
Tanpa kata, tanpa pesan Bang Arma meninggalkan seorang istri, seorang putra dan seorang putri yang baru saja di lahirkan. Batalyon usai memakamkan istri dari Kapten Rojaz dan siang nanti akan di adakan pemakaman Danki penyerang, Kapten Lanang Armayudha.
Sesak di hati Bang Ojaz begitu terasa saat Rika meninggalkannya dengan dua orang anak namun sekuat hatinya, ia langsung berangkat menemui Rhena di rumah duka pasalnya kabar mengatakan bahwa istri almarhum Kapten Arma begitu syok.
Memakai kacamata hitamnya, Bang Ojaz menemui Rhena di rumah duka. "Dimana istri almarhum?"
"Ijin.. di ruang tengah bersama jenazah." Jawab seorang anggota.
Bang Ojaz segera masuk ke dalam rumah. Sudah banyak tetangga yang menemani Rhena yang belum sadarkan diri di depan peti jenazah.
"Pak Rojaaazz, tolong ibu Pak. Ibu tidak bisa disadarkan..!!" Bibi sampai histeris melihat keadaan Rhena.
"Boleh saya minta ijin masuk ke kamar Arma?" Pinta Bang Ojaz.
Para istri anggota yang lain mengangguk pasrah karena keadaan Rhena memang begitu menyedihkan.
Bang Ojaz masuk ke kamar Rhena lalu memakai parfum milik Bang Arma dan kembali ke ruang tamu. Dengan cekatan Bang Ojaz mendekap dan memeluk Rhena.
Siapapun tak akan tega melihat keadaan Rhena. Usai persalinan, wanita itu harus kehilangan suami tercintanya hingga trauma dekat dengan sang putri yang baru saja di lahirkan.
"Dek.. bangun, lama sekali tidurnya." Bujuk Bang Ojaz mengusap pipi Rhena.
Rhena yang mencium aroma parfum Bang Arma refleks memeluk Kapten Rojaz. Baru kali ini para anggota melihat Kapten Rojaz yang biasanya ceria menitikkan air mata di balik kacamata hitamnya.
"Jangan tinggalkan Rhena Bang..!! Rhena belum sempat minta maaf, Rhena banyak salah sama Abang. Rhena takut hidup sendiri Bang." Ucap lirih Rhena kemudian kembali tidak sadarkan diri.
"Erky, tolong ambilkan oksigen..!!" Pinta Bang Rojaz.
...
"Rhena mau ikut Abang..!!" Teriak Rhena begitu pilu.
Hari menjelang sore, pemakaman belum juga di lakukan karena kondisi istri almarhum.
"Bagaimana ini Dan?" Prada Erky mengusap wajahnya yang juga menahan hujan tangis.
__ADS_1
"Lakukan sekarang, sebelum adzan Maghrib. Ijinkan istri almarhum ikut, untuk terakhir kalinya. Saya yang akan bertanggung jawab..!!" Kata Bang Ojaz.
"Siaaap..!!"
...
"Abaaaang.. Rhena ikut Abaaaang..!!"
Bang Rojaz memeluk Rhena dengan erat, tak peduli dengan ratusan pasang mata yang akan menatap. Mungkin saat ini dirinya pun juga membutuhkan sandaran.
"Rhena mau mati aja Bang..!!"
"Istighfar Rhena, tenangkan dirimu, tata hatimu. Abang tau rasanya sangat sakit seakan dunia ini runtuh, tapi dunia ini harus tetap berputar..!! Ingat anak-anak kita. Mereka masih sangat kecil, butuh perhatian dan kasih sayang." Bujuk Bang Rojaz, ia tak melepaskan pelukan itu.
Hingga saat tanah menutup jenasah almarhum Kapten Armayudha, Rhena berontak, histeris dan ingin ikut masuk ke dalam liang lahat. Bang Rojaz sigap menarik Rhena dan memeluknya lagi.
"Rhena, nggak baik begitu dek..!!"
"Bang Arma jahaaat.. kenapa aku harus di pertemukan kalau sekarang harus di pisahkan. Kenapa Bang Arma memberiku anak yang aku tidak akan bisa lupa dirinya??????" Teriak Rhena semakin menjadi.
"Bang Armaaaa.. Abaaaaaaaang..!!!" Tak hentinya Rhena memanggil nama suaminya.
Entah benar atau salah. Anggota pun merasa trenyuh dengan kisah cinta Rhena dan Kapten Arma. Anggap saja mereka menutup mata dengan kisah hari ini.
...
Bang Renash melangkah gontai memasuki gedung kompi. Matanya sembab. Mbak Geeta terus menggapit lengannya karena suaminya sangat syok.
Bang Rojaz menyambutnya dan memberikan penghormatan.
Seketika itu juga Bang Renash memeluk Bang Rojaz. "Dia adik yang paling kusayang Jaz, aku sudah kehilangan dia."
"Tidak Bang. Gumarang akan melanjutkan perjuangan Papanya." Jawab Bang Rojaz menunjuk Ghema yang juga sedang berusaha keras ikut menenangkan sang Mama.
Tangisnya kembali pecah melihat pria kecil itu tak lagi memiliki seorang Papa. Hanya sepuluh bulan saja dirinya merasakan pelukan sang Papa.
__ADS_1
Bang Renash melangkah mendekati Ghema. "Ghema ikut Papa Rhen ya? Nanti ada Wibi."
"Nggak mau, Ghema sama Ayah Rojaz aja." Tolak Ghema.
"Jika tidak keberatan, biar saya bantu mengawasi anak-anak Bang..!!" Kata Bang Rojaz.
Bang Renash terdiam sejenak. "Bagaimana bayi Rhena?"
"Mental Rhena belum stabil Bang, dia menolak bayinya. Bayi saya dan bayinya sedang di asuh para Bibi. Tidak ada yang mendapatkan ASI. Sedih saya Bang." Jawab Bang Rojaz dengan senyum pahitnya.
"Sabar ya Jaz..!!" Bang Renash menepuk bahu Bang Rojaz.
"Siap Bang. Saya selalu bahagia khan?" Ucapnya tapi air matanya meleleh. Bang Rojaz segera memakai kacamata hitamnya lagi agar tak seorang pun melihat pedih hatinya.
"Kuat broo.. pasti kuat..!!"
"Siaap.." jawabnya dengan suara bergetar.
....
Malam hari, saat banyak anggota sedang berjaga di depan rumah Bang Arma.. Bang Rojaz memilih duduk sendiri mengingat apa yang pernah sahabatnya itu ucapkan padanya. Pesan dari Armayudha yang tidak disangka akan menjadi pesan terakhirnya.
'Jika aku sedang ada misi, tolong jaga Rhena dan anakku. Aku tidak bisa percaya pada yang lain selain Allah dan kamu. Lindungi mereka, sayangi mereka. Dengan begitu aku bisa menyelesaikan tugas dengan tenang.'
Bang Rojaz menyandarkan tubuhnya yang lelah di temani sebatang rokok yang terselip di sela jarinya.
"Astagfirullah hal adzim.. tega kamu Ar. Kenapa kamu ucapkan itu. Apa kamu menyadari, kalau hatiku masih menyimpan nama Rhena.. selamanya tetap ada disana, dan belum pernah bergeser dari lubuk hatiku." Gumam Bang Rojaz. Di remasnya dadanya yang kian sesak. "B******n kamu Kapten Arma. Aku tidak suka di kalahkan dengan cara seperti ini..!!!!" Tangis Bang Rojaz kembali pecah. Sungguh hatinya terpukul dengan keadaan.
.
.
.
.
__ADS_1