Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
38. Si calon ngambekan.


__ADS_3

"Lusa ada kegiatan gabungan, ada tamu dari psikolog membahas tentang rumah tangga sehat..!!"


"Oke, mana saya tanda tangani..!!"


Bang Musa mencuri pandang ke arah Rhena. Bang Arma tau kelakuan juniornya itu dan ia berdehem menegur Bang Musa dengan caranya.


"Sudah nih Sa." Meskipun ada rasa kesal tapi Bang Arma tetap berusaha keras untuk menahan diri sebab Rhena masih nyenyak dalam buaian.


"Siap.. saya pamit undur diri..!!"


Bang Arma mengangguk mengijinkan karena dirinya tidak akan membiarkan pria lain menatap istrinya dengan pandangan tidak seharusnya. Ia pun tidak ingin terpancing emosi karena tau juniornya masih menyimpan rasa untuk Rhena.


***


Rhena berjalan masuk ke dalam rumah, lagaknya seperti tidak membutuhkan hadirnya Bang Arma di sampingnya.


"Pelan-pelan dek."


"Suka-suka Rhena." Jawabnya ketus.


Bang Arma diam saja tidak membantah. Om Erky menunduk menyimpan senyum geli, Dankinya tak ada taring sedikitpun di hadapan Ibu Danki, mengaum bagai macan pun tidak berani.


"Baaang..!!"


"Dhalem sayang." Jawab Bang Arma lembut. "Ada apa?"


"Rhena mau jual sapi."


"Ya Allah dek.. jangan di ulang lagi perkara sapi itu..!!!" Bang Arma menepuk dahinya karena saat hamil Ghema dulu juga Rhena sangat ingin menjual sapi.


"Rhena mau pulang ke rumah sama Bibi." Wajah Rhena seketika mendung membawa rasa kesal.


"Okee... Besok Abang cari sapi.. berapapun Abang bayar. Sudah masuk ke kamar dulu sana, Abang mau ngobrol sama Erky." Bang Arma mendorong punggung Rhena, hatinya sudah mulai cemas berhadapan dengan Rhena yang banyak permintaan.

__ADS_1


Bang Arma ingin memfokuskan diri sejenak untuk memberikan perhatian pada putranya yang selama ini tertinggal mendapatkan kasih sayang darinya


...


"Ghema nggak mau tidur disini. Ghema mau ikut Om Erky." Rengek putra Bang Arma usai bermain dengannya hari ini.


"Lho Bang, Papa sudah siapkan kamar untuk Abang." Protes Bang Arma, ia merasa kesal karena putranya lebih memilih ikut Prada Erky ke barak bujangan.


"Ghema khan pria gagal pa. Jadi harus berani." Jawab Ghema.


"Gagah le, GAGAH.. Buat apa kamu mau jadi pria gagal." Kata Bang Arma membenahi ucap putranya.


Om Erky terkikik geli. Kini Prajurit Dua tersebut sudah lebih akrab dengan putra Dankinya sebab dirinya juga punya adik bungsu seusia dengan Ghema.


Ghema kembali asyik bermain dengan banyaknya mainan yang sudah di belikan sang Papa.


"Oiya Ky, adikmu di bawa saja disini biar Bibi ikut merawat.. tadi saya sudah sempat bicara dengan anggota yang lain tentang permasalahanmu. Istri saya mendengar dan istri saya bersedia untuk ikut menjaga adikmu bersama Bibi. Istri saya tidak tega jika adikmu terus di titipkan di panti asuhan."


Senyum Om Erky lenyap berganti dengan rasa haru. Ia menekuk lutut di kaki Bang Arma. Beberapa waktu yang lalu ibunya meninggal dunia setelah tahun lalu ayahnya meninggal. Sanak saudara tidak ada yang sanggup menanggung dan merawat adik dari Prada Erky.


Bang Arma menarik kedua lengan Bang Erky. "Tidak perlu begitu Ky, tunjukkan harga dirimu..!! saya tidak mengharap apapun. Hiduplah normal seperti biasa dan lakukan apa yang sudah menjadi tugasmu. Kita sebagai laki-laki harus kuat dengan kerasnya dunia sebab kita adalah pencari nafkah bagi keluarga."


"Siap Danki..!!"


...


Rumah terasa sepi. Hanya ada Bang Arma dan Rhena saja di rumah dinas itu. Bang Arma memeluk Rhena dari belakang, ia mengusap perut Rhena yang masih datar.


Belum ada banyak kata di antara mereka berdua. Yang kini mereka rasakan hanya saling memberi bonding.


"Bang, Rhena pengen........."


"Ayo.. sekarang saja ya..!!" Semangat Bang Arma langsung menggebu mendengar suara Rhena. Hasratnya sudah terpancing pasalnya sejak hari dimana dirinya memaksa Rhena, belum pernah lagi dirinya mengajak Rhena bermesraan.

__ADS_1


"Bukan ituuu..!!"


"Lha teruuuss???" Agaknya hati Bang Arma runtuh seketika.


"Rhena pengen punya ikan yang bisa tarung." Kata Rhena.


"Duuhh yank, cari dimana??? Disini bukan pusatnya ikan hias." Tangan Bang Arma menaikan pakaian Rhena tapi Rhena menurunkan kembali.


Rhena sedikit menjauh meskipun ia tau ada senjata perang yang sudah siap siaga.


"Kamu sengaja ya? Memangnya nggak pengen di sayang Abang?" Tanya Bang Arma kembali memepet Rhena.


"Ikan dulu..!!"


"Coba dulu yang ini, kalau sudah kepatil pasti ketagihan." Bujuk Bang Arma.


Rhena sengaja menjauh dan hal ini membuat Bang Arma semakin tidak tahan, bagian tubuhnya menegang menuntut pelepasan. Saat itu Rhena menodongkan tangan.


"Apa ini?" Tanya Bang Arma.


"Ikan dulu..!!"


"Sabar to, mana ada ikan malam begini???" Kata Bang Arma.


Bukannya mendengar, Rhena semakin bergeser ke tepi dan menempel di dinding.


"Oohh.. sepertinya minta kekerasan lagi nih biar beres perkara."


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2