Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
23. Mengusahakan tegar.


__ADS_3

Bang Arma meninggalkan Rhena yang masih berada di peraduan. Kejadian semalam membuat batinnya terusik.


Pagi ini usai apel, Bang Arma meminta Sertu Setyo menghadap ke ruangannya. Ia ingin mendengar secara langsung dari mulut pria yang memiliki andil besar dalam keadaan Rhena saat ini.


"Mana berkas milik Rhena?"


"Siap.. ini Dan..!!" Sertu Setyo menyerahkan beberapa dokumen, di antaranya harta benda Rhena berupa tanah dan uang 'pensiun' sebagai pramugari juga fee sebagai atlet.


Bang Arma memperhatikan seluruh berkas yang ada. Ia memperhatikan nama wali/orang tua dari Rhenata Ghea. Dua kali ia melihat nama tersebut, pertama saat akad nikah dan kedua saat ini. Di dadanya berdegup kencang seakan pernah mendengar nama itu tapi ia segera menepisnya. Ada hal yang lebih penting untuk di pikirkan.


"Setyo, saat ini saya berbicara sama kamu bukan sebagai atasanmu tapi lebih kepada seorang suami. Saya bukannya ingin mengorek masa lalu, saya tau hukumnya tidak di perkenankan tapi saat ini masalahnya berbeda." Kata Bang Arma membuka percakapan.


Sertu Setyo tau bahwa saat ini Bang Arma berusaha keras menahan amarah. Terlihat dari caranya menggenggam tangannya sendiri itu sudah cukup membuktikan bahwa pria tersebut sedang down di balik ketegarannya.


"Apa yang sudah kamu lakukan, mungkin juga ibumu hingga Rhena begitu trauma dengan hidupnya. Rhena mantan istrimu, tapi dia istri saya saat ini dan saya berhak melakukan berbagai cara agar kerikil di rumah tangga kami bisa segera hilang. Saya butuh kerjasamamu Setyo..!! Tolong bersikaplah ksatria..!! Setiap saya memberikan 'cinta' saya.. Rhena selalu ketakutan jika ada sedikit saja saya salah bersikap."


Sertu Setyo menarik nafas panjang tapi sorot mata sesama pria tersebut juga sangat di mengerti olehnya.

__ADS_1


"Saya dan ibu selalu memukul Rhena setiap dia berbuat salah. Saya membiarkan ibu saya mengaturnya. Saya merasa ibu saya sudah lelah merawat saya sejak kecil karena saya tidak punya ayah. Ibu yang terus menuntut bahagia akhirnya membuat saya mengupayakan segala hal. Di saat itu saya menemukan Rhena, wanita yang memiliki cukup banyak harta namun tidak lagi memiliki keluarga karena masa lalunya begitu kelam. Saya........" Bibir Sertu Setyo begitu sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan namun dirinya juga tidak ingin terus terkungkung dalam rasa bersalah.


"Katakan.. saya butuh menyembuhkan mental Rhena. Dia sedang mengandung.. perlukan saya bersujud di kakimu??" Bang Arma berdiri namun kemudian Sertu Setyo yang berlutut di kaki Bang Arma.


"Saya tidak pernah meng***inya dengan baik dan tidak pernah memperlakukan Rhena dengan cara yang patut. Jika komandan melihat Rhena ketakutan saat komandan mendekatinya, berarti seperti itulah cara saya memperlakukan Rhena. Hingga Rhena muntah sekalipun, saya tidak melepaskan dia." Kata Sertu Setyo dengan pengakuannya.


Bang Arma bersandar lemas, lututnya seperti tak sanggup terangkat, tangannya gemetar, matanya memerah nanar membendung air mata. "B***ab.. Kamu benar-benar binatang, bagaimana bisa kamu kamu memperlakukan wanita sampai seperti itu. Seseorang yang di kirim Tuhan untuk menyempurnakan ibadahmu. Saya ini juga pendosa, saya juga sama sepertimu, bisa kalap saat berhadapan dengan istri dan itu manusiawi tapi saya berusaha mengontrol diri, pakai otak bukannya setelah kamu memetik kenikmatan lalu kamu membuangnya, istri bukan penghiburmu.. dia wanita terhormat yang kamu naikan derajatnya hingga sesuai denganmu."


Tangis Sertu Setyo ikut pecah bersama dengan lelehan air mata Bang Arma.


"Saya bersedia menerima hukuman apapun, termasuk di berhentikan secara tidak hormat..!! Bahkan jika komandan menuntut saya masuk ke dalam jeruji besi, saya akan menerimanya..!!" Ucap Sertu Setyo.


"Keluarlah..!! Saya sedang tidak baik-baik saja." Pinta Bang Arma.


Sertu Setyo melangkah keluar ruangan dan saat itu Bang Ojaz berada di depan pintu. Ia masuk ke dalam ruangan tanpa kata.


Bang Arma melihat littingnya itu masuk ke dalam ruangan dan berdiri di dekatnya, bersandar pada meja kerjanya.

__ADS_1


"Apa kalau aku menangis itu berarti tidak jantan?" Tanya Bang Arma.


Bang Ojaz tersenyum. "Menangislah.. hanya aku yang tau."


Bang Arma mencengkram erat pakaian Bang Ojaz. Apa yang ia tahan akhirnya di tumpahkannya juga. Bang Arma terisak isak meluapkan beban yang menyesakan dada.


"Urusan perempuan memang terkadang membuat kita pria jadi go**ok ndadak. Tapi sejauh ini, kamu laki-laki paling hebat yang pernah kutemui. Jangan kalah dengan keadaan, ada wanita yang butuh perhatian dan harus di pertahankan. Baik-baik kamu sama Rhena, jangan bertengkar lagi. Karena kalau sudah kehilangan, kamu tidak akan sanggup menahan rasanya."


Bang Ojaz mengusap punggung Bang Arma, dulu dirinya pernah kehilangan kekasih hati, sebuah pertengkaran membuatnya harus kehilangan wanita yang ia cintai karena sebuah kecelakaan. Hingga saat ini dirinya tidak pernah lepas dari kata penyesalan apalagi kesalahan fatal itu membuatnya harus kehilangan janin yang ada dalam kandungan. Kejadian itu membuat dirinya bertobat dan lebih dekat dengan Tuhan. Cukup satu kali ia menyesal hingga membuatnya memilih untuk sendiri namun kini tidak ada yang tau di dasar hatinya yang terdalam, ia kembali mengulang kesalahan yang sama, hanya dirinya dan Tuhan yang tau seberapa dalam perasaan itu.. mencintai istri Lettu Armayudha.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2