Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
2. Ext part.


__ADS_3

HT Bang Rojaz berbunyi, kabar darurat. Istri dari almarhum Kapten Armayudha tidak berada di tempat.


"Rhena, kemana dia?" Bang Rojaz langsung berlari menyambar kunci motornya. "Biii.. titip anak-anak. Saya mau ke rumah Rhena..!!"


"Baik Pak, hati-hati bapak..!!"


"Iya."


...


Satu jam pencarian belum ada tanda Rhena terlihat. Hati yang rapuh, tubuh yang lelah tak lagi di rasakannya. Ia mengingat dulu sahabatnya pernah membawa Rhena menginap di daerah perbukitan dan Rhena sangat suka dengan buah strawberry.


"Sepertinya saya tau dimana Rhena berada." Kata Bang Rojaz kemudian bergegas pergi ke tempat yang ia duga adalah tempat Rhena berada.


:


Mata Bang Rojaz menyisir di sekitar perbukitan yang menghadap ke danau. Benar saja, Rhena sedang berada di tepi jurang dan berniat hendak melompat ke dasar danau. Secepatnya Bang Rojaz berlari.


Grrpp..


Bang Rojaz memeluk dan mendekap erat tubuh Rhena. "Jangan berbuat bodoh Rhena. Hidup ini masih panjang."


"Bang Arma sudah tidak ada lagi, untuk apa Rhena hidup??" Jawab Rhena dengan segala keputus asaan. Hatinya sungguh sedih dan merasa sangat kehilangan sosok suami seperti Bang Arma.


"Rhena, ingat.. masih ada Ghema dan Kinan. Mereka butuh Mamanya. Ingat Allah yang senantiasa membimbing jalan hidup kita. Kalau Abang tidak ingat Yang di Atas mungkin Abang juga akan memilih bunuh diri. Rika tidak ada lagi. Sahabat terbaik Abang juga pergi. Hidup Abang juga hancur Rhena." Kata Bang Rojaz.


Prada Erky bersandar lemas pada sebatang pohon besar, rasanya tak sanggup melihat kesedihan dua insan di hadapannya. Kapten Rojaz juga bukanlah orang yang buruk. Beliau juga memiliki tingkat wibawa yang sempurna hanya saja semua tertutup dengan sikap humorisnya, namun untuk soal pekerjaan.. beliau tidak pernah main-main.


Perlahan Bang Rojaz mengarahkan Rhena untuk duduk bersamanya. Di sandarkannya punggung Rhena pada dada bidangnya. "Istighfar Rhena, kita ini hanyalah manusia biasa yang hanya bisa tawakal menerima takdirNya. Kita harus kuat, berjuang bersama-sama demi anak..!!" Bujuk Bang Rojaz. "Jika beban di hatimu terasa berat, banyaklah berdo'a dan mengingat Tuhanmu, namun jika memang sungguh tidak bisa, tolong jangan begini lagi..!! Bicaralah sama Abang, Abang rela.. Abang ikhlas menanggung semua beban di hatimu."


Mendengar semua itu tangis Rhena pecah. Di luapkan segala tangisnya hingga meraung-raung membuang segala beban di dalam hati. Bang Rojaz hanya bisa terpejam tanpa kata menunggu Rhena untuk tenang tapi tangisnya juga berlelehan.

__ADS_1


:


Setengah jam kemudian Rhena sudah lelah menangis, ia pun juga sudah mulai tenang.


"Kita pulang sekarang Danki?" Tanya Prada Erky. Kini setelah Kapten Armayudha tiada, Kapten Rojaz yang akan naik jabatan menggantikannya sebagai Danki Kompi penyerang.


"Sebentar lagi..!! Rhena baru saja tenang."


"Rhena nggak mau kembali ke rumah itu Bang..!!" Pinta Rhena nyaris kembali menangis.


Bang Rojaz mengusap kening Rhena yang berkeringat. "Mau pulang ke mana? Rumah loundry?" Tanya Bang Rojaz.


Rhena menggeleng. Mungkin saat ini istri almarhum Kapten Armayudha sedang sangat trauma atas kepergian suaminya itu.


"Ada rumah transit yang kosong?" Tanya Bang Rojaz pada Bang Musa.


"Siap, ada Bang..!!"


"Siap laksanakan Abang." Bang Musa menghubungi rekannya di kompi untuk menyiapkan satu kamar transit.


...


Bang Rojaz menyelimuti tubuh Rhena. Pakaian Rhena sudah sangat kotor tapi Bang Rojaz tidak bisa berbuat apapun. Kedua bibi sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Hari sudah tengah malam dan tak mungkin meminta tolong istri anggota yang sudah lelap bersama keluarga masing-masing.


"Ijin Dan, apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?" Tanya Prada Erky yang masih setia di sana.


"Tolong ambilkan baju saya di mobil dan tolong keluarkan pakaian almarhumah istri saya..!!"


"Siap Danki."


:

__ADS_1


"Astagfirullah Ya Allah, apa harus seperti ini jalannya??" Bang Rojaz memalingkan wajah kemudian membuka matanya.


Bang Rojaz masih terpaku duduk di ranjang mengancingkan pakaiannya untuk menutupi tubuh Rhena. Rambut Rhena tergerai indah berwarna hitam semu coklat.


Tangannya mengusap lembut jemari Rhena. Sesekali Rhena memercing kesakitan dan tangan Bang Rojaz beralih mengusap perut Rhena. Ia tau betul luka persalinan Rhena belum kering.


"Enak begini?" Tanya Bang Rojaz tanpa menatap apapun yang di sentuhnya. Sekilas mata melihat rambut indah Rhena.


Rhena pun mengangguk.


"Astagfirullah.." Bang Rojaz menunduk menenangkan batinnya. Baru kali ini dirinya bisa sedekat ini bersama Rhena dalam moment yang salah.


"Jangan.. jangan..!!"


Tau Rhena kembali bermimpi buruk, Bang Rojaz mengambil parfum di saku tas kecilnya dan menyemprotkan ke tubuhnya lalu mendekat pada Rhena.


Siapa sangka Rhena memeluknya dan langsung tenang. Mau tidak mau Bang Rojaz merebahkan diri di satu ranjang bersama Rhena.


"Tuhan, hanya Engkau yang mengerti hitam dan putih hidup ini." Gumamnya.


Di luar kamar mess transit, Bang Musa dan Prada Erky masih mengawasi.


"Ijin Dan, apa tidak apa-apa?" Tanya Prada Erky.


"Mereka masih dalam keadaan berduka. Salah atau tidak itu urusan hamba dengan Tuhannya, yang jelas mereka juga bukan orang yang jahat. Bang Rojaz sudah sangat dewasa untuk memahami segala konsekwensinya. Biarkan untuk satu malam ini mereka menenangkan batin yang lelah." Jawab Bang Musa.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2