
Naik konflik. Harap kebijakan dalam membaca. Tolong sinkronkan hati dan jari agar tidak saling melukai..!!!!
🌹🌹🌹
Rasa bahagia jelas terpancar nyata dari wajah Rhena. Selain bermalam di tempat yang sangat mengasyikan, suaminya itu selalu menuruti apapun yang menjadi keinginannya.
"Rhena mau beli pot yang ada strawberry nya itu ya Bang..!!" Tunjuk Rhena pada hamparan pot tanaman buah dan salah satunya adalah tanaman strawberry.
"Ambil saja." Meskipun harus merogoh kocek yang dalam untuk satu malam kemarin tapi hatinya ikut merasa bahagia melihat Rhena bahagia.
Kemarin adalah hari yang panjang dan melelahkan dimana Bang Arma harus berjuang keras melawan apapun yang ia rasakan demi Rhena dan harus berpura-pura bersikap seperti biasanya seakan tidak pernah terjadi apapun.
Pandangan mata Arma nyaris kabur tapi dengan teknik olah nafas yang baik, Bang Arma mampu mengendalikan diri.
"Sudah Bang. Kita pulang yuk..!!"
"Sudah puas?" Tanya Bang Arma.
Rhena mengangguk dengan senyumnya dan kemudian mereka berdua pulang ke rumah.
\=\=\=
Tujuh bulan kemudian.
Entah untuk keberapa kalinya Rhena menemukan bungkusan kecil dengan serbuk warna putih di dalamnya. Terkadang Rhena menemukan bungkusan rokok yang wujudnya tidak sewajarnya.
"Ini apa sih?" Rhena membuka lalu akan menghirupnya tapi Bang Arma menepak tangan Rhena hingga serbuknya tercecer.
"Kenapa kamu lancang pegang barang Abang?" Tanya Bang Arma saat itu. Sekitar bola matanya merah seperti orang mabuk. Tangannya menyambar bungkusan plastik tersebut.
"Itu apa Bang? Rhena sering dapat di pakaian Abang, di sela tempat tidur juga di rokok Abang." Kian hari Rhena semakin penasaran.
"Bukan urusanmu, jadilah istri yang baik dan jangan terlalu banyak ikut campur urusan Abang..!!"
Ucap Bang Arma jelas menyakiti hati Rhena, belum pernah sekalipun ia mendengar ucap kasar dan kaku seperti itu dari mulut Bang Arma.
"Apakah istri tidak berhak tau tentang suaminya??" Mata Rhena mulai berkaca-kaca. Ia tak tau kenapa Bang Arma tiba-tiba berubah.
__ADS_1
Bang Arma tidak menggubris, matanya hanya melirik isi dari bungkusan yang sudah tercecer tanpa sisa di lantai. Ia pun segera pergi meninggalkan Rhena yang menangis di dekat tempat mesin ruang mencuci pakaian.
Mata Rhena pun melirik langkah Bang Arma yang sempoyongan tak karuan.
:
Bang Arma mengusap wajahnya, ada rasa sesal sudah bersikap kasar pada Rhena tapi dirinya juga tidak bisa mengontrol keadaan karena saat ini dirinya membutuhkan barang tersebut agar bisa stabil.
"Zarnet.. saya butuh barang itu..!!" Pinta Bang Arma pada sambungan telepon. Usai menghubungi Zarnet, Bang Arma membanting ponselnya hingga pecah.
Sepanjang jalan hatinya gelisah tapi Bang Arma juga tidak mau kalau keadaannya akan melukai Rhena dan calon bayinya yang akan segera terlahir ke dunia. Usia kandungan Rhena kini sudah nyaris memasuki usia sembilan bulan.
Saking tidak kuatnya menahan beban di dalam hati, Bang Arma menepikan mobilnya dan mencoba untuk tenang. Selama ini batinnya sungguh tertekan, bukan hal mudah untuk tetap berusaha sadar dalam jerat barang haram tersebut namun kehilangan Rhena saat itu juga membuat batinnya terpuruk dan berada di dalam titik paling rendah dalam hidupnya. Air matanya mengalir penuh sesal.
"Maafin Abang ya dek. Tidak ada sedikitpun niat Abang menyakitimu, Abang memang suami yang tidak berguna. Masih adakah maaf untukku nanti.. jika kamu tau pria ini adalah seorang pecandu?"
...
Zarnet memainkan bungkusan kecil di tangannya dan hal itu membuat Bang Arma semakin frustasi, ia sangat membutuhkan obat tersebut.
"Barang ini tidak gratis. Aku mau jadi pacarmu." Kata Zarnet.
"Kalau begitu aku mau merasakan tubuhmu, tubuh gagah seorang tentara, aku belum pernah coba." Pinta Zarnet bernada manja. "Empat tahun kita kenal, masa sedikitpun kamu tidak tertarik padaku Ar?" Tangan Zarnet sudah merajalela bermain di sekitar tubuh Bang Arma. Wanita itu pun sudah membuka pakaiannya di depan Bang Arma.
Bang Arma mengalihkan pandangannya. "Kenal bukan berarti ada rasa, aku hanya tergoda dengan tubuh istriku dan tidak peduli dengan lekuk tubuh wanita lain."
"Kau munafik Ar, aku tau kau tertarik dengan tubuhku." Kata Zarnet karena dirinya tau betul bagian tubuh Bang Arma sudah menegang.
"Aku laki-laki normal, tapi pikiranku juga normal dan waras. Aku tidak akan melegakan diriku hanya untuk waktu lima belas menit menjajal kue di pinggir jalan sedangkan di rumah.. istriku juga punya uang legit." Jawab Bang Arma kemudian menyambar bungkusan dari tangan Zarnet dan beranjak pergi. Ia membuka pintu ruang kerja milik Zarnet.
Zarnet berlari dan memotong jalan Bang Arma kemudian memeluknya dan tepat saat itu Rhena melihat semua dengan mata kepalanya sendiri. Bang Arma sedang berpelukan dengan wanita lain.
Bak tersambar petir kagetnya hati Bang Arma. Ia menepis Zarnet sejauh mungkin. "Rhena?? Kamu ada disini?"
"Kenapa?? Takut kalau Abang ketahuan bersama wanita lain? Jadi selama ini Abang mendua?" Rhena menghapus air matanya.
"Nggak sayang, Abang nggak selingkuh.. kita bicara di luar ya..!!" Bujuk Bang Arma tapi Rhena tidak mau tersentuh tangannya sedikit pun. "Ini nggak seperti yang kamu lihat."
__ADS_1
Rhena melihat Zarnet dengan santainya memakai pakaian.
"Pagi, siang, sore, malam.. setiap saat Abang minta, tidak pernah Rhena menolak.. tapi ternyata semua masih kurang."
Zarnet tersenyum sinis. "Ya jelas lah masih kurang, badan besar mana bisa buat suami senang."
"Diam kamu Zarnet..!!!!!!!!!" Bentak Bang Arma dan seketika itu juga Zarnet terdiam karena baru kali ini mendengar suara bentakan Bang Arma.
Kepala Bang Arma berdenyut, badannya terasa sangat sakit. Bang Arma terhimpit masalah, dompetnya tertinggal di rumah. Itu berarti bahwa ia tidak bisa membayar benda yang sudah ada di tangannya.
"Tolong Zar, nanti aku akan membayarnya..!!" Pinta Bang Arma penuh permohonan.
Semakin lama Bang Arma semakin merosot lemas. Badannya menggigil dan mengerang kesakitan.
"Kau membuatku kesal Ar, istrimu pasti tidak tau kalau kau adalah seorang pecandu. Demi mempertahankan istri macam dia kau tidak mau bersamaku." Zarnet mengambil obat itu dari tangan Bang Arma.
Rhena bukan main kagetnya, Bang Arma sampai merangkak menyentuh kaki Zarnet.
"Tolong Zarnet..!!!" Bang Arma semakin tak karuan.
"Berapa harganya?" Tanya Rhena.
"Lima juta."
Rhena juga bingung, ponsel dan dompetnya tertinggal.
"Ada satu cara kalau kau mau menyelamatkan suamimu."
"Apa? Aku akan memenuhinya." Jawab Rhena tak ada pilihan lain, meskipun dirinya sangat marah, tapi hatinya tidak tega melihat Bang Arma kesakitan.
"Layani para bodyguard ku. Simple bukan??"
.
.
.
__ADS_1
.