Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
37. Si paling rewel.


__ADS_3

Bang Musa menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Tenaganya habis, tak sanggup berpikir lagi. Sungguh hal paling menyakitkan dalam hidupnya adalah kehilangan wanita yang ia sayangi dan ia jaga sepenuh hati.


//


Dengan telaten Bang Arma menyuapi Rhena. Samar dirinya pernah merasakan mual dan membuatnya pontang panting. Ia terus berusaha menyuapi Rhena sebelum mual membuat calon bayinya tidak mendapatkan nutrisi dan akhirnya setelah satu jam lamanya makan malam Rhena habis juga.


***


"Akhirnya Bibi tau siapa suami ibu Rhena. Bibi merawat ibu sejak Bang Ghema di dalam kandungan. Ibu sering menangis, mengigau merindukan bapak." Kata Bibi.


"Saya memang suami yang tidak bertanggung jawab Bi, saya sudah membiarkan istri saya dalam kesulitan sendirian." Ucap Bang Arma penuh rasa sesal sambil menggendong Ghema. "Sekarang Rhena hamil adiknya Ghema. Saya berharap Rhena juga bibi bersedia tinggal bersama saya sebab saya tidak mungkin untuk hidup berjauhan lagi dengan Rhena, resikonya terlalu besar Bi. Saya takut Rhena tiba-tiba membuang calon anak kami atau mungkin kabur dari saya lagi."


"Sebenarnya saya lebih nyaman tinggal di lapak loundry karena disana banyak teman perantauan yang senasib dengan bibi. Silakan bapak bawa ibu, biar saya rawat rumah seperti biasanya." Tolak Bibi.


...


Rhena lebih banyak tidur karena setiap istri Kapten Arma itu terbangun selalu merasakan mual. Lebih parah lagi saat Bang Arma tidak ada di tempat sedikit saja rasa mual Rhena seketika menyerang seperti siang ini.


"Hhhkkkk.."


Bibi kewalahan merawat Rhena apalagi Ghema yang aktif sudah berlarian kesana kemari mencari tau tentang hal baru di kamar VIP rumah sakit.


"Abang dimana Biii.."


"Tadi pamit ke kompi dulu Bu. Ada pekerjaan yang belum selesai." Jawab Bibi.


"Hhhkkkkkk.." Rhena memilih berlari ke toilet karena kerongkongannya sudah terasa penuh, tak sadar saat itu jarum infus terlepas.


Mual Rhena semakin menjadi dan Bibi tidak sanggup mengatasi mualnya Rhena.


Bibi hendak mencari bantuan tapi saat itu Bang Arma datang dan melihat Rhena begitu tersiksa dengan mualnya.


"Bibi tolong jaga Ghema, saya urus Rhena."


Ajaib saat melihat Bang Arma mual Rhena mendadak hilang total. Tubuhnya perlahan segar seperti tidak terjadi apapun.


"Duuuhh.. manjanya anak Papa. Papa khan kerja nak." Bang Arma mengangkat tubuh Rhena untuk pindah ke ranjang dan tanpa disadari mata Rhena terus menatap paras wajah tampan Bang Arma. "Nanti ikut Papa pulang ya nak..!!" Ajak Bang Arma.


"Nggak mau." Tolak Rhena.


"Apa sekarang ada pilihan lain? Jauh dari Abang saja kamu mual."


Rhena diam memalingkan wajahnya, ia malas mengakui hal itu meskipun memang benar adanya bahwa kehamilannya kali ini tidak ingin jauh dari ayah si jabang bayi.

__ADS_1


Perut Bang Arma tiba-tiba melilit, ia berjalan menuju toilet tapi sudah terdengar suara Rhena kembali mual. Akhirnya Bang Arma kembali menghampiri Rhena lagi.


"Ampun dah. Papa mau ke toilet sebentar nak. Adek jangan nakal ya..!!" Bang Arma mencium perut Rhena dan barulah mual Rhena mereda.


'Kalau begini caranya bagaimana aku bisa kerja. Susah sekali di tinggal. Masa iya aku makan gaji buta.'


"Baaaaang..!!!"


"Ampun dah Neng, baru juga buka celana." Teriak Rhena dari dalam toilet.


...


Bang Arma terpaksa mengalihkan rapat dan pekerjaan di kamar rawat Rhena. Para anggota lumayan tidak enak hati bersuara keras tapi ternyata Rhena malah bisa tidur nyenyak asalkan matanya melihat Bang Arma ada di sampingnya.


"Maaf rapatnya saya alihkan ke sini. Istri lagi manja." Kata Bang Arma.


Bang Musa sekilas melirik Rhena yang sedang tidur pulas seolah tidak terganggu masalah apapun.


"Danton.. bagaimana dengan persiapan kegiatan latihan. Ada kendala?" Tanya Bang Arma menyapa Bang Musa.


"Ijin Danki, sejauh ini tidak ada kendala hanya tenda kita saja yang kurang. Pada kesempatan yang lalu Batalyon pernah meminjam tenda tapi belum di kembalikan." Jawab Bang Arma.


"Nanti saya tanyakan Kapten Rojaz, beliau yang pegang perbendaharaan Batalyon khan?"


"Bisa sakit juga dia ya." Gumam Bang Arma. "Oke, nanti saya sendiri yang hubungi."


"Abaaaang..!!!" Rhena terbangun dan meraba-raba sekitarnya. Hampir saja tangan Rhena menyentuh tongkat sakti milik Bang Arma dan hal itu membuat Pak Danki langsung salah tingkah. "Usap perut..!!" Rengeknya manja.


"Duuhh.. ampuuun bener dah satu ini." Gumam Bang Arma dengan wajah merah padam menahan malu.


"Mohon maaf rekan semua. Istri saya sedang tidak bisa mengontrol manjanya. Kalau di tinggal mual." Kata Bang Arma sedikit memberi penjelasan.


"Siap.. Kami paham Dan. Dulu istri saya juga manja begini. Tak taunya saat lahir ternyata bayi perempuan. Mau bagaimana lagi. Memang si adek sedang manja." Kata salah seorang anggota.


"Terima kasih rekan sekalian sudah mau mengerti. Maaf gara-gara satu perkara semuanya ikut repot."


"Siappp.. tidak masalah Danki."


...


Rhena menangis terisak karena saat bangun tidak mendapati Bang Arma di sampingnya. Rasa mual kembali menyerangnya saat tidak melihat Bang Arma di sampingnya.


Terdengar suara Bang Arma sedang berbicara dengan seseorang di luar kamar rawat Rhena.

__ADS_1


"Paham atau tidak??? Cari bau cat yang lembut..!! Warna semua soft..!!!" Perintah Bang Arma.


"Baaang..!! Jangan teriak..!!"


"Ehmm.. cari yang warnanya kalem ya, pink nggak apa-apa." Ucap Bang Arma mengurangi intonasi suaranya hingga selembut mungkin nyaris tak terdengar.


"Siiaaaapp..!!"


plaaakk..


Bang Arma menepak topi Prada Erky. "Pelankan suaramu..!! Istri saya sensitif..!!"


"Siaap..!!"


"Baaang..!!" Panggil Rhena lagi.


Bang Arma menggaruk kepalanya merasakan wibawanya kabur entah kemana. "Iiyaa sayang.. ini Abang jalan..!!"


"Cepat laksanakan..!!" Perintahnya sebelum masuk ke kamar rawat.


~


Bang Arma membuka lengannya bertelanjang dada karena Rhena bersembunyi di balik ketiaknya. Benar-benar total dirinya tidak bisa beraktivitas, ngidamnya Rhena sungguh luar biasa merepotkan. Jika sedikit saja batang hidungnya tidak nampak maka mualnya Rhena yang akan di dapatnya.


tok.. tok.. tok..


"Ijin Bang..!!" Suara Bang Musa mengetuk pintu.


"Masuk..!!" Bang Arma menutup tubuh Rhena.


Bang Musa menyiapkan hati dan mental melihat posisi Rhena yang tengah memeluk Bang Arma dengan mesranya. Posisi tidak nyaman untuk di pandang meskipun Bang Arma sudah menutupnya dengan selembar selimut.


"Maaf Sa. Rhena lagi rewel."


"Siap.. nggak apa-apa Bang." Jawabnya meskipun di dalam hatinya merasakan panas terbakar cemburu. "Ijin.. saya minta tanda tangan Abang."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2