Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
27. Patah hati.


__ADS_3

Bang Arma mengalah karena Rhena tidak ingin dekat dengannya. Ia memilih menunggu Rhena di luar kamar bersama beberapa anggota lain.


Urusannya dengan Rhena lebih membuatnya gelisah di bandingkan dengan teguran keras dari Danyon. Rasanya tidak enak makan, tidak enak tidur, setiap detiknya terus saja di liputi rasa gelisah.


***


Malam berganti menjadi pagi perlahan kantuk menguasai diri Bang Arma hingga akhirnya tertidur pulas karena merasa sangat lelah.


Seorang perawat membangunkan Bang Arma di pukul empat pagi. Tiga puluh menit saja, hanya tiga puluh menit saja.


"Selamat pagi Pak. Mohon ijin.. ibu ada dimana?"


"Bukannya ada di dalam?" Jawab Bang Arma.


"Ijin, tidak ada Pak." Jawab seorang anggota perawat pria.


Mendengar laporan dari perawat tersebut, Bang Arma bergegas mencari Rhena dan benar saja, Rhena tidak ada di tempat. Di atas ranjang, Bang Arma hanya menemukan secarik kertas.


'ARMAYUDHA.. ANAK INI SUDAH TIDAK ADA LAGI, AKU SUDAH MENGGUGURKAN NYA. MULAI DARI INI KITA HIDUP MASING - MASING.'


Bang Arma begitu terpukul melihat botol kecil yang menindih


:


Bang Arma menghajar seluruh anggota yang saat itu berjaga bersamanya. Waktu yang tidak bisa di bilang lama tapi dirinya sudah kehilangan jejak Rhena. Laporan dari anggota piket rumah sakit juga tidak bisa menemukan jejak Rhena.


"Siap salah Dan..!!"


"Kalian ini ada empat orang. Kenapa tidak bergantian jaga??? B**oh kalian semua..!!!!!!" Bang Arma kembali menghajar anggotanya satu persatu.


Tiba-tiba nafas Bang Arma terasa sesak, Bang Ojaz yang memang selalu ada disana mendekap lengannya.


"Kenapa pot?"


"Dadaku sesak, aku mual." Bang Arma berlari menuju toilet. Terdengar suara Bang Arma yang begitu tersiksa menguras isi perutnya.

__ADS_1


Bang Ojaz menyusul kemudian memijat tengkuk sahabatnya. "Ada yang bawa minyak angin nggak?" Tanya Bang Ojaz pada anggotanya.


"Siaap.. saya bawa Dan." Jawab seorang anggota.


Bang Ojaz mengulurkan tangan untuk menerimanya namun sesaat sebelum minyak angin itu sampai ke tangannya. Bang Arma sudah gemetar.


"Jaaazz, aku.... Nggak kuat..!!"


bruuugghhh..


"Armaaaa..!!!!"


~


Bang Ojaz melonggarkan ikat pinggang Bang Arma agar jalan nafasnya lega. Mual dan muntah sejadi-jadinya membuat tenaga sahabatnya itu habis bak mayat hidup. Hanya lelehan air mata berderai mengungkapkan rasa bahwa kehilangan adalah hal yang teramat menyakitkan.


Di dalam hati memang masih tersimpan nama Rhena tapi manusia tidak bisa menentukan kemana arah cinta akan berlabuh. Hanya Arma yang berhak memiliki cinta itu. Pria yang sah dan telah menghalalkan Rhena langsung di hadapan Tuhan.


"Rhenaaa.. pulang sayang..!!" Rintih lirih Bang Arma.


"Ada apa ini Anin? Apa Arma sakit parah?" Tanya Bang Ojaz tak tega juga melihat keadaan sahabatnya kesakitan.


Tak lama berselang Pak Sadewa tiba di temani Bang Renash yang memang menantunya. Beliau menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan melihat keadaan Letnan Arma yang lemah tanpa daya. Kali ini beliau memang langsung datang karena mendapatkan pengajuan kasus namun beliau ingin menemui Bang Arma sebagai seorang ayah.


"Selamat Pagi komandan..!!" Sapa seisi ruangan.


"Selamat pagi. Sudah.. tidak usah formal. Kenapa Arma belum sadar? Bagaimana kondisinya?" Tanya Pak Sadewa.


"Ijin Dan. Letnan Arma masih begitu terpukul. Mungkin komandan sudah mendengar kasusnya. Sekarang kondisinya drop, dehidrasi karena mual." Jawab Bang Muksin.


Pak Sadewa mengusap kening Bang Arma, wajah pria itu memang sangat pucat. "Bagaimana bisa kecolongan sampai dapat musibah seperti ini? Ini bukan perkara kecil."


Pak Sadewa menatap Bang Ojaz, salah satu pria penyebab masalah ini terjadi. Ia pun beralih merangkul junior menantunya. "Sebenarnya ada apa sama kamu Letnan Rojaz. Kamu tau salah satu sikap tentara harus berbudi luhur dan menjaga harga diri. Jika sudah sadar hal tersebut adalah suatu kesalahan, kenapa masih di lanjutkan??" Tegur Pak Sadewa.


"Siap salah." Mata Bang Ojaz berkata-kata.

__ADS_1


Pak Sadewa memeluknya, raut wajah Letnan Rojaz sudah menunjukkan bahwa pria tersebut sudah penuh dengan tekanan Bang Ojaz pun membalasnya dengan pelukan erat. Air mata ia tumpahkan bagai mengadukan lelahnya hati pada ayah sendiri. "Tolong percaya saya Dan, saya sangat menyesalkan perbuatan saya. Harga diri saya di pertaruhkan."


Pak Sadewa menepuk bahu Bang Rojaz. "Janda muda di pengkolan itu sudah tidak ada. Ada pesan dari Ibu Sadewo.. jika kamu berkenan, maukah saya lamarkan seorang wanita? Buy one get one, mungkin dia bukan yang kamu inginkan, tapi dia wanita yang kamu butuhkan." Pak Dewa melepas pelukannya dan mengambil foto dari sakunya. "Maaf tidak saya simpan di dompet, takut ibu negara ngamuk." Sindir Pak Dewa agar Bang Ojaz lebih menyadari kesalahannya lalu menyerahkan pada Bang Ojaz.


"Siap salah." Bang Rojaz pun menerimanya. Matanya terpejam sejenak lalu menatap foto tersebut. Senyumnya tersungging tipis. "Bismillahirrahmanirrahim.. Mohon ijin bantuannya Dan."


"Baiklah kalau begitu, tapi jangan di buat nangis ya Jaz..!!!" Ancam Pak Dewa.


"Siaap.. tidak berani Komandan..!!"


...


Siang hari ini Pak Dewa masih ada di kamar rawat Bang Arma. Suami Rhena itu sudah sadar tapi pandangannya kosong. Raganya ada disana tapi tidak dengan hatinya yang berkelana entah kemana.


"Arma, kamu mau bicara sama saya?" Bujuk Pak Dewa.


Bang Arma masih diam seribu bahasa. Satu kedipan mata meruntuhkan cairan bening dari tepi bingkai matanya.


"Ada yang sakit?" Tanya Pak Dewa.


"Mohon ijin komandan. Tolong cabut nyawa saya sekarang juga..!!" Pinta Bang Arma merasakan hidupnya hancur lebur tanpa Rhena dan calon bayinya yang telah tiada.


//


"Alhamdulillah si jabang bayi baik-baik saja. Emak sampai khawatir." kata seorang ibu setengah baya. Semalam beliau menemukan seorang wanita tergeletak di depan gubug reyotnya di kaki gunung.


"Tolong hilangkan dia Mak..!!" Rhena terisak mendengarnya.


"Ada apa? Apa ayahnya tidak menginginkan dia?" tanya Emak.


"Ayahnya sangat menginginkan dia, tapi saya tidak bisa memaafkan kesalahan ayahnya." jawab Rhena.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2