pun jadi senyuman tersipu malu.
"Kenapa Bang?"
"Mana jatah Abang?" Tanya Bang Arma
"Yaaaa Abaaang, Rhena khan bilangnya nanti di hotel." Jawab Rhena.
Seketika wajah Bang Arma mendadak muram. Sungguh saat ini ada rasa rindu tak tertahan, batinnya mulai resah.
"Sebentar saja. Kilat.. Abang janji..!!" Kata Bang Arma penuh permohonan.
__ADS_1
Baru Rhena akan menjawabnya, Bang Arma sudah menubruknya.
:
"Abang lapar dek..!!"
"Ya sudah, Rhena buat mie instan dulu." Rhena bergegas pergi ke dapur untuk membuat mie instan.
Bang Arma mengangguk, tubuhnya lumayan lelah usai satu sesion pertempuran panas. Saking lelahnya sampai matanya terpejam.
"Aaaaaaaaaaaaa..!!!!!" Suara Rhena mengagetkan Bang Arma yang langsung terperanjat mendengar teriakan sang istri.
"Dek.. ada apa??" Tanya Bang Arma tapi saat Bang Arma tiba di dapur, Rhena sudah terduduk di lantai dengan wajah syoknya. "Kamu kenapa??"
"Tangan Rhena di sambar api Bang." Jawab Rhena.
Bang Arma melihat sekitar tangan Rhena, memang merah tapi masih untung tidak terjadi sesuatu yang mencelakai.
"Mundur dulu dek. Abang cek sebentar..!!" Pinta Bang Arma sambil membantu Rhena agar bisa bergeser menjauh darinya.
Setelah Rhena bergeser, Bang Arma pun mencoba kompor yang menjadi biang masalah.
Api menyala sempurna tanpa hambatan apapun.
"Bisa nih? Apinya menyambar darimana dek?"
"Dari kompor itu Bang, apinya besar sekali." Kata Rhena masih bernada syok.
"Coba dulu..!! Nggak mungkin lah apinya berani nyambar ibu hamil, apalagi sekarang badannya sudah bohay."
Rhena melirik kesal langkah Bang Arma yang kembali menuju kamar.
"Aaaaaaaaaaaaa.." teriak Rhena semakin kencang.
"Ya Tuhan, ada apa lagi dek??" Bang Arma sampai kembali ke dapur karena lagi-lagi Rhena berteriak kencang.
"Kompornya nyambar lagiii..!!" Pekik Rhena semakin trauma dengan kompor di hadapannya.
Bang Arma kembali mencobanya dan semua baik-baik saja.
__ADS_1
"Ini bisa. Nggak ada apa-apa. Kamu mau Abang masakin??" Bang Arma membelai rambut Rhena yang halus.
"Nggak Bang, ya sudah lah kalau Abang nggak percaya." Rhena masuk ke dalam kamar.
Mau tidak mau akhirnya Bang Arma memasak mie instan nya sendiri karena perutnya pun sudah terasa sangat lapar.
:
Dengan lembutnya Bang Arma menyuapi Rhena yang masih cemberut perkara kompor di rumahnya.
"Ganti kompor lah Bang."
"Kompornya nggak apa-apa sayang. Masih bagus, juga nggak karatan." Tolak Bang Arma karena memang saat mencobanya tidak terjadi apapun.
"Pokoknya.. Rhena tetap mau beli kompor. Apa Abang mau kalau istri Abang yang bohay ini tersambar api?????" Ucap ketus Rhena kemudian melipat kedua tangan di depan dada, memalingkan wajah sambil mengunyah makanan.
"Siap Bu Danki. Laksanakan.. besok Pak Danki belikan." Bang Arma memilih mengalah daripada harus perang mulut dengan Rhena.
"Rhena pilih sendiri Bang." Lirikan Rhena terlihat jahat tapi tidak berarti apapun dalam pandangan mata Bang Arma.
"Siaaaapppp.."
Rhena pun menodongkan tangan. Bang Arma paham maksud Rhena tapi jika tidak menggangu Rhena sampai merasa kesal seakan ada sesuatu yang masih mengganjal dalam hatinya. Bang Arma mengambil tangan Rhena lalu mencium punggung tangannya.
"Uang Bang.. uang..!!!!" Kata Rhena.
"Abang saja kerja keras pakai badan kalau mau uang. Masa kamu nggak kerja keras??" Ledek Bang Arma dengan wajah tanpa dosa menyiratkan seribu makna.
Lama kelamaan Rhena paham maksud Bang Arma. "Tadi khan sudah Abaaang."
"Uang itu tidak datang dengan sendirinya sayang. Setiap hari harus kamu lakukan sebagai bagian dari hidupmu. Lagipula Abang lebih terima kamu tidak bisa masak daripada tidak bisa goyang." Bisik Bang Arma.
.
.
.
.
__ADS_1