
Bang Arma hendak bertanya tapi dirinya harus melaksanakan ritual penyambutan anggota baru.
Mau tidak mau meskipun dirinya adalah komandan tertinggi di Kompi tersebut, dirinya tetap ikut peraturan agar tidak ada kesenjangan dengan anak buahnya.
Beberapa prajurit yang baru tiba pun ikut ritual penyambutan tersebut. Kali ini ajudan yang datang bersamanya adalah Prada Erky. Hanya Bang Ojaz di Batalyon sebelah yang tidak mengikuti kegiatan ritual Batalyon karena Kompi Bang Arma sudah berdiri sendiri.
Bang Arma berguling, merangkak ke dalam kubangan lumpur. Belum sampai di situ, Bang Arma masih harus tumbling dan rolling mengelilingi lapangan.
Anggota disana menyudahi acara tersebut karena merasa tidak enak juga meminta Danki killer harus me
"Kami menghaturkan terima kasih banyak kepada Danki yang sudah berkenan ikut tradisi masuk ke dalam Kompi."
"Sama-sama." Jawab Bang Arma sembari mengibaskan pakaiannya yang terkenal noda lumpur.
Anggota berlarian di belakang punggung Bang Arma, membawakan pakaiannya kemudian handuk agar Bang Arma bisa membersihkan diri dulu sebelum di antar ke rumah dinasnya.
"Ada Loudry di sekitar sini?" Tanya Bang Arma, tangannya sibuk melepas kancing bajunya.
"Ijin.. ada Bang. Nanti biar saya bawa baju Abang." Kata Bang Musa.
"Oke.. tolong ya Sa..!!"
"Siap..!!"
"Yang ekspress ya, Besok pagi mau saya pakai tatap muka dengan prajurit. Seragam saya yang satu lagi belum di jahit badge nya."
"Siap Abaang..!!"
...
__ADS_1
Rhena menerima pakaian kotor dari Bang Musa, pakaian Danki barunya yang baru saja ikut tradisi masuk kompi sebelum menjajaki masa kepemimpinannya.
"Nanti Rhena yang cuci sendiri Bang, takut pegawainya Rhena teledor mengurus pakaian anggota. Kainnya harus di perlakukan khusus."
"Kalau begitu biar Abang saja yang mencucinya. Nanti tanganmu kasar karena banyak kerja keras." Bang Musa mengambil kantong baju itu lagi tapi Rhena menepaknya.
"Ini pekerjaan Rhena Bang. Biarkan Rhena bekerja secara terhormat untuk menghidupi anak Rhena."
"Abang sanggup menghidupi kamu dan anakmu Rhena. Apa yang kamu inginkan akan Abang turuti." Janji Bang Musa.
"Terima kasih Bang. Rhena sudah puas, meskipun hanya hidup sederhana tapi hati Rhena tenang." Jawab Rhena menolak halus permintaan Bang Musa yang hingga kini belum pernah ia loloskan.
:
Rhena mengguyur pakaian loreng tersebut pada air mengalir, syok teramat sangat ia rasakan saat melihat nama dada di seragam loreng tersebut. L. ARMAYUDHA.
Rhena masih berusaha menenangka batinnya namun saat matanya melihat pangkat Kapten di Krah seragam itu baru Rhena benar-benar sadar bahwa pria yang saat ini menjabat sebagai Danki kompi BS penyerang adalah mantan suaminya.. Lanang Armayudha.
"Lama sekali aku tidak melihat seragam ini? Seperti apa wajahnya sekarang? Bagaimana rupa istrinya? Danki tidak mungkin sendiri khan?" Gumamnya.
Rhena melihat kancing bagian bawah seragam itu terlepas. Ia hanya menghela nafas panjang. "Hal remeh saja tidak bisa lakukan. Masih sama seperti yang dulu."
Flashback Rhena on..
"Baang, lepas dulu donk.. ini kancingnya lepas. Mau Rhena jahit..!!"
"Jahit saja, Abang diam. Nggak akan menggangumu..!!" Kata Bang Arma menggoda Rhena yang hendak menjahit bajunya.
"Pamali Bang."
__ADS_1
"Yang ada Pak Arma. Mau kenalan?" Jawab Bang Arma.
Rhena melirik kesal. "Sudah kenal, sangat kenal..!!"
Bang Arma merebahkan dirinya di ranjang, senyumnya tersungging nakal. "Sini.. jahit dulu. Apa kamu perempuan lain yang lihat gagahnya suamimu?"
Rhena duduk di ranjang dan membungkuk menjahit kancing baju Bang Arma tapi siapa sangka Bang Arma menariknya masuk ke dalam pelukan.
"Abang obras yang ini dulu..!!"
"Baaang..!!"
Flashback Rhena off..
Rhena memejamkan mata, setitik cairan bening membasahi pipi. "Aku tidak mencintaimu lagi Bang, semua hanya mimpi.. mimpi pernah bertemu pria sepertimu..!!" Rhena sesenggukan menangis. Rasanya nyaris tidak sanggup menyelesaikan pekerjaannya tapi ia harus profesional dalam bekerja.
...
Bang Arma mengusap dadanya, rasanya begitu pedih saat mengingat hari bersama Rhena yang begitu singkat, beberapa waktu yang lalu dirinya sempat baku hantam dengan Bang Renash dan kemarin dengan Danyon karena sudah memindahkannya ke daerah di luar pulau Jawa yang lumayan jauh dari kota.
Niat mencari Rhena semakin tipis. Ingin menangis tapi air matanya terasa kering. Jejak Rhena hilang entah kemana.
"Abang kangen, kangen sekali sama kamu. Apa kamu baik-baik saja disana sayang?" Gumamnya.
Bang Arma memercing, tiba-tiba badannya terasa sangat sakit. Seluruh persendiannya ngilu tak tertahan. 'Aku tidak tau, berapa lama akan terlepas dari jerat benda haram ini, atau mungkin aku akan mati karena barang haram ini. Aku gagal, gagal menjagamu. Jika saat ini aku mati, kelak aku akan memohon dan meratap pada Tuhan agar mempersatukan kita kembali dan aku akan mengubah sikap buruk ku padamu. Aku sungguh menyayangi mu melebihi apapun Rhena."
.
.
__ADS_1
.
.