Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
47. Mengaduk perasaan.


__ADS_3

Untuk kedua kalinya Bang Arma menyelesaikan urusan bawah perut, bukan tidak memikirkan keadaan janin yang ada di dalam kandungan, tapi urusan bawah perut sedang tidak bisa di kendalikan. Dengan lembutnya Bang Arma membuat kontrol diri agar bisa mencapai puncak dan tidak menyakiti Rhena maupun calon bayinya.


Usai menghabiskan semangkok mie instan rasanya tenaga Bang Arma kembali dan lebih powerfull.


"Kapan ke hotelnya Bang?" Tanya Rhena.


"Besok saja, selepas Abang apel pagi. Sebenarnya Abang pengen ajak anak-anak tapi kamu nggak mau." Jawab Bang Arma.


"Sehari saja, Rhena pengen sama Abang."


"Iya.. Abang ngerti. Hari ini ada kunjungan, ayah ibu datang. Jadi Ghema, Wibi dan Gempar ( adik Prada Erky ) di asuh ayah, ibu dan Bibi." Kata Bang Arma.


"Ibu datang Bang?? Kalau begitu kita jangan pergi."


"Ayah dan ibu minta kita quality time dulu, masih banyak waktu untuk bertemu. Ibu ingin kita lebih bisa meluangkan waktu untuk berdua.. persis seperti inginmu." Bang Arma mencolek dagu Rhena.


Rhena merasa terharu dengan kebaikan hati mertuanya, terutama sang ibu mertua yang sangat baik padanya. Meskipun ibu terlihat galak tapi ibu tidak pernah berubah meskipun dirinya pernah meninggalkan putra bungsunya.


***


cckkllkk..


blaaaapppp..


"Aaaaaaaaaa.." Rhena kembali berteriak karena untuk kesekian kalinya kompor menimbulkan api yang besar. Di dadanya masih berdegup kencang saking kagetnya dengan sambaran api tersebut. "Nggak.. Rhena nggak mau pakai kompor ini lagi."


Rhena mondar-mandir di dapur mencari cara agar bisa masak. Bumbu sudah siap, bahan makanan pun sudah terpotong di atas papan potong tapi kompor miliknya sungguh tidak mau bekerja sama.


Saat itu pandangan matanya tertuju pada teko kopi elektrik kesayangan Bang Arma. Teko kopi yang biasa di pergunakan suaminya untuk membuat kopi hitam. Bang Arma memang sangat menyukai kopi hitam dengan sedikit gula.


"Naaahh.. itu saja. Rhena nggak mau tau, terserah kalau Abang mau marah.. yang penting Rhena mau makan sayur asem." Gumamnya.


...


"Enak Bang?"


Bang Arma mengangguk sambil menikmati sayur asem buatan Rhena.


"Tuh.. bisa khan kompornya." Kata Bang Arma.


"Rhena nggak masak pakai kompor Bang?"

__ADS_1


Kening Bang Arma berkerut menanggapi Rhena. "Terus??"


"Rhena masak sayur asem di teko kopi kesayangan Abang." Jawab Rhena.


"Laaah.. ambune piyee deeekk.. bau terasi nggak??? Kamu kalau buat sayur asem pakai terasi." Tanya Bang Arma mulai cemas.


"Abang marah?" Raut wajah Rhena sudah masam.


"Nggak.. tapi ya jangan pakai teko kopi Abang juga." Kata Bang Arma menghindari perdebatan.


"Nanti Rhena cuci." Jawab Rhena dengan wajah datar.


Bang Arma menghabiskan acara makannya tanpa suara. Situasi paling horor dalam hidupnya adalah saat berdebat dengan Rhena.


Rhena sudah kehilangan selera untuk berbuat apapun dan meninggalkan Bang Arma sendirian.


"Hhhfftt.. berhadapan sama bumil lebih menegangkan daripada berhadapan dengan musuh." Hati ingin menjawab namun mulut diam seribu bahasa. Sebenarnya Bang Arma tidak senang dengan sikapnya sendiri karena tidak sesuai dengan dirinya, apalah daya.. bumil membuatnya begitu lemah.


:


Usai makan Bang Arma mencuci sendiri piringnya, tak lupa dengan teko kopi kesayangan nya. Berkali-kali ia menghirup aroma teko tapi masih saja ada sekilas bau terasi yang tertinggal.


"Paaa.. papaaaaa.." teriak Ghema yang terdengar dari luar rumah.


"Masuk le."


Ghema masuk ke dalam rumah bersama Gempar. Kini mereka berdua yang seumuran sudah seperti saudara kembar, wajahnya pun nyaris sama.


"Ini, makanan dari Akung sama Yangti." Ghema menyerahkan bungkusan berisi makanan pada Papanya.


"Siapa antar kalian?" Tanya Bang Arma.


"Daddy." Jawab Ghema dan Gempar bersamaan.


"Mana Daddy?"


Telunjuk kedua bocah itu menunjuk ke arah Bang Musa yang baru saja memarkirkan motornya.


Bang Arma melongok ke arah luar rumah melihat Bang Musa berjalan ke arah rumahnya. Kedua bocah banyak tingkah itu berlari keluar rumah.


"Assalamu'alaikum Bang."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam.. makan dulu Sa, Rhena masak nih." Bang Arma sungguh menawari junior nya itu sarapan yang sudah sedikit terlambat.


"Terima kasih Bang, baru saja makan sama Akungnya Ghema." Jawab Bang Musa. "Ini saya mau ajak anak-anak mancing di sungai Bang, di ajak Akungnya Ghema. Katanya Bang Ojaz juga mau ikut." Bang Musa meminta ijin membawa Ghema dan Gempar.


Bang Arma hanya bisa menghela nafas. "Bawa saja, hati-hati momong anak dua ini ya.."


"Hwaaaaaa.."


"Hwaaaaaaaa.."


Belum sempat mulut Bang Arma terkunci, ada teriakan kencang dari luar rumah.


"Ada apa itu??"


"Anak-anak Bang." Bang Musa menoleh dan segera berjalan keluar di ikuti Bang Arma.


Rhena yang mendengar suara anak-anak berteriak juga sampai ikut keluar rumah.


~


Suara tangis Ghema dan Gempar bersahutan. Bang Arma melirik kedua bocah di hadapannya secara bergantian.


"Sebenarnya apa mau kalian?? Kenapa kalian menghantam sarang tawon?????" Tanya Bang Arma.


"Ghema khan lelaki sejati." Jawab Ghema terisak.


"Papa juga lelaki sejati, tapi nggak ada terlintas dalam pikiran mau menghantam sarang tawon." Tak habis pikir Bang Arma dengan ulah putranya.


Bang Musa tak hentinya terkikik mendengar perdebatan ayah dan anak itu.


"Gagahnya Ghema melebihi Papa." Bang Musa tertawa sambil mengacungkan kedua jempolnya.


"Lailaha Illallah.. enam sengatan. Piye rasane leee..!!!" Bang Arma menepuk dahinya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2