
Pakaian Bang Arma sudah kering. Rhena mengambil dan membawanya masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat namun dirinya tidak tau ada sepasang mata yang memperhatikannya.
Rhena membuka laci nakas lalu mengambil peralatan jahitnya. Selalu ada kancing PDL di laci tersebut tapi tidak pernah di gunakannya.
"Berapa kali lagi Abang hilangkan kancing?" Gerutunya.
Tak tau sadar atau tidak, Rhena memberi tanda pada pakaian tersebut.
Mata Rhena sempat melirik bungkusan kecil yang ia dapatkan dari kantong seragam loreng Bang Arma. 'Itu apa ya?'
...
Pukul sebelas malam pakaian Bang Arma tiba di rumah, ia membuka plastik penutupnya. Samar semerbak wangi itu sangat familiar di hidungnya dan ia mengenalinya.
"Ada apa Bang?" Tanya Bang Musa.
"Abang seperti familiar dengan wangi ini, buatan sendiri.. tidak semua orang punya." Bang Arma kembali memperhatikan pakaiannya, kancing sudah terpasang rapi dan kuat. Tangan itu meraba bagian dalamnya, ada sulaman tanda AR.
Jantung Bang Arma serasa berhenti berdetak. Kakinya gemetar hingga dirinya terduduk lemas. Ia meremas dadanya menormalkan denyut nadi.
"Siapa pemilik loundry ini?"
"Namanya Rhena Bang, Rhenata Ghea. Janda muda yang lapaknya di ujung jalan dekat perbatasan antara Batalyon dan perkampungan warga.
"Allahu Akbar..!!" Bang Arma semakin syok hingga terbanting lemas.
"Baang.. Abang kenapa Bang???"
***
Bang Ojaz melihat pakaian Bang Arma lalu mendekatkan hidungnya. "Apa yang salah? Apa ada bau klorin?" Tanya Bang Ojaz sambil mengipasi wajah Bang Arma agar sahabatnya itu segera sadar.
Baru saja tiba tapi Danki Kompi BS sudah membuat geger.
"Tidak Bang, saya juga tidak tau ada apa. Bang Arma lemas dan pingsan saat membolak-balik pakaian seragamnya."
"Jauhkan seragam itu, saya cemas seragam itu mengandung bubuk atau cairan beracun yang mematikan. Lindungi Dankimu..!!" Perintah Bang Ojaz serius.
Tak ayal perintah Kapten Rojaz ikut membuatnya panik dan kelabakan. Bang Musa membawa pakaian Bang Arma keluar rumah sambil menutup hidungnya takut terkena bius mematikan dari aroma parfum tersebut.
...
"Dimana pakaian saya??" Tanya Bang Arma mencari seragamnya kesana kemari.
"Ijin.. mengikuti arahan Kapten Rojaz.. saya meletakan seragam Danki di ruang kesehatan untuk diteliti." Jawab Bang Musa.
"Astagaaa.. dankimu itu saya atau Rojaz?? Saya lemas bukan karena pakaian itu, tapi karena ada sesuatu." Kata Bang Arma menjadi berang. "Ambil sekarang juga atau anggota melihat Dantonnya berguling di lapangan..!!!!"
"Siaaap..!!"
...
__ADS_1
Apel gelar penyambutan resmi sudah usai. Bang Arma menarik nafas dan membuangnya pelan. 'Kapan selesainya ini acara. Aku ingin memastikan sendiri kebenaran ucap Musa. Aku harus tau bagaimana keadaan Rhena.'
"Silakan di lanjutkan.. Saya masih ada keperluan..!!" Pamit Bang Arma.
"Ijin.. biar saya antar Dan..!!" Kata Prada Erky.
"Nggak usah, kamu ikut acara saja. Standby on call kalau saya ada perlu." Perintah Bang Arma pada ajudannya karena Praka Wahyu kini sudah menikah.
"Siap Danki."
:
LOUNDRY GHEMA
Nama itu yang di baca Bang Arma. Banyak seragam loreng berjajar di depan lapak dan itu menunjukkan betapa ramainya lapak loundry tersebut.
cccttkkk..
"Awwhh.." Bang Arma memercing merasakan sakit saat peluru mainan menempel di jidatnya.
Sedikit rasa kesal merasakan sakitnya tapi saat melihat siapa yang menembak, rasa kesalnya pun sirna.
Bang Arma berjongkok mengimbangi pria kecil itu, hatinya sudah tidak sabar ingin memeluk. "Siapa namamu?"
"Pangestu Gumarang. Mama memanggilku Ghema."
Bang Arma menahan runtuhnya air mata. "Oya, gagah sekali. Siapa nama ayahmu?"
"Aku tidak punya ayah. Mama sudah berpisah tapi aku pernah tau namanya."
"Hmm.." Ghema seperti berpikir keras. "Inii.. seperti ini.. Armayudha." Jawab Ghema menunjuk nama dada Bang Arma.
Air mata yang sudah di bendung akhirnya runtuh juga. Bang Arma tidak kuat menahan tangis dan sesak di dalam dada.
"Mamaaaa.. ada Om..!!" Teriak Ghema.
"Oomm?? Om siapa?? Om Musa??" Tanya Rhena dari dalam rumah.
Terdengar suara langkah kaki mendekat. Bang Arma mengusap puncak kepala Ghema lalu berdiri berhadapan dengan Rhena yang juga sudah berdiri di hadapannya.
"Ini Om Arma. Apa kabar Mamanya Ghema?" Sapa Bang Arma.
Rhena begitu terkejut melihat Bang Arma berdiri di hadapannya dengan gagah. Tapi Rhena mampu mengendalikan diri saat melihat Bang Arma. Aura dewasa lebih nampak terlihat hanya saja pria itu terlihat lebih kurus dan tidak terawat. Kumisnya yang dulu tidak pernah ada kini menghias wajahnya meskipun hanya kumis tipis.
"Baik jika tidak melihatmu Mas." Jawab Rhena seakan memberi jarak pada Bang Arma.
"Siapa Ma?" Tanya Ghema.
"Om-om nyasar." Jawab Rhena.
Ghema mendongak ke atas menatap pria bertubuh tinggi besar dan gagah di hadapannya.
__ADS_1
Bang Arma tersenyum membalasnya, saat Bang Arma hendak menyentuhnya, Rhena menarik Ghema untuk mundur menjauh.
"Ini.. anakku khan dek?" Tanya Bang Arma.
"Bukan, dia anakku. Kapan kau membuatnya?" Ledek Rhena.
"Bisa kita bicara?"
"Nggak, Rhena nggak ada waktu. Ghema mau aku ajak pergi." Alasan Rhena karena tidak mau banyak urusan dengan Bang Arma.
"Saya mohon beri saya waktu untuk menjelaskan..!!"
"Sepuluh menit..!!"
"Rhena.. tolong.. jangan begini..!!" Pinta Bang Arma.
"Delapan menit."
"Rhenaa..!!"
"Enam menit." Kata Rhena.
"Apa yang terjadi antara saya dan ayahmu adalah suatu peristiwa yang juga tidak saya duga. Ayahmu menyelundupkan senjata api, saya Dantim dalam penugasan saat itu, saya sempat katakan. Dalam hal kriminal tidak ada kata toleransi dalam hal nyawa. Jika saat itu ayahmu tidak ada, berarti artinya kamu tidak pernah bertemu dengan saya."
"Saya pilih Ayah."
"Bagaimana saya harus menebusnya? Dengan nyawa?"
"Bii.. tolong bawa Ghema jalan-jalan." Teriak Rhena.
Tak butuh waktu lama Bibi keluar dari dalam rumah. Bibi terkejut ada seseorang yang wajahnya sangat mirip dengan Ghema.
"Cepat Bi..!!" Perintah Rhena. "Bawa Ghema main jauh."
"Ii_iya Bu." Bibi masih tetap menatap Bang Arma. "Permisi Pak..!!"
Bang Arma hanya mengangguk saja.
Setelah Bibi pergi, Rhena menatap mata Bang Arma.
"Apa sanggup nyawa itu kau berikan sebagai gantinya?" Tanya Rhena.
Bang Arma menarik sangkur lalu meletakkan di meja tepat di samping Rhena. "Pilih.. Abang ikhlas lahir batin mati di tanganmu." Bang Arma juga mengeluarkan pistol dan membantu Rhena mengokang pistolnya kemudian meletakan di atas meja.
Rhena menyambar pistol tersebut, tangannya luar biasa gemetar.
Melihat keraguan pada diri Rhena, Bang Arma pun mengarahkan pistol itu tepat di dadanya. "Letuskan satu kali. Biar selesai sudah sakit di hati dan tubuh ini..!!"
.
.
__ADS_1
.
.