Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
30. Titisan.


__ADS_3

"Buuu.. ini mau melahirkan, ketubannya merembes." Kata Bibi.


"Ya ampun, bagaimana ini Bi????"


//


Bang Arma berpegangan pada sebatang pohon, wajahnya teramat pucat dan sekilas Bang Renash mengingat flashback saat kelahiran Wibi dulu. Jantungnya naik turun tak karuan. Karena dirinya samar juga pernah merasakan sakit tak tertahan.


'Kalau anaknya Arma masih ada berarti bulan ini sudah masuk bulan ke sembilan, tapi.. benarkah anaknya masih ada? Lalu bagaimana soal racun yang sudah di teguknya?'


"Yu, kita bawa saja Arma ke rumahnya..!! Barang tadi kita urus disana..!!!" Perintah Bang Renash.


"Siap."


-_-_-_-_-


Kondisi Bang Arma semakin memprihatinkan, malam sudah tiba dan Bang Arma masih menggelinjang kesakitan. Bang Renash sampai meminta tolong dokter Anin untuk memeriksa keadaan adiknya. Obat juga sudah di berikan tapi belum ada juga perubahan.


"Apa aku mau mati Bang?? Sakit sekali rasanya." Ucap Bang Arma di sela saat sakit berjeda menyerang. Kemudian saat sakit kembali menyerang, Bang Arma kembali berteriak.


Bang Ojaz yang mendengar kabar sakitnya Bang Arma pun turut menemani seniornya yang cemas.


"Apa Arma kena santet Bang? Arma terlalu banyak membuat masalah disini. Jangan-jangan orang yang sempat bersinggungan dengan Arma tidak terima lalu menyantetnya." Kata Bang Ojaz.


"Kamu ini makhluk beragama atau tidak, kenapa bisa berpikir seperti itu, berpikirlah yang pasti saja..!!" Tegur Bang Renash padahal di dalam hatinya juga menyimpan ketakutan.


"Lailaha Illallah..!!!!!" Sekuatnya Bang Arma meremas tangan Bang Renash.


"Duuuhh Aaarr..!!!!!!" Bang Renash ikut memercing dan berteriak namun setelah itu Bang Arma tidak sadarkan diri.


"Anin.. Muksin.. tolong bantu Arma..!!!!"


//


"Alhamdulillah.. bayi laki-laki Bu. Ganteng sekali. Pasti mirip Papanya." Kata Bibi.


"Mirip saya. Itu anak saya, bukan anak Papanya." Jawab Rhena ketus sambil meminum jus. Saat persalinan, dirinya tidak begitu merasakan sakit seperti yang pernah ia dengar dari orang bahkan dirinya baru saja berjalan-jalan.


Mata Rhena mengintip jagoannya. Hatinya kesal karena memang kenyataannya bayi kecilnya sangat mirip dengan Bang Arma. "Kenapa bisa mirip jenglot." Gumamnya lirih.

__ADS_1


Bibi menahan tawanya tapi kemudian tersenyum. "Ini jenglot paling ganteng sedunia." Kata Bibi, satu ciuman dari Bibi mendarat di pipi baby tampan itu.


"Siapa yang bisa adzanin ya?" Tanya Bibi.


Bibi menengok kesana kemari di griya bersalin milik Bu Bidan.


"Pak..!!" Sapa bibi pada seseorang yang baru keluar dari klinik. Pria berbaju loreng dan bernama dada Musadiq.


"Iya Bu."


"Bibi bisa minta tolong adzanin anaknya majikan Bibi? Bapaknya nggak ada." Pinta Bibi.


"Boleh Bi." Pria tersebut menggendong bayi Rhena lalu mengadzaninya.


"Jadi anak yang Sholeh ya le."


"Terima kasih Pak..!!" Kata Bibi kemudian kembali menerima baby tampan tersebut.


"Sama-sama Bi, ngomong-ngomong bapaknya dimana?"


"Ibu sudah pisah sama bapak. Ibu berjuang cari makan sendiri, membiayai kebutuhan sendiri dan hidup sendiri" jawab Bibi.


"Musaa..!!" Sapa seseorang berpangkat Kapten.


"Siap Bang, arahan??"


"Tas istri saya tertinggal di teras. Kata bidan mau lahiran sekarang. Tolong ambilkan ya..!!"


"Siap Bang, saya ambilkan sekarang." Bang Musa pun melangkah pergi tapi matanya menoleh ke arah kamar dan saat itu Rhena dan Bang Musa bertemu mata.


//


Setelah beberapa saat akhirnya Bang Arma sadar juga, sakit dan mual yang biasa menyerangnya mendadak hilang.


"Apa kubilang, kena santet khan. Aku baru saja selesai baca surat Yassin dan Arma langsung sadar." Kata Bang Ojaz dengan sombongnya.


Rika langsung memeluk Bang Ojaz. "Kangmas hebat sekali."


"Iya donk Dinda. Kapan Mas Ojaz nggak hebat. Suamimu ini sangat membanggakan."

__ADS_1


Bang Arma yang jengah memilih memalingkan wajahnya, ia teringat sesaat tadi seperti melihat sosok bayi kecil yang menangis. Bayi laki-laki di dalam pelukan Rhena. 'Sayang, aku sangat menginginkan dia. Apa sungguh tega membuangnya?'


"Urusanmu dengan Abang belum selesai." Tegur Bang Renash.


"Soal apa Bang?"


"Bagaimana bisa kamu jadi pecandu?? Siapa supplier nya?"


"Aku beli sendiri, nggak ada supplier." Jawab Bang Arma.


"Kamu jangan bohongi Abang..!! Dosis yang kamu gunakan terlalu tinggi. Apa maumu??"


"Mati. Aku nggak bisa hidup tanpa Rhena, tapi kenyataannya aku tidak mati juga."


"Istighfar kamu le, nyebut..!! Dunia ini masih bisa berputar tanpa Rhena." Bang Renash sudah kewalahan menghadapi sikap adiknya.


"Aku ini suami macam apa Bang. Pantaskah aku hidup setelah menyia-nyiakan mereka? Jejak mereka pun aku tak tau." Bang Arma pun kian putus asa dalam pencariannya.


//


"Dulu saya pernah bersenda gurau dengan Abang. Dia ingin jika anaknya terlahir perempuan, akan di berinya nama Narwastu Arum Dalu tapi jika anaknya laki-laki, Abang ingin memberinya nama Pangestu Gumarang."


"Berarti namanya Pangestu Gumarang ya Bu." Tanya Bibi.


"Iya, tapi saya takut di dunia yang sempit ini dia akan bertemu Papanya, jadi.. panggil dia Ghema."


"Artinya apa Bu?"


"Itu nama singkatan saya sama Papanya." Kata Rhena menjelaskan.


Bibi tersenyum saja ternyata majikannya belum bisa melupakan Papanya Bang Ghema.


"Apa sih Bi, hanya nama panggilan saja." Protes Rhena.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2