
"Pulang sana, temui istrimu..!!" Saran Bang Ojaz mengurai senyumnya.
"Iya, aku pulang dulu ya. Kamu nggak mau ngopi di rumah?" Tanya Bang Arma.
"Aahh malas, kopi doank.. nggak di tawari makan..!!" Kata Bang Ojaz berkilah dengan gayanya.
"Kamu ini maunya yang gratisan aja."
Bang Ojaz hanya tertawa mendengarnya. Setelah Bang Arma pergi, tawa itu memudar dan berganti menjadi senyum yang hanya ia pahami artinya. Ia membuang nafas panjang, mengusap dadanya kemudian berjalan di belakang Bang Arma namun ia memilih melangkahkan kakinya menuju masjid Batalyon.
...
Rhena tersenyum haru melihat sertifikat harta kepemilikan juga uangnya semua kembali utuh. Rhena sampai tidak sadar melompat memeluk Bang Arma.
"Terima kasih banyak Bang, di antara dua sertifikat ini salah satunya adalah pemberian ayahku."
"Sama-sama sayang..!!" Bang Arma membalas pelukan itu. Tangannya mengusap lembut perut Rhena lalu mengangkatnya masuk ke dalam kamar.
Mendapatkan perlakuan itu Rhena tak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Bang Arma pun mengerti rasa takut Rhena.
"Ke kamar tidak harus memadu cinta. Berduaan sama kamu saja sudah cukup." Kata Bang Arma.
//
"Mama harus banyak istirahat. Riri sama Om dulu ya..!!" Bang Ojaz membujuk Riri yang sudah ingin pulang menemui Mamanya.
"Om.. Mama sakit apa sih?" Tanya Riri.
Bang Ojaz memindahkan Riri ke pangkuannya kemudian menyuapinya sepotong lemper di kantin.
"Riri pernah dengar nggak kalau Papa bilang adiknya Riri masih sebesar biji kacang. Naahh.. karena adik masih terlalu kecil, Mama butuh istirahat biar adik cepat besar dan Papa harus menjaga Mama dan adik. Riri khan mau jadi kakak, jadi Riri harus ngalah dulu ya..!!" Bagai anak sendiri Bang Ojaz dengan telaten merawat Riri. Segala apapun tentang Riri seakan Bang Ojaz sanggup menghandlenya sendiri.
"Oohh gitu ya Om? Ya sudah Riri main sama Om Ojaz aja biar Mama bisa tidur."
"Anak pintar. Sekarang ikut Om Ojaz sholat dhuhur yuk..!!" Sudah terdengar adzan tuh." Ajak Bang Ojaz.
Riri mengangguk, Bang Ojaz menyuapi suapan terakhirnya kemudian memberi susu untuk gadis kecil yang begitu ia sayangi bahkan sejak kelahirannya.
"Riri mau kopinya Om Ojaz..!!" Pinta Riri.
"Nggak boleh, nanti kamu nggak bisa tidur." Tolak Bang Ojaz.
Seketika Riri memonyongkan bibirnya dan melipat kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
"Deeehh ngambekan. Adat jeleknya pasti meniru Papanya. Ya udah nih dua sendok aja ya. Jangan banyak-banyak, pusing ndhuk." Bang Ojaz menyendok dua sendok kopi untuk Riri kemudian mengambil dompetnya. Mata Riri menatap dompet tersebut.
:
Bang Ojaz melepas ikatan sarung di belakang kepala Riri. Karena tidak membawa mukena maka Bang Ojaz memakaikan sarung serupa ninja agar bisa menjadi mukena.
"Om Ojaz sayang Mama?" Tanya Riri tiba-tiba.
"Kenapa Riri tanya begitu?" Bang Ojaz melipat sarungnya tak begitu paham dengan pertanyaan Riri. "Semua makhluk Tuhan harus saling menyayangi."
"Oohh begitu ya Om. Riri juga sayang Om Ojaz." Jawab Riri.
"Terima kasih anak baik. Om juga sayang sama Riri."
...
Malam itu Riri berdua dengan sang Papa menonton televisi bersama.
"Papaaa.. Papa punya dompet nggak?" Tanya Riri.
"Punya. Memangnya kenapa?"
"Riri pinjam Pa..!!"
Bang Arma meraih dompet yang letaknya tidak jauh dari jangkauannya dan menyerahkan dompet kulit buayanya pada Riri yang sedang merebahkan diri di lengannya.
"Papa sayang Mama nggak?" Tanya Riri lagi kemudian mengusap foto Rhena.
"Sayang donk.. kala nggak sayang ya nggak mungkin Riri mau punya adik." Jawab Bang Arma.
"Oohh.. Mama cantik ya Pa. Ini foto apa?" Tunjuk Riri pada foto Rhena yang sedang menggunakan seragam kebesaran istri anggota.
"Foto waktu Mama mau pengajuan nikah sama Papa."
Riri mengangguk entah paham atau tidak, lalu ia mengusap foto Rhena yang sedang menggendong dirinya.
"Foto ini sama seperti yang ada di dompet Om Ojaz, tapi Mama tidak pakai kerudung." Kata Rhena.
Terbersit rasa sakit di dalam hati kemudian mencuat naik ke kepala. Sempat amarahnya melonjak namun ia menahannya sebab sesaat tadi dirinya baru saja berbaikan dengan Rhena dan dirinya tidak ingin ada pertikaian lagi, di tambah informasi tersebut di dapatnya dari seorang gadis berusia tiga tahun yang belum bisa di pertanggung jawabkan kebenarannya.
"Nggak mungkin Om Ojaz punya foto Mama. Riri pasti salah lihat."
Tak lama Riri tertidur dan menganggap cerita Riri hanya angin lalu karena putrinya itu sedang mengantuk tapi harus di akui ada rasa cemas juga di dalam hatinya.
__ADS_1
:
Bang Arma masuk ke dalam kamar usai menidurkan Riri di kamar tengah. Ia pun masuk ke kamarnya bersama Rhena. Perlahan Bang Arma duduk di tepi ranjang agar tidak membangunkan Rhena. Tangan kekarnya mengusap lembut pipi sang istri.
"Apa benar Ojaz ada hati sama kamu? Apa benar Ojaz memukul punggungku??"
Resah di hati tak bisa hilang begitu saja. Rasa kantuknya mendadak lenyap, yang ada hanya rasa takut bercampur rasa marah yang hilang timbul.
***
Ada tugas di ruang pengurus cabang menanti di pagi ini, Rhena tidak bisa menghubungi Bang Arma dan kebetulan kondisi tubuhnya hari ini masih belum begitu fit. Ia berjalan pelan karena waktu sudah terlalu mepet dan pasti Ibu ketua cabang sudah hadir di Batalyon.
"Rhena.. mau ke Batalyon ya?" Tanya Bang Ojaz berhenti dengan motornya saat melihat istri sahabatnya sedang berjalan ke arah Batalyon.
"Iya Bang."
"Arma nggak bisa di hubungi?"
Rhena menggeleng pelan menjawabnya.
"Abang antar saja. Mau nggak? Matahari sudah naik nih." Ajak Bang Ojaz karena tau Rhena belum begitu sehat.
Melihat jam tangannya akhirnya Rhena bersedia naik motor bersama Bang Ojaz. Karena kepalanya masih terasa pusing, hampir saja Rhena terjatuh dan Bang Ojaz menahannya.
"Hati-hati Rhen, bawa anak Arma tuh. Kalau ada apa-apa bisa ngamuk dia." Kata Bang Ojaz mengingatkan sambil membantu memegangi tangan Rhena untuk duduk di atas motor. "Maaf ya..!!" Ucapnya dengan sopan.
:
Pagi usai jam komandan pikiran Bang Arma masih saja mengingat ucap putri kecilnya. Dirinya ingin bertanya pada sahabatnya itu namun mengingat asas kesopanan dan etika maka ia pun mengurungkan niatnya.
"Broo.. lari siang dulu..!!" Teriak Bang Renash memanggil Bang Arma
Bang Arma segera berlari menghampiri Abangnya dan tak sengaja menabrak Bang Ojaz yang juga tengah berlari dari arah berlawanan. Entah darimana saja littingnya itu hingga tidak mengikuti jam komandan.
kllttkk
Dompet Bang Ojaz terjatuh dan berusaha memungutnya namun saat itu dengan cepat tangan Bang Ojaz menyambarnya. Melihat reaksi aneh dari Bang Ojaz, Bang Arma menjegal kaki Bang Ojaz hingga pria tersebut terguling dan menjatuhkan dompet itu kembali. Terpampang nyata di dompet itu tersemat wajah ayu Rhena.
"Ada penjelasan.. Letnan Rojaz??" Tanya Bang Arma.
.
.
__ADS_1
.
.