Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
26. Renggang.


__ADS_3

"Astagfirullah.. dek.. jangan..!!"


Rhena mengacungkan senjata milik Bang Arma. "Ceraikan aku. Aku tidak sudi menikah sampai mengandung darah dagingmu..!!"


"Nggak dek. Kita bicara baik-baik. Sini sayang..!!" Ajak Bang Arma.


Rhena tersenyum sinis. Sorot matanya membidik tajam wajah kecemasan Bang Arma.


"Tidak ada lagi bicara baik-baik. Mulai detik ini, aku bukan istrimu lagi..!!" Rhena mengokang pistol Bang Arma kemudian membidik dan menembaknya tepat di dada bagian atas.


doooorr..


Air mata Rhena berlelehan. Tangannya turun dengan gemetar.


"Rhenaaa..!!!" Bang Renash begitu marah dan tidak terima Rhena menembak adiknya. Ia menarik pistolnya dan hendak menembak Rhena tapi Bang Arma mencegahnya.


"Jika nyawaku bisa menggantikan nyawa anakku, aku rela mati, jika nyawaku mampu menebus kesalahanku di masa lalu, biarkan Rhena mengambil nyawaku."


"Anakmu?? Selamanya dia tidak akan pernah menjadi milikmu..!!" Rhena menenggak minuman tersebut di depan mata Bang Arma.


"Jangaaaann..!!" Bang Arma begitu histeris, ia mendekat tapi Rhena menembaknya sekali lagi hingga Letnan Arma jatuh tersungkur.


"B*****t..!!!" Bang Renash yang tidak terima adiknya tertembak langsung meletuskan sebuah tembakan tapi Bang Ojaz menghadangnya.


doorr..


"Jangan sakiti istriku Bang..!!!!!!" Bentak Bang Arma di sisa kekuatannya.


"Rhenaaa.. kamu nggak apa-apa??" Bang Ojaz menahan tubuh Rhena meskipun lengannya pun tertembak.


Dua ambulans datang tepat pada waktunya. Batalyon geger karena untuk pertama kalinya mendapatkan peristiwa besar seperti ini.


...


Bang Arma dan Bang Ojaz duduk berhadapan. Hanya anastesi lokal meminimalkan nyeri di tubuh mereka. Keduanya sedang mendapatkan penanganan karena peluru yang bersarang.


"Sakit?" Tanya Bang Ojaz.


"Hatiku yang lebih sakit." Jawab Bang Arma lebih tenang.


"Minum femi**x..!!" Kata Bang Ojaz.


"Aku sudah tobat. Lama nggak minum itu."

__ADS_1


Keduanya pun tersenyum pahit.


"Aku minta maaf..!!"


"Tidak ada maaf bagimu..!!" Ucapnya singkat.


Meskipun menjawab demikian, tapi tatap mata Bang Ojaz tau amarah seorang Arma mulai mereda. Mungkin jika berada dalam posisi yang sama maka dirinya juga akan bersikap seperti itu.


"Ar, Rhena baru saja sadar." Kata Bang Muksin.


"Bagaimana keadaannya? Anakku aman?" Tanya Bang Arma cemas.


"Calon anakmu.. dalam status waspada. Pendarahan Rhena terlalu banyak. Istrimu sangat terpukul, melebihi tekanan mental. Kami terpaksa mengikat tangan Rhena, istrimu sangat histeris dan tidak bisa menerima kandungannya. Rhena terus ingin menyakiti kandungannya. Sabar ya Ar..!!"


Perasaan Bang Arma campur aduk. Bertubi tubi masalah menghantamnya. Salah paham, pertengkaran, kecemburuan dan akhirnya sampai prahara ini terjadi. Sakit akibat peluru tajam tak sebanding dengan sakit di hatinya saat ini. Penyesalan tak bisa di hindarkan, remuk redam ia rasakan.


...


Bang Arma menggenggam tangan Rhena. Dokter baru memberinya obat penenang. Telinganya terasa panas terus mendengar Rhena yang menginginkan perpisahan.


"Abang nggak siap dek, apalagi ada anakku di dalam rahimmu."


Bang Rhenas menepuk bahu adiknya. Jelas sebagai seorang kakak ia merasakan kepedihan sang adik. Ia pahami saat ini Bang Arma sedang terguncang.


"Jangan pernah mengancam istriku lagi apalagi sampai menodongkan pistol di depannya. Aku yang sudah membuat semua ini terjadi, jangan salahkan Rhena..!!" Kata Bang Arma menyesalkan tindakan Abangnya.


"Kamu istirahat dulu Ar, Abang bantu jaga Rhena. Pikiran dan badanmu butuh rileks..!!" Saran Bang Renash.


"Nyawa anak istriku terancam Bang, bagaimana aku bisa istirahat.. kalau saja waktu bisa ku putar kembali, aku tidak akan mengambil nyawa ayah Rhena. Aku akan membiarkan diriku sendiri yang mati di tangannya."


Bang Renash tak sanggup menjawab lagi. Ia tau betul adiknya itu sangat bertanggung jawab dalam hal apapun tapi memang ketegasannya sering membuatnya kehilangan kontrol diri.


-_-_-_-_-


Di tengah malam Rhena terbangun, ia melihat Bang Arma sedang menggenggam tangannya. Wajah Bang Arma terlihat sangat lelah, matanya basah seperti usai menangis.


Rhena berusaha melepaskan genggaman tangan itu namun genggaman tangan Bang Arma terlalu erat sedangkan dirinya ingin segera pergi ke toilet.


Bang Arma terbangun karena tidurnya terusik. "Mau kemana dek, ayo Abang antar..!!"


"Nggak perlu, kita bukan suami istri lagi." Tolak Rhena menjauhkan tangan Bang Arma.


Tak ada jawaban dari Bang Arma, percuma menjawab ucap Rhena jika akan menimbulkan pertengkaran baru. Ia pun menjauhkan tangannya tapi tubuh Rhena yang lemah membuatnya tidak sanggup menahan tubuhnya sendiri, dengan sigap Bang Arma menahannya.

__ADS_1


"Lepas, aku tidak butuh bantuanmu..!!" Tapi ucap itu tidak sesuai dengan kenyataannya.


Bang Arma segera mengangkat tubuh Rhena ke toilet.


"Keluar..!!"


Bang Arma hanya memejamkan mata namun tetap berada di toilet.


"Keluaarr..!!!!!!" Rhena mengulang ucapnya lagi.


"Kalau Abang nggak mau???"


"Aku siram wajahmu..!!" Ancam Rhena.


Bang Arma tetap memejamkan matanya dan setia berdiri disana.


Merasa sangat kesal Rhena menyiram wajah Bang Arma dengan air dari selang di toilet. "Pergilah sejauh mungkin, aku muak melihat wajahmu..!!"


Usai menyelesaikan urusannya, Rhena melangkah pergi tapi lagi-lagi kram di perutnya begitu menjadi hingga dirinya tak sanggup untuk melangkah.


"Aaaaarrh.. aku membencimu.. aku membencimu anak sialan. Kenapa aku bisa sampai mengandungmu.. pergilaaaahh...!!!" Rhena histeris memukul perutnya.


"Jangan dek.. jangan menyakitinya. Abang yang salah. Anakku tidak tau apapun tentang masalah kita." Tenaga Bang Arma pun nyaris terkuras habis. Stress dan frustasi begitu membuatnya sangat tertekan oleh keadaan.


"Dia bukan anakmu, dia anak haramku bersama Bang Ojaz." Pekik Rhena lagi seakan selalu mengingatkan ucap pahit dari pria di hadapannya itu.


Luka di dada Bang Arma terasa sangat nyeri. Ribuan kata maaf tidak bisa menenangkan Rhena.


Di luar sana Bang Ojaz duduk meringkuk, ulahnya juga yang telah menyebabkan pertengkaran di dalam rumah tangga Rhena.


"Bang, tolong buatkan saya surat rekomendasi pindah satuan tugas..!!" Pintanya pada Bang Renash.


"Apa yang kamu hindari, kesalahanmu atau Rhena?" Tanya Bang Renash.


"Saya mengakui salah melabuhkan cinta. Saya ingin pergi agar semua keadaan menjadi tenang. Mencintai istri orang sudah meruntuhkan harga diri, saya tidak ingin menjadi lebih hina lagi."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2