
Bang Rojaz membolak-balik pikiran setelah tadi sempat melamar Rhena. 'Apa Rhena akan menerima ku atau menolak ku.'
Tak lama ponsel Bang Rojaz berdering, ada panggilan telepon dari Rhena. Setengah mati Bang Rojaz gugup melihat nama wanita yang masih mengisi hatinya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, Bang Rojaz mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Assalamu'alaikum dek."
"Wa'alaikumsalam Bang. Hmm.. Abang ada waktu sebentar? Rhena ingin bicara..!!" Kata Rhena.
"Selalu ada waktu untukmu. Tunggu Abang datang ya..!!"
:
Setengah jam berlalu, Rhena masih memainkan jemarinya tanpa kata dan hanya duduk bersebelahan dengan Bang Rojaz yang sudah menghisap rokoknya ke enamnya.
"Sebenarnya mau bicara apa hanya mau Abang temani?" Tanya Bang Rojaz.
"Ehm.. benarkah Abang ingin kita menikah?"
"Apa Abang terlihat bercanda?" Bang Rojaz menghisap rokoknya lagi lalu membuangnya asal.
"Jangan di buang sembarangan Bang, Rhena capek nyapunya." Kata Rhena.
Bang Rojaz pun menarik nafas panjang lalu membuangnya kasar karena di puntung rokok ke enam ini Rhena baru menegurnya. Ianpun segera berdiri dan memunguti puntung rokoknya.
Rhena terus menatap punggung Bang Rojaz. Sejenak matanya terpejam. Ia terus teringat bayang almarhum Bang Arma tapi sekaligus mengingat ucap Bang Rojaz yang selama ini selalu ada untuknya.
"Kalau semua bukan mimpi.. sebenarnya Rhena mau menikah dengan Abang, tapi......."
"Tapi apa?" Bang Rojaz tak sabar lagi mendengar jawaban Rhena meskipun dirinya belum menatap wajah Rhena.
"Rhena belum bisa sepenuhnya melupakan Bang Arma."
Bang Rojaz membuang puntung rokok yang tadi dipungutnya dan di lemparkan masuk ke dalam tempat sampah.
__ADS_1
"Abang tidak memintamu melupakan almarhum Arma, dia tetap Papanya anak-anak. Kamu pun tau saya punya almarhumah Rika sebagai mamanya Shima dan Katon tapi kita harus sama-sama ingat.. Menjalin hubungan yang baru berarti juga menyimpan hubungan yang lama, yang pernah ada di dalam hidup kita. Biarkan mereka tenang. Kita bangun lembar kisah kita." Kata Bang Rojaz kembali mengambil rokoknya namun kemudian Rhena mengambil rokok tersebut dari tangan Bang Rojaz.
"Bisakah di kurangi? Rhena ingin umur Abang jauh lebih panjang."
"Apa ini artinya kamu mau kalau kita menikah??" Bang Rojaz memastikan dari raut wajah Rhena yang terus menatapnya.
Rhena mengangguk pelan menjawabnya.
"Kita sama-sama belajar dan berjuang bersama. Abang harap kamu pun juga bisa sabar dengan segala kemungkinan keadaan yang akan kita lewati."
"Iya Bang, Rhena ngerti." Kata Rhena menyanggupi.
"Kamu mau mahar apa dari Abang?" Tanya Bang Rojaz menawari karena tidak ingin menyia-nyiakan wanita yang masih ada di dalam hatinya.
"Rhena hanya ingin di sayangi dan tidak ingin di tinggalkan." Jawab Rhena.
"Itu sudah pasti dan tidak perlu kamu pertanyakan lagi. Istri Abang akan selalu menjadi prioritas dalam hidup Abang, dan kamu juga tidak perlu cemas.. anakmu juga anak Abang, Abang harap kamu pun bersedia belajar menyayangi Shima dan Katon..!!"
"Rhena juga mencintai mereka Bang."
Bang Rojaz menyerahkan seperangkat alat sholat, sejumlah uang sebesar tanggal kelahiran Rhena sebagai mahar dan tak lupa dengan sebuah sepeda kayuh tua kesayangan milik Bang Rojaz.
Rhena tidak ingin berlebihan dalam acara pernikahannya, cukup beberapa rekan di kantor saja yang menghadiri pernikahan dirinya dan Bang Rojaz.
"Selamat menempuh hidup baru Bang..!! Semoga lekas mendapatkan momongan..!!" Kata Bang Musa yang kini lebih berbesar hati menerima kenyataan bahwa 'mungkin' dirinya bukanlah orang yang tepat untuk Rhena, itulah cerita hidup.. bagaimana pun kita memaksa namun jika bukan jodohnya.. semua akan berakhir sia-sia meskipun kita sudah mati-matian berjuang.
"Aamiin.. terima kasih banyak Sa, tapi saya tidak berharap banyak untuk punya anak. Kalau Nyonya bilang oke.. ya saya tabrak palang, tapi kalau Nyonya tidak bersedia ya saya tahan. Lagipula yang hamil bukan saya." Jawab Bang Rojaz meskipun di dalam hatinya juga ingin sekali saja punya anak dari Rhena sebagai bukti cintanya untuk sang istri.
"Siaaapp.. yang jelas selamat Bang. Bahagia selalu bersama Rhena dan anak-anak." Do'a tulus dari Bang Musa.
...
Di Kompi, Bang Rojaz mengadakan syukuran kecil-kecilan untuk acara pernikahannya dengan Rhena.
__ADS_1
Mata elangnya sesekali melirik Rhena yang sudah kembali bisa terlihat berbaur bersama para istri rekan anggota yang lain. Senyum Rhena begitu menggugah imajinasi dan fantasi liar yang hadir tidak tepat pada waktunya.
'Ya Allah, begini amat ya rasanya lima bulan nahan. Bagaimana caranya dulu Arma bisa kuat nahan kangen sampai tiga tahun? Luar biasa.. tapi sekalinya Arma ketemu Rhena langsung goal. Cckk.. bagaimana kalau ternyata Rhena masih terbayang semua tentang Arma. Bagaimana kalau Arma masih terngiang di dalam benaknya??'
Bang Rojaz mengalihkan pandangan menuju cermin full body dan kemudian berkaca untuk melihat bentuk tubuhnya sendiri.
"Aku masih gagah khan ya??" Tangan itu mengangkat pakaiannya untuk melihat perut sixpack nya. "Deehh.. aku bisa gila gara-gara kesal sama Arma yang sudah nggak ada." Gerutunya.
"Ijin Dan, Danki panggil saya??" Tanya Prada Erky.
"Iyaa.. sini Ky..!!" Kata Bang Rojaz menarik lengan Prada Erky.
"Siap.. ada apa Dan?"
"Tolong belikan saya sesuatu di toko jamu ujung perempatan..!!" Pinta Bang Rojaz berbisik lirih.
"Jamu kuat Dan??" Tanya Prada Erky.
"Kamu meremehkan saya??? Jamu pegel linu..!!" Ucap Bang Rojaz sedikit kesal sambil memberikan uang pada Prada Erky.
"Siap..!!" Prada Erky pun melangkah pergi.
"Eeehh.. Kyy..!!!"
"Siap.. arahan..!!!"
"Sama... Pil cap naga." Pinta Bang Rojaz kemudian.
"Siaaaapp.."
.
.
__ADS_1
.
.