
Prada Erky menyerahkan dua batang pisang pada Bang Arma dan Bang Ojaz. Rhena sangat murka pada Bang Arma karena sudah berani menggoda wanita.
Bang Arma dan Bang Ojaz pasrah saat Rhena meminta dua perwira tersebut berlari dari lokasi pesta warga sampai ke Batalyon untuk Bang Ojaz dan ke kompi untuk Bang Arma. Rika hanya bisa menangis kesal dan hanya mengikuti Rhena karena dirinya lebih melow.
"Lari sekarang..!!" Perintah Rhena.
"Erky nggak lari dek?" Tanya Bang Arma.
"Ok Erky nyetir mobil untuk Rhena sampai kompi." Jawab Rhena dan Bang Arma tidak bisa berbuat apapun. Apalagi saat Rhena sudah menjentikkan jari telunjuk, Om Erky menurut dan membuka pintu mobil untuk Rhena.
:
Nafas Bang Arma terengah-engah memasuki kawasan kompi saat Rhena meliriknya dari spion.
'B******n, ini dia satu makhluk yang tidak bisa ku lawan meskipun dia sudah berbuat ulah. Aku ini Dankinya tapi bisa-bisanya Rhena berbuat seakan aku ini wakilnya, bahkan Erky saja tidak bisa menolongku.'
"Masih kuat nggak??" Tanya Rhena pada orang yang salah. Mana mungkin seorang tentara tidak kuat berlari dalam jarak dua kilometer.
"Nggak kuat dek. Badan Abang sudah lemas." Ucapnya belaga daripada Rhena terus membuatnya susah. "Aaarrghh.." Bang Arma berjongkok meremas dadanya agar acting nya terlihat nyata.
Prada Erky seketika menghentikan mobilnya dan berlari melihat keadaan Pak Danki.
"Danki.. bagaimana keadaan Danki??" Prada Erky sudah cemas jika terjadi sesuatu pada komandan nya.
"Huusstt.. kamu bilang saja saya nggak kuat lari." Kata Bang Arma saat Prada Erky membantunya.
"Oohh siap..!!" Prada Erky tersenyum kecil melihat jahilnya sang Danki kala mengerjai istrinya yang sekarang sangat manja.
"Oomm.. bagaimana??" Tanya Rhena dari dalam mobil.
"Ijin Ibu, Danki tidak kuat lari. Danki sangat sibuk hingga kurang istirahat." Jawab Prada Erky.
Rhena yang ikut cemas segera turun dari dalam mobil.
__ADS_1
"Baaang..!!!" Rhena menggoyang lengan Bang Arma yang terbaring lemas di pinggir jalan.
"Om.. tolong panggilkan truk derek..!!" Pinta Rhena.
"Laah.. bukannya ambulance. Bagaimana sih dek..!!" Protes Bang Arma.
"Badan Abang besar, Om Erky nggak mungkin angkat Abang sendiri. Rhena juga nggak kuat Bang." Kata Rhena dengan ide brilian nya.
"Kenapa nggak truk keruk sekalian. Abang masih bisa kalau hanya jalan ke mobil saja."
Kening Rhena berkerut, dirinya cukup paham suara seseorang yang sedang kesakitan dan tidak. "Abang pura-pura ya??" Tanya Rhena penuh kecurigaan. "Orang sakit tidak akan bisa memilih sekalipun di angkut pakai gerobak sampah Bang."
Bang Arma kembali merebahkan diri. Ia takut kelicikannya akan terbongkar. "Abang benar-benar sakit."
"Syukurlah kalau benar-benar sakit. Sebab kalau tidaaaakk.. Rhena akan rontok kan gigi Abang..!!"
"Sakit.. benar dek. Abang sakit..!!" Bang Arma bersandar manja di bahu Rhena tapi istrinya itu sungguh sedang malas dan marah dengannya. "Kita nempel saja ya, biar si adek nggak buat mual."
"Rhena lebih memilih untuk mual, adek pasti paham alasan mamanya marah. Papanya terlalu banyak tingkah." Ucap Rhena tak main-main.
Braaaakk...
Bang Arma gelisah karena Rhena mengunci pintu kamar dan tidak mengijinkan dirinya untuk tidur di kamar.
"Duuuuhh.. dinginnya bukan main begini tapi malah harus tidur di luar. Kenapa tadi waktu di share di group tidak langsung ku tolak saja. Bukankah kedudukanku nyaris menyamai Danyon.. aku yang paling di tuakan disini." Gumamnya
"Ijin Danki.. arahan..!! apakah saya harus menunggu tau ada tugas lain?" Tanya Prada Erky yang masih setia berdiri di samping daun pintu.
tok.. tok.. tok..
Bang Arma melongok melihat siapa gerangan tengah malam begini bertamu di rumahnya.
"Aarr.. numpang tidur donk..!!" Suara Bang Ojaz semakin membuat kesal Bang Arma.
__ADS_1
Suami Rhena itu segera berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Dilihatnya Bang Ojaz memakai celana pendek, kaos oblong, sarung tersampir di pundak juga memakai peci model Unyil mirip dengan gaya Kabayan. Tak cukup dengan itu, Bang Ojaz membawa obor di tangan kanannya. Saat itu Prada Hendro mengikuti Bang Ojaz yang sedang membawa buntalan di pundaknya juga.
"Lu lagii.. luu lagiii. Gue juga di usir sama bini." Bang Arma pun mengeluh karena nasibnya tak kalah mengenaskan.
"Abang diam.. adek nggak mau dengar suara Papanya..!!" Teriak Rhena dari dalam kamar.
"Kalian tidak boleh kembali ke barak..!! Temani kami tidur di teras..!!" Perintah Bang Arma.
"Siap..!!"
"Siap Danki..!!" Jawab Prada Erky pasrah.
***
Bang Arma mencoba membangunkan Rhena berniat mengajaknya sholat subuh tapi pintu kamar tak kunjung terbuka.
Berkali-kali Bang Arma mengetuk pintu kamar. Ia pun sampai meninggikan nada suaranya tapi Rhena tak juga menjawab.
"Dek, buka lah pintunya..!! Sudah waktunya sholat subuh nih."
Tak lama pintu kamar Rhena terbuka. Istri Kapten Arma itu berdiri memakai mukena dan terlihat sangat cantik. "Siapa yang telat sholat subuh?? Blank perkara penyanyi seksi tadi??"
"Nggak dek."
"Nggak apa? Nggak bohong??" Tanya Rhena.
"Iyaa.. eehh nggak..!!" Jawab Bang Arma kelabakan.
.
.
.
__ADS_1
.