Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
40. Ketahuan.


__ADS_3

Bang Arma dan Bang Ojaz membelikan banyak makanan untuk kedua bumil dengan harapan dan niat tulus agar bumil tidak berulah.


Kedua Kapten merokok dan ngopi di teras sedangkan Rhena dan Rika sedang makan nasi Padang.


"Aku nggak habis pikir sama suamiku yang suka berlebihan." Kata Rika.


"Apalagi aku, Bang Arma itu pemarah. Padahal tadi mereka tidak lihat bagaimana serunya. Nanti aku carikan lawan yang seimbang. Nggak lemas seperti ikan lele." Jawab Rhena.


Bang Ojaz langsung menyenggol kaki Bang Arma, kali ini dirinya benar-benar angkat tangan menghadapi bumilnya yang luar biasa.


"Aku nggak tau dan nggak mau tau Jaz. Mau di adu sama ikan pindang juga aku nggak peduli. Mana pernah aku benar di mata Rhena." Gumam Bang Arma.


"Kau ini. Apa mau mereka buat masalah lagi. Aquarium pecah saja sudah buat aku jantungan." Kini Bang Ojaz punya rasa cemas yang luar biasa.


"Kau baru jantungan sekarang. Aku setiap kali bertemu Rhena selalu jantungan. Rasanya jantungku ini sudah terlatih untuk menghadapi Rhena." Jawab Bang Arma.


...


Bang Arma dan Bang Ojaz baru bisa bernafas lega saat melihat para istri tertidur pulas di ruang tamu usai kekenyangan menyantap semua makanan yang mereka belikan.


"Sesajinya habis Jaz, biarkan saja mereka tidur. Kita bisa nafas nih." Kata Bang Arma.


Saat tengah melihat keadaan istri, ponsel Bang Arma berdering. Ada pesan singkat di ponsel Bang Arma, nanti malam akan ada pesta warga dan pasti akan ada penyanyi.


"Ceweknya pasti cantik. Gaas yuk Ar..!!" Ajak Bang Ojaz.


"Ngajakin maksiat aja lu. Ayo dah." Akhirnya Bang Arma menyetujui.


...


"Ada kerusuhan dek, nggak mungkin Abang diam aja di tempat. Pasti Abang harus ikut pengamanan. Abang khan Danki di sini." Alasan Bang Arma yang entah kenapa jadi ikut aliran sesat Kapten Rojaz.


"Betul???" Tanya Rhena dengan wajah mengintimidasi.


"Sumpah, ini aja Abang pergi pakai seragam. Masa mau macam-macam pakai seragam begini." Kata Bang Arma meyakinkan.


"Ya sudah hati-hati ya Bang. Hati-hati di azab." Pesan Rhena.


Bang Arma hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Gelisah juga dengan ucap bumil.

__ADS_1


...


Rhena sudah berusaha menghubungi Bang Arma tapi tidak ada jawaban dari suaminya itu, ia pun berjalan bersama Rika yang juga tidak bisa menghubungi Bang Ojaz.


"Kita mendekat ke depan saja yuk. Aku pengen lihat penyanyinya." Ajak Rhena.


Rika menyetujui karena dirinya juga sangat menyukai music tersebut. Usai membeli siomay ikan yang rasanya cukup pedas, mereka pun mendekat ke area depan.


"Rhen, matamu rabun nggak. Itu Bang Ojaz atau bukan sih?" Tanya Rika belum mempercayai matanya. Mulutnya masih sibuk mengunyah makanan.


"Eehh iya Rik. Itu Bang Ojaz." Mata Rhena ikut menyisir keadaan di sekitar dan Rhena menangkap pemandangan yang sangat membuatnya marah.


Jauh disana ada seorang wanita yang melompat-lompat mengambil uang dari tangan Bang Arma, suami Rhena itu sedang asyik menyawer penyanyi di bawah panggung. Disana Bang Musa sudah asyik sendiri dan tidak ada yang mengganggu karena dirinya memang free dari intaian wanita.


"Iihh.. Abang nakal."


"Sudah banyak tuh di selipan. Gantian yang lain donk." Goda Bang Arma.


"Lagi donk.. nanti Ema kasih bonus boleh pegang deh." Bisik Ema.


Bang Arma tersenyum tipis. Rasanya sudah bosan dan kenyang dengan kelakuan wanita yang seperti ini. Tak ada yang bisa mengalahkan Rhena di dalam hatinya. Rhena sudah membuat batinnya terkunci dengan segala perlakuan manisnya saat mereka berdua.


"Oya, beneran boleh?????"


"Astagfirullah dek. Kenapa ada disini?"


"Seharusnya pertanyaan itu untuk Abang. Kenapa Abang disini, tidak pakai baju dinas dan nyawer perempuan lain?" Jawab Rhena dengan tatapan mautnya.


"Kau siapa?? Galak sekali?" Tanya Ema.


"Kau yang siapa? Mana semua uang dari Abang?" Pinta Rhena menodongkan tangan di hadapan Ema.


"Enak saja, uang ini milikku." Kata Ema.


"Kau kembalikan baik-baik atau saya menyobek bajumu?" Ucap Rhena.


"Dek.. malu. Ini uangnya masih ada. Lebih banyak yang ini." Gelagapan Bang Arma merogoh sakunya dan memberikan semua uang pada Rhena.


"Mundur atau Abang tau akibatnya..!!"

__ADS_1


Tak ingin keributan semakin parah, Bang Arma mundur tanpa suara.


Rhena menyambar uang di selipan dada Ema lalu berjalan pergi.


"Bang.. ini gimana?" Tanya Ema tak terima uangnya di ambil Rhena.


Bang Arma tak menjawab apapun daripada suaranya menimbulkan celaka yang lebih besar.


:


Bang Arma dan Bang Ojaz berdiri menyatukan kedua tangan bak tahanan yang tertangkap basah saat Rhena dan Rika menatap keduanya.


"Siapa tadi yang bilang mau ikut pengamanan acara?" Tanya Rhena.


Bang Arma hanya menatap ke arah tanah dan tidak berani menatap mata Rhena.


"Rhena malas sama Abang." Rhena melangkah pergi dan sungguh hal itu membuat nyali Bang Arma.


"Mau kemana dek? Kamu nggak bisa jauh dari Abang."


"Aduuuhh Ya Allah Ya Rabb.. Abang tadi hanya bercanda, ini ada uang tapi uang kantor.. memang di minta Abang yang nyawer, perwakilan tiap anggota juga, menghormati daerah dek."


"Pakaian dimana?"


"Di mobil. Tadi nggak boleh pakai seragam karena mencolok."


"Seharusnya mata Abang memang Rhena colok..!!" Kata Rhena masih emosi. "Apapun alasannya, Rhena nggak suka Abang dekat sama perempuan."


"Iya, Abang minta maaf." Bang Arma menangkupkan kedua telapak tangannya memohon ampun untuk membujuk Rhena yang sedang marah. Tangannya benar-benar gemetar saking paniknya.


Tau Bang Arma sangat takut, Rhena pun meremas dadanya seolah dirinya sedang sesak nafas.


"Dek.. Kenapa? Nggak enak badan?


"Adek.. nggak suka papanya dekat sama perempuan lain." Ucapnya belaga tapi memang dirinya merasakan sesak meskipun tidak parah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2