
Air menyembur dari lambung Bang Arma. Tubuhnya lemas bahkan saat di tandu pun dirinya belum bisa banyak bergerak. Kepalanya terasa pengang, hidungnya nyeri, dadanya sesak dan nafasnya tak karuan.
"Kenapa kamu disini? Dimana Rhena?" Tanya Bang Arma dengan suara lirih.
"Ijin Dan, ibu pulang sendiri.. jalan kaki."
"Kamu ini bagaimana Ky, saya bilang jaga istri saya. Saya hanya membawa satu nyawa dalam hidup saya, tapi Rhena membawa dua." Kata Bang Arma.
"Siap salah. Saya cemas dengan keadaan Danki." Jawab Prada Erky.
"Erky, lain kali jika ada sesuatu seperti ini lagi tolong kamu lebih memperhatikan Rhena. Saya masih bisa menjaga diri saya tapi tidak dengan Rhena. Dia wanita yang kurang tau arah."
"Siap..!!"
...
"Go***k lu. Tentara apa nih sampai tenggelam. Pengapesanmu tenan yo amung Rhena. Gagahe koyo Janoko yo mungsret kalah yen wes urusane mikir Rhena. ( Apesmu itu ya hanya Rhena. Gagahmu yang seperti Janoko ya bisa menyusut kalau urusannya mikir Rhena. )" Omel Bang Ojaz tak habis pikir dengan berita tenggelamnya Danki tempur.
"Eehh codot, nggak sadar diri lu ya.. lu juga sudah seperti tikus ketangkap kalau sudah kena omel Rika."
"Eiya ya. Tapi seumur hidup gue nggak pernah tenggelam." Kata Bang Ojaz.
"Siiipp.. langsung ngambang aja buat panik satuan pendidikan." Jawab Bang Arma.
"Itu bukan ngambang, tapi nyamar jadi ikan biar nggak ketahuan musuh." Bang Ojaz mulai berkilah tak mau kalah.
"Alhamdulillah ada yang sadar tentang niat baikmu menyamar. Coba kalau nggak ketahuan. Jadi ikan asap lu."
"Alhamdulillah.." jawab Bang Ojaz tersenyum membawa wajah tanpa dosa menjengkelkan seisi ruangan.
...
Bang Ojaz dan Prada Erky memapah Bang Arma masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum.. Rhena.." sapa Bang Ojaz.
Rhena keluar dari kamar dan melihat Bang Arma sedang di papah.
__ADS_1
"Kamu masak nggak Rhen?" Tanya Bang Ojaz.
"Masak Bang..!!" Rhena segera berlari menuju belakang rumah dan mengambil makan siang.
"Alhamdulillah.." Bang Ojaz menerima piring nasi tersebut dan langsung melepaskan Bang Arma begitu saja hingga pria tersebut jatuh menimpa Prada Erky.
"Jaaz..!!"
Mata Bang Arma dan Prada Erky membulat besar melihat Bang Ojaz makan dengan lahapnya, di sana Rhena tidak berani bertanya apapun meskipun sebenarnya ia mengambilkan nasi itu untuk Bang Arma. Rhena hanya memainkan jemarinya dengan gelisah.
Prada Erky terkikik melihat ulah kapten Batalyon sebelah yang sudah biasa membuat Dankinya naik darah. Terlihat sekali Bang Ojaz begitu kelaparan hingga dalam dua menit saja makanan di piringnya nyaris habis.
"Lapar?" Tanya Bang Arma.
"Lumayan.. aku memastikan apakah Rhena berniat melenyapkan nyawamu atau tidak." Kata Bang Ojaz.
"Bang.. maaf..!! Makanannya sudah Rhena kasih obat urus-urus..!!"
"Lailaha Illallah Rheeeenn..!!" Bang Ojaz memegangi perutnya yang mendadak merasa melilit.
"Ehmm.. m***us lu ya.. makan tuh obat urus-urus..!!!!" Ledek Bang Arma.
...
Tak ada masalah berarti dalam diri Bang Arma. Mual dan muntahnya sudah di pastikan adalah bentuk simpati pada kehamilan sang istri sedangkan kapten Ojaz...
"Masih sakit Bang" kata Bang Ojaz terus meremas perutnya kemudian kembali berlari ke arah kamar mandi.
Rika hanya melihat kedua tangan di depan dada sambil cemberut karena suaminya tidak hentinya membuat ulah.
"Rika nggak bantu Bang Ojaz?" Tanya Dokter.
"Nggak biar di nikmati sendiri indahnya mulas." Jawab Rika tak mau tau dengan Bang Ojaz yang seakan tak ada jera. Bukanya meminta maaf, suaminya itu malah asyik main layangan bersama beberapa orang anggota.
"Baiklah kalau begitu. Nanti biar saya yang urus." Kata dokter.
Tak lama Bang Arma ikut berlari menuju toilet.
__ADS_1
tok.. tok.. tok..
"Jaaaazz.. cepaaaat.. aku mual." Teriak Bang Arma.
"Nanti, aku masih sakit perut." Tolak Bang Ojaz dari dalam kamar mandi.
"Aaiisshh.. kelamaan lu."
braaaakk..
"Aaaaaarrrr..!!!!!"
"Hueeeeeeekkk..!!!!!" Bang Arma semakin mual dan muntah hebat di dalam kamar mandi.
Suara Bang Arma yang sangat menyiksa tak menyurutkan niatnya untuk melanjutkan hajat terselubung.
"B******n lu Jaz. Pakai sarung mu, cepat keluaaarr..!!!" Perintah Bang Arma sampai perutnya kembali terasa di aduk. "Hueeeeeeekkk..!!"
"Sudah ku keluarkan sejak tadi. Kau mau kubagi???" Tanya Bang Ojaz.
Bang Arma bersandar lemas, tenaganya terkuras habis karena banyaknya cairan yang keluar. Ia hanya bisa memercing menahan rasa tidak nyaman di sekujur tubuhnya.
"Aarr.. eehh Aaarr.." Bang Ojaz berdiri membawa rasa cemas melihat Bang Arma sudah mulai oleng, tanpa ia sadari sarungnya merosot ke lantai kamar mandi.
"Astagaaaa.. Ojaaazz.. apa-apaan lu??? Pakai..!!!!" Bentak Bang Arma melihat tubuh Bang Ojaz hanya tertutup setengah bagian.
"Ya basah Ar.." Ucap Bang Ojaz tanpa rasa malu berdiri dan bergoyang pinggul ke kanan dan ke kiri dengan percaya dirinya.
"Ojaaaazz.. gila lu. Bisa tahan ya Rika pelihara anak belut." Ledek Bang Ojaz saking kesalnya dengan tingkah absurd sahabatnya.
"Gaya amat lu, memangnya Rhena pelihara apa?" Tanya Bang Ojaz balik meledek.
.
.
.
__ADS_1
.