
Bang Rojaz melangkahkan kaki dengan gagah dan penuh percaya diri. Emosinya stabil, senyumnya menghias wajah tampannya.
"Seger amat Bang." Ledek Bang Musa.
"Airnya seger Sa." Jawab Bang Rojaz sekenanya.
"Deras ya Bang, sudah lama puasa." Kata Bang Musa terus saja menggoda Bang Rojaz sedangkan Prada Erky hanya membuntut saja tak jauh dari kedua atasannya.
Bang Rojaz terdiam sejenak memahami arah pembicaraan juniornya. Seketika Bang Rojaz paham arah ledekan Bang Musa. Ia pun berdehem melonggarkan nafas. "Eheeem.."
"Tolong kalau merasa bujangan, jangan banyak mikir ngeres. Kalau kalian pengen nggak ada obatnya, di jepitkan ke pintu pun juga tidak akan menjadi solusi." Kata Bang Rojaz.
"Siap Abang."
"Cepat jujur, apa tadi kalian mendengar sesuatu??" Tanya Bang Rojaz kemudian melirik Bang Musa dan Prada Erky secara berganti.
"Siap.. tidak..!!"
"Ijin.. tidak Dan..!!" Jawab Prada Erky.
"Saya tadi, tidak mematikan sambungan telepon dengan benar. Nggak usah bohong kalian, nafas kalian saja saya dengar." Bentak Bang Rojaz.
"Siap salah Danki."
"Maaf Bang." Ucap Bang Musa tak lagi bisa mengelak.
"Nikah sana, cari jodoh. Jangan banyak mengkhayal..!!!! Untung saja saya sedang bahagia, kalau saya lagi jengkel, sudah saya sikat kalian semua..!! Mau tau saja isi kamar pengantin baru." Tegur Bang Rojaz.
"Siaaap..!!"
"Ijin, saya masih dalam ikatan dinas Dan."
"No comment, itu sih derita loe.. masa bodoh nggak mau tau." Jawab Bang Rojaz dengan gaya khasnya yang menyebalkan.
...
__ADS_1
Sore hari Bang Rojaz sudah kembali ke rumah usai lepas dinas, ia melihat Katon sudah tidur dalam gendongan bibi sedangkan Kinan malah menangis kencang sulit untuk di tenangkan. Rhena pun sudah berkeringat kewalahan menggendong Kinan.
"Kenapa nih anak Ayah." Dengan sigap Bang Rojaz langsung menggendong Kinan. Seketika tangis Kinan berhenti di pelukan sang Ayah. "Pintaar, jangan banyak nangis ya.. Ayah nggak kemana-mana, Ayah sayang sama Kinan."
Rhena merasa terharu, entah sudah berapa kalinya Kinan tenang dalam pelukan pria yang kini telah menjadi suaminya. Sekilas terbayang wajah almarhum Bang Arma tapi ia segera menepisnya, dirinya berusaha sadar bahwa kini hanya ada Bang Ojaz dalam hidupnya.
"Wajahnya perpaduan dirimu dan Arma ya dek. Untung saja parasnya lebih dominan Mamanya." Kata Bang Rojaz.
"Baang..."
"Tapi Abang Ayahnya dan tidak ada yang bisa memungkiri kenyataan itu." Sambung Bang Rojaz.
Tau Rhena kembali mengingat mendiang suaminya, Bang Rojaz pun mendekati Rhena. "Abang tetap menyayangi Ghema dan Kinan meskipun mereka berdua tidak berasal dari benih Abang. Seperti kamu menyayangi Shima dan Katon, Abang pun tidak pernah membedakan anak-anak kita."
Rhena memeluk Bang Ojaz menumpahkan tangisnya. "Terima kasih ya Bang. Rhena banyak hutang budi sama Abang."
"Sejak kapan Budi menagih hutangnya??" Tanya Bang Rojaz.
"Iiiihh.. Abaaang..!!!!" Rhena mencubit dada Bang Rojaz dengan gemas, tawa pun meriuhkan suasana kamar tapi kemudian Bang Rojaz mencekal tangan Rhena.
"Dek......." Bang Rojaz terasa berat mengungkapkan tapi semua memang harus di ucapkan. "Abang pengen anak dari kamu..!!" Pinta Bang Rojaz. "Nggak sekarang juga sih. Gimana dek?"
"Ya kalau nggak mau, nggak apa-apa dek. Abang nggak akan memaksa. Tapi boleh khan kalau di dalam hati Abang berharap? Namanya juga keinginan." Jawab Bang Rojaz.
Rhena mengangguk saja dan Bang Rojaz memberikan satu kecupan sayang di kening Rhena. "Hari ini mau menginap disini? Apa kita pulang saja?" Tanya Bang Rojaz.
"Disini ya Bang." Pinta Rhena.
"Nggak apa-apa. Pas sekali di sebelah mini market. Abang mau kesana sebentar."
"Beli apa Bang?" Kening Rhena berkerut penuh selidik.
Bang Rojaz mencubit gemas dagu Rhena. "Beli helm. Abang masih kangen."
...
__ADS_1
Bang Rojaz sedikit kecewa dengan penolakan Rhena soal dirinya yang meminta anak, tapi dirinya juga harus menghargai keputusan Rhena sebab memiliki anak juga adalah kesepakatan kedua belah pihak.
Bang Rojaz mengotak-atik rak berisi barisan varian helm pengaman. "Yang manaaa ini??? Aku mana pernah beli beginian." Gumamnya. Tak sengaja dirinya berdiri bersebelahan dengan Prada Erky.
"Ijin Dan.. cari apa??" Tegur Prada Erky.
"Cari pengaman, anak masih kecil." Alasan Bang Rojaz tanpa ada sesuatu yang ditutupi lagi tapi matanya pun melirik benda yang sama, yang sedang di pegang Prada Erky. "Kamu sendiri, kenapa beli begituan?? Masih bujangan jangan macam-macam kamu Ky..!!!!!"
"Siap.. tidak berani Dan."
"Ky.. sudah ambil atau belum??" Tanya Bang Musa yang kemudian bertemu muka dengan Bang Rojaz.
"Apa-apaan kalian berdua beli barang macam ini?? Kalian main l***e? Atau kalian ACDC????" Ucap geram Bang Rojaz, giginya bergemeretak kesal namun masih menahan nada suaranya. "Saya tempeleng kalian berdua ya..!!!!" Ancam Bang Rojaz.
"Ya ampun Abaang..!! Kami nggak macam-macam. Benar Bang." Kata Bang Musa mulai panik.
"Ijin Dan, benar.. kami nggak macam-macam."
"Kembali dari sini.. kalian temui saya di rumah loundry. Jangan sampai tidak datang..!!"
Bang Musa dan Prada Erky saling melirik, raut wajah keduanya pasrah meskipun hati mereka sangat cemas.
"Siap Bang."
"Siap Dan."
:
"Jelaskan.. untuk apa kalian beli barang itu???"
"Ijin Bang, kami beli untuk........"
.
.
__ADS_1
.
.