Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
36. Demi mempertahankan yang ada.


__ADS_3

"Biii.. tolong singkirkan mangkok baksonya Ghema. Saya mual bau kuahnya." Pinta Rhena.


Baru menolak aroma kuah bakso, Rhena mual karena aroma bawang putih.


"Hhhkkk.." Rhena berlari ke wastafel dan memuntahkan semua isi perutnya.


"Bu, ibu kenapa? Masuk angin ya?" Tanya Bibi.


Rhena hanya mengibaskan tangan tapi kemudian matanya melihat lemari penyimpanan belanja bulanan. Pembalutnya belum terbuka.


"Ini tanggal berapa ya Bi?" Tanya Rhena.


"Tanggal dua puluh Bu." Jawab Bibi.


Rhena terdiam sejenak. Berarti sudah lewat dari satu minggu dirinya terlambat datang bulan. Ia segera masuk ke kamar dan mengambil tasnya.


...


Rhena terpaku duduk di kursi tepat berhadapan dengan ibu bidan. Kemudian meninggalkan tempat dan meminta seseorang mengantarnya ke suatu tempat.


//


Bang Arma bersandar di sofa ruang kerjanya sambil memejamkan mata usai menyelesaikan kegiatan menembak. Rasa lelahnya kian terasa kala rasa rindunya pada Rhena tak pernah surut menekan batin.


Entah sudah berapa batang rokok di hisapnya tapi tak kunjung meredakan apa yang tengah ia rasakan.


"Ijin ibu, selamat siang." Sapa beberapa orang anggota.


"Selamat siang. Dimana ruang Danki??" Tanya Rhena.


"Ijin ibu, itu yang pintunya terbuka. Jawab salah seorang anggota.


Rhena berjalan cepat menuju ruang Danki membawa amarahnya.


Plaaakk..


Rhena melempar selembar kertas dan sebuah benda yang sempat menghantam wajah Bang Arma.


"Baca..!!!! Puas kau sekarang Pak Danki????" Bentak Rhena.


"Ada apa dek?" Bang Arma membuka kertas tersebut, tertulis kata 'POSITIF', Ia pun membuka amplop kecil dan di dalamnya ada sebatang benda tipis dan kecil bergaris dua tanda merah.


"Aku ingin melapor pada atasanmu tapi kenyataannya kau adalah komandannya. Aku harus bagaimana???"


"Ka_mu hamil dek??" Tanya Bang Arma dengan mata berkaca-kaca."

__ADS_1


"Kenapa?? Tidak mau mengakui hasil perbuatanmu?? Mau menuduh siapa?? Bang Ojaz??? Atau Bang Musa???" Pekik Rhena.


"Iyaa.. iyaaa.. Abang ngaku itu anak Abang. Sabar ya, kita bicara baik-baik..!!" Ajak Bang Arma tidak mungkin meninggikan suara menghadapi bumilnya yang sedang emosional.


"Rhena nggak mau bicara sama Abang. Rhena nggak mau anak ini..!!!!" Begitu kesalnya Rhena sampai memukul perutnya dan ingin membuang calon anaknya. "Siapa yang akan menanggungnya. Rhena sudah benci dengan hidup Rhena."


Mengingat peristiwa yang lalu, Bang Arma segera mendekap Rhena. "Jangan begitu dek. Jelas Abang yang akan menanggungnya. Jangan pernah sakiti dia. Terimalah dia dengan ikhlas, mungkin inilah cara Tuhan mendekatkan kita..!!"


"Nggak mauuu..!!"


Bang Ojaz yang menerima laporan terkait Bang Arma yang sedang di labrak seorang wanita langsung mendatangi tempat kejadian perkara. Setengah mati Bang Ojaz terkejut karena perempuan tersebut adalah Rhena.


"Ya ampun Ar, jadi yang hamil Rhena??? Ini hamil sama kamu Ar??" Pertanyaan bodoh Bang Ojaz.


"T*i betul pertanyaanmu itu..!!" Bentak Bang Arma sembari terus mendekap Rhena yang terus meronta.


Rhena yang kalap langsung mencabut sangkur dan mengarahkan pada perutnya tapi Bang Arma mengubah arah sangkur tersebut hingga menghujam dadanya. Setengah mati Rhena terkejut.


"Abaang..!!"


"Abang harus bagaimana lagi sayang? Apa darah ini masih kurang?" Tanya Bang Arma kemudian mengusap air mata Rhena. "Kamu tau Abang tidak akan mengijinkan kamu menyakiti dia. Sakiti aku, aku tidak apa-apa." Bang Arma mengecup kening Rhena.


"Dankiiii.." Prada Erky hendak menolong Dankinya yang sudah merosot bersama Rhena namun Bang Arma mencegahnya.


Perasaan Rhena menjadi tak karuan. "Kenapa Bang, kenapa Abang membuatku jatuh cinta hingga rasanya tidak punya pilihan. Aku tidak mungkin mengkhianati ayahku." Sedetik kemudian Rhena tak sadarkan diri.


Bang Ojaz terpaku, pantas saja sahabatnya itu terkesan tidak ingin bertemu dengan Rhena, ternyata pada kenyataannya Bang Arma sudah bertemu dengan Rhena sampai terjadi kehamilan tidak di sengaja ini.


...


Bang Arma terdiam, pandangan matanya kosong menemani Rhena yang tidak kunjung sadar juga. Ia pun mendapatkan dua jahitan di dada sebelah kiri.


Di luar Bang Ojaz sudah berusaha menjelaskan duduk perkara pada Bang Musa yang agaknya pun terlihat emosi mengetahui kenyataan pahit ini.


"Bagian mana yang salah Sa. Rhena masih sah istri Kapten Arma. Mereka tidak pernah bercerai." Kata Bang Ojaz.


Bang Musa juga duduk menenangkan batin berusaha menerima kenyataan pahit ini. Pantas Rhena selalu menolaknya dengan berbagai alasan, ternyata masih ada hati yang ia simpan di dalam hatinya dan yang paling parah adalah, Rhena bukanlah seorang janda.


"Sudah selesai Pak.." kata seorang perawat pria usai menjahit luka di dada Bang Arma.


"Bagaimana keadaan istri saya??" Tanya Bang Arma. "Apa kandungannya bermasalah?"


"Tidak Pak, sejauh ini aman terkendali."


"Alhamdulillah." Ucap syukur terlepas dari bibir Bang Arma. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada berita yang di dengarnya kini.

__ADS_1


...


Malam tiba dan akhirnya Rhena terbangun dari tidurnya. Ia melihat Bang Arma setia menemaninya sampai tertidur di kursi.


"Bang..!!"


Mendengar suara Rhena, Bang Arma langsung terbangun.


"Iya dek. Kenapa? Ada yang sakit?"


"Rhena lapar." Jawab Rhena.


"Mau makan apa?"


Rhena memalingkan wajahnya. "Apa saja, tapi di suapin Abang."


Hati Bang Arma sungguh bahagia, Rhena sudah mau berinteraksi dengannya lagi. Rasa harunya begitu terasa.


"Ya sudah, sebentar ya..!! Abang beli dulu makannya." Kata Bang Arma.


"Abang disini saja, yang di perut nggak mau di tinggal." Kata Rhena.


Memang beberapa hari ini Rhena tak hentinya terus memikirkan Bang Arma, semua tentang Bang Arma dan dirinya baru menyadari ternyata apa yang dirasakannya mungkin adalah proses dari mengidam.


"Oohh gitu ya." Bang Arma mengambil ponsel dan menghubungi Prada Erky.


~


Prada Erky terus memperhatikan raut wajah Rhena dari pintu kamar rawat. Ia terus menerka, siapa wanita yang siang tadi membuat keributan di ruangan Danki karena mengaku dirinya sedang hamil.


Saat itu Bang Musa menerobos masuk ke dalam kamar tanpa bisa di cegahnya saat Bang Arma sedang mengambil uang ke ATM di dekat gerbang rumah sakit.


"Jadi ini alasanmu selalu menolak lamaranku? Aku mencintai istri seniorku sendiri." Ucap sesak Bang Musa. "Dua tahun lebih aku menunggumu dalam ketidak pastian. Apa kau tau bagaimana perasaanku saat ini Rhen?"


Bang Arma yang sudah tiba langsung berdiri melindungi Rhena yang sudah terlihat ketakutan dan tertekan.


"Selesaikan urusan ini dengan saya. Satu hal yang harus kamu tau, Rhena hamil anak saya Sa." Ucap Bang Arma karena Bang Ojaz belum menjelaskan bahwa Rhena sedang mengandung.


Bang Musa terpaku mendengarnya bagai mendapat serangan jantung dengan cara seperti ini harus kehilangan Rhena.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2