Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
31. Bumi sejengkal.


__ADS_3

Seorang sopir membuka pintu mobil untuk Rhena yang baru saja pulang dari belanja kebutuhan dapur bersama Bibi.


"Alhamdulillah si tole semakin ganteng ya Bu." Sapa Pak Widiono yang menjemput Rhena. Beliau adalah sopir pribadi Rhena.


"Alhamdulillah mirip saya Pak." Jawab Rhena.


"Oohh.. saya pikir mirip Papanya."


Seketika mimik wajah Rhena berubah dan Bibi ikut panik. Tau majikannya begitu tidak suka, Pak Widiono pun diam tanpa kata.


//


Bang Arma mendapatkan satu tamparan keras karena sudah menabrak ratusan bebek milik warga dengan truk.


"Saya tidak mau berangkat dinas. Saya mau mencari istri saya..!!" Tolak Bang Arma saat Danyon sengaja mengirimnya berangkat bertugas.


"Istrimu sudah tidak ada, apalagi yang kamu cari?" Tegur Danyon. "Bereskan ulah yang kamu buat..!! Bayar kerugian warga..!!"


"Saya mau bayar tapi jangan kirim saya dinas luar atau saya tidak mau berangkat..!!" Ancam Bang Arma.


Danyon semakin pening memikirkan Bang Arma. "Baiklah, Batalyon akan bayar kerugian dan kamu berangkat dinas..!!"


"Di tempat dinas saya akan tembaki babi warga."


Mendengar itu Danyon sangat lemah. Akhirnya Danyon mengurungkan niatnya untuk mengirim Kapten Arma berangkat bertugas.


...


"Kamu ini apa-apaan Ar, sudah tugas kita berangkat dinas. Kenapa kamu mangkir??" Bang Renash sudah pusing menegur adiknya. Suara tangis bayi perempuannya yang kini berusia delapan bulan semakin membuatnya stress. "Mamamu kemana sih nak, kenapa lama sekali kegiatannya. Papa capek nih."


Tepat saat itu Bang Arma melihat Bang Ojaz berlari membawa tempe goreng dari kantin.


"Mau kemana Jaz? Kenapa lari???" Tegur Bang Renash.


"Rika mau melahirkan." Jawab Bang Ojaz.


"Sempat kau ya menyambar tempe." Kata Bang Arma.


"Aku panik Ar, butuh tenaga."


Bang Arma terdiam, rasanya iri demi melihat Abang dan sahabatnya akan menggendong anak sedangkan dirinya masih berdiri di tahap yang sama seperti bujangan.


Pak Dewa tidak memperbolehkan dirinya menjaga Riri entah sampai kapan dan orang tuanya pun pasrah dan juga tidak mengijinkan Riri di dalam asuhannya.


//


Rhena ternganga saat melihat ada Bang Musa menemani Ghema bermain.

__ADS_1


"Abang? Sudah lama disini? Bibi kemana?" Tanya Rhena.


"Bibi ambil camilan untuk Ghema. Kamu serius sekali hitung uang sampai nggak tau saya datang."


Rhena menyunggingkan senyum cantiknya. "Siapa yang akan menghidupi Ghema kalau Rhena nggak kerja. Ghema juga butuh bahagia."


"Kalau di ijinkan, bolehkan Abang menggantikan posisi Papanya Ghema?" Bang Musa yang selama ini menahan perasaannya akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan hal yang sifatnya pribadi pada Rhena.


"Maaf Abang, bukannya Rhena menolak. Tapi Rhena masih menikmati hari bersama Ghema.


"Apa Papanya Ghema terlalu menyakitkan hingga kamu tidak mau memulai kembali?" Tanya Bang Musa.


"Pertama, Rhena sudah dua kali menikah dan Papa Ghema adalah yang kedua. Perjalanan hidup Rhena tidak mudah Bang. Kedua.. Rhena tidak ingin menjalin hubungan lebih dengan pria. Hmm.. mungkin saja saat ini mantan suami Rhena itu sudah menikah, tapi Rhena tidak ingin menikah lagi." Jawab Rhena dengan jujur.


"Katakan sama Abang kalau kamu berubah pikiran. Abang akan dengan setia menunggumu dan akan menyayangi Ghema seperti anak Abang sendiri." Janji Bang Musa.


Abang, Rhena harap Abang jangan terlalu banyak berharap. Carilah wanita yang baik.. Abang belum pernah menikah. Jangan berharap dari Rhena yang seorang janda, masih banyak gadis yang mengantri ingin Abang sayangi." Kata Rhena.


"Tapi soal hati tidak bisa di paksa dek. Hati Abang tertuju padamu."


"Tapi hati Rhena hanya untuk..... Ghema seorang."


Bang Musa tidak bisa menjawab apapun lagi sebab ia tidak ingin Rhena membencinya. Dirinya ingin perlahan Rhena membuka pintu hatinya, ikhlas dan tanpa paksaan.


"Bang Ghema, ini camilannya. Ayo sini sama Bibi..!!" Bibi paham majikannya mungkin membutuhkan teman untuk bicara dan Bibi pun mengajak Ghema berjalan-jalan sore.


Rhena tersenyum, ia tau betul pria baik itu sedang menghilangkan rasa canggungnya.


\=\=\=


"Da_ddy"


Satu setengah tahun berlalu. Bang Musa dan Ghema sudah sangat dekat layaknya bapak dan anak. Rhena pun tak bisa mencegah saat Bang Musa membawa Ghema ke Batalyon.


Bang Musa merentangkan kedua tangannya menyambut Ghema yang datang membawa makan siang.


"Ghema sama siapa kesini?"


"Tadi sama Pakde Widi." Jawab Ghema yang memang sangat pintar.


"Pakde Widinya dimana?" Tanya Bang Musa.


Dari jauh terlihat Pak Widi berlari menghampiri Ghema dengan wajah cemas. "Bang Ghemaaa.. kenapa Pak Widi di tinggal??"


"Jangan teledor Pak Wid, Ghema masih kecil sekali. Di luar banyak mobil, untung saja disini area Batalyon." Tegur Bang Musa.


"Maaf Pak, lain kali saya akan lebih berhati-hati.

__ADS_1


HT Bang Musa berbunyi nyaring. Laporan Danki baru segera tiba.


"Tolong jaga Ghema Pak, saya masih banyak pekerjaan.. ada penyambutan Danki yang baru." Pamit Bang Musa. "Ghema main sama Pakde Widi dulu ya, Daddy masih kerja."


~


Seorang pria turun dari mobil dan mendapatkan sambutan meriah dari para anggota. Danki baru telah tiba, namun Danki turun sendiri tanpa di temani sang istri. Kacamata masih bertengger di wajah tampannya lalu berkacak pinggang menyisir ke daerah sekitar. Rumor sudah terdengar bahwa Danki tidak bersama istrinya lagi. Anggota sangat prihatin mendengarnya apalagi kondisi Danki begitu terpuruk setelah kehilangan istrinya. Sifat kerasnya muncul dan terkadang tidak terkontrol.


Bang Arma menurunkan kedua tangan dari pinggang. Ia melihat anak-anak berlari riang tak jauh darinya.


Seorang prajurit yang mungkin adalah ayahnya segera menariknya.


"Biarkan saja..!!" Katanya tapi prajurit tersebut mungkin masih merasa tidak enak. Bang Arma kembali berkacak pinggang. "Kalian dengar atau tidak???"


"Siaap..!!"


Selamat datang Danki..!!" Sambut Bang Musa mewakili para prajurit kemudian melantunkan yel kebanggaan.


~


"Terima kasih atas sambutannya. Maaf saya tidak membawa istri." Kata Bang Arma membuka sapaannya pertama kali.


"Siap Danki. Semoga Danki selalu sehat dan di berkahi kelancaran dalam menjalankan tugas."


"Terima kasih"


"Berhenti..!!!" Suara anak kecil sedang berkacak pinggang melerai kucing yang sedang berkelahi. "Kalian dengal atau tidak???"


Mata para anggota menatap pria kecil itu lalu beralih menatap Kapten Arma.


"Lho.. kok mirip???" Kata salah seorang anggota.


"Iya, mirip sekali dengan Danki. Sampai wajah pun sangat mirip." Gumam anggota.


"Anak siapa itu?" Tanya Bang Arma mengarah pada Ghema.


"Om siapa??"


Bang Arma sigap membuka kacamata dan menatap pria kecil tersebut.


"Ijin Bang, Dia Ghema.. calon anak saya." Jawab Bang Musa.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2