Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
29. Masih berantakan.


__ADS_3

POV Bang Armayudha and flashback on..


Entah sudah berapa lama kamu tidak disini. Setiap hariku terasa hampa. Saat ini aku bersujud merajuk pada Sang Pencipta memohon agar kau kembali padaku lagi, namun aku tak yakin Tuhan mengabulkan harapku yang masih mendekat pada maksiat dan hitamnya dunia. Kehilanganmu jelas membuatku terpukul. Semua karena kesalahan fatal yang telah kubuat. Kuakui diriku begitu lemah dan rapuh tanpa hadirmu. Yaa.. aku tidak sanggup kehilanganmu sayang.'


Kepalaku terasa pening berputar-putar. Nafasku mulai tak beraturan. Kuraba benda di balik ranjang, aku membakarnya dan menghisapnya lagi. Seketika gelisah di dadaku perlahan memudar, tubuhku rileks, sejenak pikiranku melayang terbang. Aku tau aku salah besar tapi hanya dengan benda ini aku merasa dirimu ada dan nyata, sedang menemaniku dalam fana.


"Hhkkk.." Bang Arma berlari ke kamar mandi. Tak tau mulai kapan dirinya terserang mual. Rasanya tiada hari tanpa mual, terutama pagi dan malam hari. "Aku kena penyakit apa??" Gumamnya kemudian kembali muntah.


POV Bang Armayudha and flashback off.


//


"Bu, di minum dulu susunya." Emak sangat berterima kasih pada Rhena yang telah mengangkat derajatnya. Kini Rhena memanggilnya 'Bibi' sesuai dengan permintaannya.


Rhena menjual tanahnya dan membeli rumah di luar kota, di luar pulau Jawa. Rhena pun memiliki usaha peternakan juga mendirikan usaha laundry.


"Eneg Bi." Tolak Rhena.


"Kasihan jabang bayinya Bu. Ayo di minum sedikit." Bujuk Bibi.


"Saya ingat wajah papanya lagi Bi. Rasanya sangat kesal." Ucap Rhena.


"Papanya ganteng ya Bu?"


"Nggak. Pendek, hitam, kucel, rambut gondrong, berkumis tebal, bau kaos kaki, amburadul semua. Kata Rhena geram.


"Astagfirullah hal adzim.. amit-amit jabang bayi lanang wedhok, itu Papanya titisan jenglot???? Ayo cepat di minum Buu.. takut si adek jadi mirip Papanya." Bibi menyodorkan gelas ke bibir Rhena dan ajaibnya Rhena menenggaknya sampai habis dan banyak perlawanan.


Bibi tersenyum lega akhirnya masih ada susu yang bisa masuk ke perut bumil. Jujur hatinya sangat senang bisa hidup bersama Rhena yang lembut hati.


\=\=\=


Usia delapan bulan kandungan Rhena, ia mulai kesulitan untuk berdiri.


"Biiii.. tolong bantu saya..!!"


"Duuh.. ibu mau kemana? Loudry sudah ada yang menangani, ibu istirahat saja di kamar..!!" Kata Bibi.


"Saya pengen makan yang asam-asam Bi." Pinta Rhena mengusap perutnya.


//


"Ijin Dan, masih kurang?" Tanya Pratu Wahyu.


"Lagi yu, jatuhkan semua mangganya..!!" Perintah Bang Arma.


"Mas, Rika juga mau donk..!!" Rengek Rika menggoyang lengan Bang Ojaz karena istri Kapten Rojaz sedang hamil empat bulan.


"Yu, bagi sedikit donk..!!" Pinta Bang Ojaz, sejak hari itu hubungan pertemanan dirinya dan Bang Arma masih belum begitu membaik, tak seperti dulu.


"Eehh Rika, mau juga ya. Ini Abang bagi." Suara Bang Arma begitu lembut di depan istri sahabatnya. Ia mendekati Rika.

__ADS_1


Bang Ojaz beralih mendekati Rika dengan hati-hati. Beberapa bulan ini Kapten Arma sedang tidak terkontrol, ia takut mungkin saat ini Kapten Arma sedang mabuk.


"Terima kasih Bang." Kata Rika.


"Bini lu cantik juga Jaz." Lirikan Bang Arma dengan senyum nakal khas pria.


"Ar, lu nggak mabuk khan?" Tanya Bang Ojaz cemas.


"Sepertinya gue naksir istri lu Jaz."


Amarah Bang Ojaz terpancing mendengarnya, jemarinya mengepal kesal tapi Rika menahannya.


"Abang.. boleh Rika bicara?"


"Apa?" Bang Arma kembali pada wajah datarnya.


Rika tersenyum, ia tau Bang Arma tidak sejahat itu sampai berani mencintai istri orang.


"Atas nama Mas Ojaz, Rika memohon maaf. Bang Ojaz dulu sering mencuri waktu untuk melihat Rhena bersama Riri sampai mencuri fotonya.


Bang Ojaz ingin mencegah istrinya bicara tapi Rika tak tahan lagi dan berusaha menyelesaikan masalah ini.


"Biarkan Rika bicara Mas, hidup kita tidak akan tenang kalau setiap hari Mas Ojaz terus hidup berbayang kesalahan. Ampunan dari Bang Arma khan yang Mas inginkan karena pernah mencintai istrinya." Kata Rika.


Bang Arma cukup kaget mendengar pernyataan Rika. Tidak mudah bagi seorang wanita mendapatkan kejujuran dari pasangan hidupnya, mungkin Rhena pun tidak setabah Rika tapi ia memaklumi, kehidupan Rhena yang sangat pahit membuatnya berontak dan menginginkan secercah kebahagiaan di dalam hatinya.


"Saya juga salah, tapi saya tidak bisa memaafkan suamimu." Ucap jujur Bang Arma.


Perasaan Bang Arma masih terasa berat dan setengah hati tapi mengingat kehamilan Rika membuatnya tidak tega juga apalagi saat ini jika Rhena tidak kehilangan bayinya pasti sudah nyaris mendekati usia kehamilan sembilan bulan.


Bang Arma terpaksa menarik senyumnya sembari menyerahkan beberapa buah mangga muda. "Ini untukmu bumil cantik..!! Aku memaafkan tikus curut peliharaanmu."


"Yang benar Bang??" Rika terkejut dan memastikan pendengarannya.


"Iya, demi kamu." Jawab Bang Arma kemudian bermain mata.


"Kalau Rhena lihat pasti bola matamu itu di coloknya..!!" Tegur Bang Ojaz menahan kesalnya.


"Nggak usah ge'er, ikhlasku hanya jika anakku kembali." Bang Arma meninggalkan tempat, setiap mengingat Rhena hatinya akan terasa sakit karena semakin hari rindunya semakin membuncah.


Bang Arma menepi dan masuk ke dalam toilet Batalyon.


:


"Ijin Dan, komandan baik-baik saja?" Pratu Wahyu mengetuk pintu toilet karena sudah lebih dari setengah jam Kapten Arma belum keluar dari toilet.


Tak ada jawaban. Bang Renash yang siang itu mengawasi patroli tak sengaja melihat kecemasan Pratu Wahyu.


"Ada apa Yu?"


"Ijin.. Kapten Arma tidak kunjung keluar dari toilet, saya takut beliau pingsan atau lemas karena mual." Jawab Pratu Wahyu.

__ADS_1


Bang Renash menengok dan menyisir ke sekitar, perasaannya begitu tidak enak. "Lihat keadaan sekitar.. aman atau tidak??"


Pratu Wahyu sudah memastikan keamanan, ia pun memberikan tanda jempolnya.


"Ayo dobrak..!!" Perintah Bang Renash.


braaaakk..


Mata Bang Renash membulat besar melihat Bang Arma sedang duduk melebarkan kaki dan bersandar rileks. Di jemarinya menjepit rokok yang tidak sewajarnya.


"Astaga Aaarrr, keblinger tenan kamu ya..!!!!"


plaaakk..


Bang Renash begitu kesal sampai menampari pipi Bang Arma kemudian menghajar Bang Arma karena ketahuan sedang mengkonsumsi barang haram di dalam toilet Batalyon.


baagghh.. buugghh.. baagghh.. buugghh..


"Kenapa kamu memperburuk hidupmu sendiri Ar.. Abang tau kamu rindu Rhena, tapi keadaan sudah memaksamu berpisah."


Bang Arma menggelinjang karena Abangnya membuatnya hampir mati.


"Taruhannya nyawa, pekerjaanmu.. dimana otakmu Armaaa???? Bagaimana kalau orang tua kita tau anaknya bermasalah seperti ini?? Apa kamu nggak kasihan ayah ibu? Go***k kamu."


"Rhena?? Anakku.. apa dia sudah lahir?" Gumam lirih Bang Arma.


"Darimana dia dapat barang ini??" semakin pening memikirkan adiknya yang semakin brutal.


Semarah-marahnya seorang Abang akhirnya Bang Renash membantu membawa Bang Arma bersembunyi jauh di belakang bukit yang dingin dan sepi.


//


"Aaarrghh.. Biiii.. badan saya kenapa sakit sekali? Seperti di pukuli Bi." teriak Rhena tiba-tiba.


Bibi kebingungan karena tidak seperti biasanya Rhena merasa kesakitan.


"Bibi bantu Bu..!!" Bibi mencoba membantu Rhena tapi perutnya semakin terasa tak karuan.


//


Jauh di sana Bang Arma meremas perutnya. "Allahu Akbar, sakitnya perutku.. Aaaaaa.. ampun Ya Allah..!!"


Bang Renash sejenak terpaku melihat adiknya berguling-guling merasakan sakit di hamparan tanah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2