
Rhena menangis menatap Bang Arma yang menggelinjang kesakitan. Deru nafasnya nyaris putus. Ia terus merangkak seperti seekor anj*ng yang menurut pada tuannya, mengejar benda haram di tangan Zarnet.
Sesekali Bang Arma berhenti merangkak saat rasa sakit yang begitu dahsyat kembali menyerangnya. Wajahnya sudah pucat. Sesakit apapun hati Rhena tapi saat melihat keadaan Bang Arma yang sedang berada dalam kesulitan juga membuat hatinya tak tega.
Rhena menangis tak mampu membendung air mata. Sedikit banyak dirinya memahami bahwa yang terjadi pada Bang Arma saat ini bukanlah kesalahannya seorang diri, ia menepis sakit hatinya tentang apa yang baru saja di lihatnya, ia menekankan dalam hatinya bahwa tidak mungkin seorang Armayudha akan meruntuhkan harga diri dan mengkhianati dirinya untuk menduakannya. Rhena berjalan kemudian memeluk Bang Arma yang sedang dalam masa 'kritis'.
"Sabar ya Bang, Rhena pasti bantu Abang. Abang harus sembuh." Ucapnya pada Bang Arma yang meronta-ronta tak tahan dengan rasa sakitnya.
"Jangan sentuh aku b****t..!!!!" Bang Arma berteriak dalam keadaan 'tidak sadar'. Ingatan Bang Arma hilang timbul, dirinya sampai mendorong Rhena karena sedang di kuasai obat haram.
"Bang.. ini Rhena.."
Zarnet tersenyum puas, apalagi saat Rhena berusaha keras memeluk Bang Arma tapi pria itu malah menampar sampai menendang Rhena. Secepatnya Zarnet menyuntikan sesuatu di lipatan siku Bang Arma.
Rhena memercing meremas perutnya. Ia mengatur nafas.
"Suamimu harus melihatmu hancur karena dia sudah menolakku, seumur hidup tidak ada pria yang berani menolakku." Ucap Zarnet setelah memberikan penawar dosis kecil agar Bang Arma bisa melihat Rhena menjadi santapan buas bodyguard Zarnet.
Tak lama keadaan Bang Arma sedikit membaik tapi kemudian ada tiga pria masuk ke dalam ruang milik Zarnet. Dua bodyguard mengenali Bang Arma, sedangkan satu orang pria lagi tidak mengenal Bang Arma. Pria tersebut bersiap mengeksekusi Rhena.
"Jangan..!!" Cegah salah seorang bodyguard.
Bodyguard seorang lagi juga ikut mencegah.
"Kenapa?? Meskipun perempuan ini sedang hamil tapi kita masih bisa memakainya." Kata seorang bodyguard yang tidak mengenal Bang Arma.
"Kau boleh lakukan jika bukan istri Pak Arma."
"Lakukan sekarang..!!!!" Bentak Zarnet.
Kedua bodyguard tetap mencegah hingga akhirnya Zarnet marah dan memanggil anggotanya yang lain. Kedua bodyguard tersebut merasa banyak berhutang Budi pada seorang Armayudha karena kebaikan hatinya. Pria tersebut sering membantu keluarganya hingga rasanya nyawa pun tak sanggup menggantinya.
Bang Arma ingin sekali bangkit tapi tubuhnya serasa lemas untuk di gerakkan, tepat saat itu.. bodyguard suruhan Zarnet menyeret Rhena ke sudut ruangan.
"Jangan sentuh istriku..!!" Ucap Bang Arma kehabisan tenaga.
"Jangaaaan..!!!!" Suara Rhena melengking berteriak dan memberontak. Kakinya menendang kesana kemari.
"B******n..!!!!" Sekuat tenaga Bang Arma berusaha menyelamatkan Rhena yang sedang berada dalam kungkungan pria lain.
buuugghhh...
"Aaaaaaaaaaaaaaa...." Teriakan Rhena terasa menyayat hati Bang Arma.
Jantung Bang Arma terasa remuk, batinnya seketika hancur saat pria tersebut melakukan hal tak senonoh pada Rhena di depan matanya.
"Aarr..!!!!" Saat itu Bang Ojaz, Bang Musa dan Prada Erky baru tiba di lokasi. Mereka pun melihat kejadian naas yang terjadi pada Rhena sampai memalingkan wajahnya dan segera menangani Bang Arma yang saat itu bisa membunuh orang sekali tebas jika tidak di amankan. Amarah Kapten Arma begitu sulit untuk di kendalikan.
"Musa, tolong lindungi Arma, bawa ke mobil..!!" Perintah Bang Ojaz. "Percayalah, apa yang akan saya lakukan hanya untuk melindungi Rhena, tidak ada yang lain."
Bang Ojaz segera menutup tubuh Rhena. "Rhena, jangan takut.. saya hanya membantumu..!!" Ada rasa cemas juga dalam hati Bang Ojaz sebab banyak darah segar mengalir di sela paha Rhena.
"Baaang..!! Rhenaaa..!!" Tangan Rhena mencengkram erat lengan Bang Ojaz. "Sakiiitt, rasanya Rhena mau melahirkan Baaang..!!"
:
Bang Arma begitu syok, rasa sakitnya perlahan memudar saat Bang Ojaz memberikan penawarnya tapi keadaan Rhena membuatnya benar-benar terpukul. Berkali-kali Bang Arma tak sadarkan diri.
"Bagaimana ini Bang, Bang Arma pingsan lagi. "
"Sebentar, saya bantu Rhena." Ucapnya tanpa menyadari banyaknya panggilan telepon dari Rika. "Cepat lajukan mobilnya Ky..!!" Perintah Bang Ojaz.
__ADS_1
Bang Ojaz panik saat Rhena mulai mengejan. Hatinya gelisah memikirkan istri sahabatnya itu.
"Aaaaaaaaaaa.." tanpa sadar Rhena meremas kuat tangan Bang Ojaz.
"Aaahh sudahlah, mau Arma membunuhku itu urusan nanti. Yang penting Rhena selamat dulu..!!" Gumam Bang Ojaz. "Maaf beribu maaf ya Rhen..!!" Bang Ojaz mengangkat rok Rhena dan Bang Musa memilih berbalik badan.
:
"Sekali lagi Rhen..!!" Bang Ojaz yang pernah merasakan pengalaman persalinan Rika sudah jelas paham prosesnya. Ingin mengalihkan pandangan tapi dirinya harus mengawasi. "Jangan di angkat pinggulnya..!!" Bang Ojaz menekan pinggang Rhena.
Saat Rhena masih berjuang, Bang Arma tersadar dan melihat semuanya tapi kali ini ia menyimpan segala rasa di lubuk hatinya yang terdalam.
"Baang..!!" Tangan Rhena berusaha menggapai Bang Arma dan Bang Arma menyambutnya.
Bang Ojaz sadar diri dan segera beralih posisi. Ia bergeser tempat agar sahabatnya itu bisa membantu sang istri.
"Sudah waktunya Ar..!!"
Benar saja, tak menunggu lama bayi yang sudah lama di nantikan Bang Arma terlahir ke dunia. Bayi perempuan cantik.
Air mata Bang Arma mengalir menganak sungai, ia menghujani bayi mungilnya dengan banyak ciuman kemudian mengecup kening dan bibir Rhena, tanpa kata. Ingin banyak berucap namun bibirnya terasa kelu.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit.
...
"Kamu baru datang Jaz?" Sapa dokter senior.
"Ada apa Bang?" Bang Ojaz menyembunyikan tangannya yang masih berlumuran darah.
"Kami pihak tenaga medis sudah berusaha keras Jaz, tapi istrimu... Kembali menghadap Yang Maha Kuasa. Kami turut berdukacita.. Kapten Rojaz."
Bang Rojaz bersandar tanpa kata. Dunianya terasa tergulung, terombang-ambing tak tentu arah.
Bang Arma meletakan sebuah kertas di dalam dompetnya usai mandi dan berwudhu. Ia ingin berada dalam keadaan suci saat mengadzani putri tercintanya.
Ia menghampiri Rhena yang tertidur usai persalinan.
"Sayang, terima kasih hadiah terindah yang pernah kamu berikan untukku. Kamu cantik, bidadariku yang terindah. Kelak.. aku akan menunggumu di atas sana, tapi jika kamu tidak berkenan bersamaku lagi. Bahagialah kamu bersama pengganti diriku. Abang ikhlas, Abang Ridho sayang." Bang Arma mengecup bibir Rhena. "Abang akan selalu mencintaimu.
:
Lantunan itu begitu terdengar indah berurai air mata. Usai melantunkan adzan Bang Arma memeluk putri kecilnya.
"Sayangku Wening Kinantan Nilakantri. Saya malu berhadapan denganmu tapi dunia pun mengetahui bahwa saya adalah Papamu. Kinan sayangku.. Maafkan Papamu ini jika nanti Papa tidak bisa melihat tumbuh kembangmu juga mendampingi Abang Ghema, tapi kamu harus tau.. Papa sangat menyayangimu dan Abang melebihi apapun." Bang Arma mendekatkan hidungnya pada sang putri. Di hujaninya lagi ciuman sayang seorang Papa untuk putrinya. "Kelak, bahagialah kamu bersama pria pilihanmu. Jangan mencari pria yang tidak bertanggung jawab seperti Papa. Obat itu sudah merusak ginjal dan jantung Papa hingga menyusahkan banyak orang nak."
Tangis itu tak bisa di bendungnya. Bang Arma meremas dadanya tak sanggup menahan kepedihan. Ia pun segera melakukan sholat taubat.
Usai sholat Bang Arma kembali menggendong baby Kinan.
"Sayangnya Papa Arma. Jangan banyak nangis ya nak. Papa sayang Kinan."
~
Bang Musa di sibukkan dengan urusan meninggalkan istri Kapten Rojaz, ia sempat melihat Bang Arma yang kurang lebih satu jam lamanya terus menggendong putri kecilnya.
"Ijin Dan, kenapa posisi menggendongnya begitu ya?" Tanya Prada Erky.
"Maksudmu??"
Prada Erky menerobos masuk ke kamar bayi. "Dan.. ijin..!!" Sapanya. "Dan..!!!" Sapanya sekali lagi.
__ADS_1
Bang Musa perlahan mengambil bayi mungil dari gendongan Bang Arma, saat itu tangan Bang Arma langsung terkulai lemas.
"Danki....!!!!" Prada Erky menggoyang lengan Bang Arma dan Kapten Arma langsung jatuh ambruk di lantai.
Bang Musa terkejut dan langsung menidurkan baby Kinan di box bayi.
"Bang.. Abang kenapa?? Jangan buat saya takut Bang..!!"
Prada Erky memeriksa jalan nafas Bang Arma.
"Danton.. Danki.....!!!!!!"
***
Tengah malam buta. Kabar duka menyelimuti Kompi penyerang. Kapten Lanang Armayudha telah menghembuskan nafas terakhirnya.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
Next extra part
.
.
.
.
Terima kasih banyak atas segala dukungan. Maaf untuk penyelesaian yang terkesan sangat cepat.π.
.
.
.
.
Judul selanjutnya akan di alihkan di akun Bojone_Batman. Esok hariπ.
.
.
.
__ADS_1
.