Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
48. Kambuh.


__ADS_3

Bang Ojaz menggosok tangan dan wajah kedua bocah dengan kembang setaman.


"Makanya kalian main boneka, jangan main tawon." Kata Shima putri kesayangan Kapten Rojaz yang cerewetnya di luar nalar.


"Aku nggak suka main boneka." Jawab Ghema.


"Hayyus mau. Sekalang duduk.. minum teh. Papa juga..!!" Perintah Shima. "Papa tidul, Papa bayinya."


Bang Arma terbahak melihat Bang Ojaz langsung berbaring dan Shima kecil membubuhkan bedak di wajah sang Papa.


"Mamaa.. popoknya mana?" Tanya Shima pada Rika.


Bang Ojaz langsung panik dan duduk tapi Shima menghantam papanya menggunakan centong nasi.


ttkk..


"Aawwhh.." Bang Ojaz menggosok keningnya tapi kemudian berbaring lagi karena Shima sudah menatapnya persis seperti sang istri kalau sudah ngambek.


"Bisa nggak sih Papa nggak banyak bicara?" Tegur Shima.


"Kapan Papa bicara??" Proses Bang Ojaz karena dirinya merasa diam saja tanpa perlawanan.


"Minyak telon Maaa.." lagi-lagi Shima meminta barang bayi pada Mamanya.


"Eehh Shima, oles papamu jangan pakai minyak telon, tapi minyak tanah." Kata Bang Arma ikut geli juga melihat tingkah anak-anak dan itu membuatnya sangat terhibur.


Bang Arma tak bisa membayangkan jika dirinya memiliki seorang putri dalam hidupnya. Ojaz saja yang dulu banyak tingkah kini sudah mulai meredup dan menunjukkan rasa protektif dan lebih berwibawa untuk sang putri. Apapun keinginan sang putri selalu menjadi prioritas utama nya.


Belakangan Shima yang lebih menurut pada Bang Arma pun mengangguk.


"Mana minyak tanahnya Pi?"

__ADS_1


"Coba minta Om Erky antar, cari di dapur." Kata Bang Arma.


Shima berlari menghampiri Prada Erky kemudian melompat-lompat minta gendong. Om Erky yang pada dasarnya suka dengan anak-anak pun tidak merasa keberatan dan langsung menggendong Shima.


"Uuuhhhh.. anak cantik, sini ikut Om Erky." Om Erky menggendong Shima kecil.


"Om Elky ganteng." Puji Shima sambil membelai pipi Om Erky.


"Kamu.. kecil-kecil sudah tau ganteng. Siapa yang ajarin?" Ledek Om Erky sambil membawa Shima ke belakang rumah Bang Arma.


"Mama.. Mama suka bilang Papa ganteng." Jawab shima dengan segala kepolosan nya.


Bang Ojaz langsung mengambil posisi duduk dan belaga menjadi pria paling tampan sedunia.


"Aku memang telat punya anak, tapi pesonaku menghipnotis pandangan para wanita." Ucap Bang Ojaz begitu sombong.


"Kau mau kuingatkan aib masa lalu? Kalau kau tidak berkasus, mungkin kau masih membujang sampai sekarang." Kata Bang Arma.


Baru saja mulut Bang Arma tertutup, tiba-tiba pandangannya sekejap terasa kabur.


"Abang.. dimana obat Abang?" Bang Musa paham jika seniornya sangat membutuhkan bantuan.


Bang Arma mencekal tangan Bang Musa. "Jaga sikapmu, jangan sampai Rhena panik dan curiga." Bang Arma mulai meremas dadanya nafasnya sesak, tubuhnya berdenyut ngilu secara perlahan. "Abang campur obatnya, sudah nggak ori lagi. Setiap kambuh dua kali lipat lebih sakit. Tolong jaga kesadaran Abang, atau lebih baik hantam saja.. jangan sampai Abang menyakiti hati dan fisik Rhena."


Bang Ojaz yang sudah tau keadaannya segera membekap hidung Bang Arma dengan sesuatu hingga perlahan Bang Arma merosot seperti orang tidur.


Rhena menyadari ada keributan tapi karena melihat Bang Arma sedang tidur, ia melanjutkan lagi acara ngobrolnya bersama Rika bahkan Prada Erky yang baru saja kembali pun tidak menyadari bahwa Bang Arma sedang tidak di sadarkan.


"Musa, Erky.. kita bicara sedikit menjauh..!!" Ajak Bang Ojaz. "Maaa.. anakmu Ma..!!" Teriak Bang Ojaz agar Rika segera mengambil alih Shima.


~

__ADS_1


"Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Cepat atau lambat Rhena akan menyadari bahwa Arma adalah seorang pecandu. Saat ini kita masih bisa menangani, tapi bagaimana saat kita tidak ada?? Kita tidak tau apa reaksi Rhena dan juga sikap Arma di luar kendali." Kata Bang Ojaz.


"Benar Banh, sakau terkadang bisa menjadi brutal. Bagaimana kalau Bang Arma menyakiti Rhena." Imbuh Bang Musa.


"Saya bisa menjaga rumah Danki setiap saat." Bang Erky memberikan kesanggupannya.


Bang Ojaz terdiam sejenak, tenaga pria tidak bisa di prediksi apalagi saat sedang sakau. Rhena tidak mungkin bisa membantumu.


"Harus ada minimal dua orang yang jaga. Badan Arma itu tidak bisa di sepelekan, dan ingat.. lindungi Rhena..!!"


"Saya turun tangan Bang, biar saya jaga juga..!!" Bang Musa tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada Rhena.


Bang Ojaz semakin dilema. Tidak ada siapapun lagi yang bisa di mintai pertolongan karena apa yang di alami Bang Arma harus ditutup rapat agar tidak terdeteksi dunia luar.


"Baiklah, kalau situasi aman.. saya juga akan turun tangan..!!" Janji Banh Ojaz, tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkan diri seorang Kapten Arma.


Mereka bertiga melirik Bang Arma yang masih belum sadar dari pengaruh obat penenang. Para sahabat bukannya tak tau efek bahaya yang lebih besar karena terkesan serampangan menangani Bang Arma tapi semua demi menjaga dan mempertimbangkan hal yang baik untuk Bang Arma terutama keutuhan rumah tangga Danki yang baru saja bersatu dengan istri tercinta.


...


Bang Arma melirik ketiga sahabatnya penuh rasa terima kasih karena telah membantunya melewati hari yang sangat berat.


"Hati-hati ya Ar, kalau kangen calling me..!!" Kata Bang Ojaz dengan seribu makna.


Anggukan Bang Arma juga sudah menjawab semuanya. "Sambil titip anak-anak Jaz. Saya pergi nyenengin istri sebentar saja..!!" Pamit Bang Arma.


"Pergilah, disini aman."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2