
Sorot mata Bang Arma tak bisa lagi di toleransi. Rhena baru saja tersadar tapi harus menatap mata merah penuh amarah dari suaminya.
"Bisa-bisanya kamu melayaniku dengan mengorbankan nyawa anak kita." Ucap Bang Arma tak bisa menahan rasa marahnya.
"Ar.. tahan emosimu..!!" Bang Muksin mencoba menenangkan Bang Arma dengan emosinya yang cukup tinggi.
"Kamu tau saya menunggunya. Saya akan korbankan apapun demi anak itu. Apa alasanmu tidak bilang soal kandunganmu ini???? Kamu mau buat saya kalang kabut seperti apa lagi??? Sekarang kamu benar-benar pendarahan, saya merasa bodoh karena ulahmu Rhena?? Saya juga bukan binatang yang tega melakukannya kalau saya tau semua berbahaya untuk kamu dan anak kita..!!!!!" Bentakan Bang Arma terdengar sampai luar rumah dan hal itu mengundang Bang Renash yang berlari melihat apa yang terjadi dengan adiknya.
Rhena terisak mendapatkan amarah dari Bang Arma. Baru kali ini suaminya begitu marah sampai tak peduli dengan apapun lagi.
"Saya tidak akan mengampuni kamu kalau sampai ada apa-apa dengan anak itu..!!!" Ucap tegas Bang Arma.
"Ono opo Ar, suaramu iku lho."
"Tanyakan sama Rhena sendiri..!!". Bang Arma menyambar rokok dan keluar dari kamar.
Secepatnya Mbak Geeta dan Anin memeluk Rhena untuk menenangkan Rhena.
Bang Muksin dan Bang Renash secepatnya menenangkan Rhena.
:
"Abang tau kamu marah, tapi Rhena juga tidak akan kuat mendengar bentakanmu Ar. Suaramu itu bisa sampai menusuk hatinya. Perempuan tidak akan berbuat seperti itu tanpa alasan. Dengarkan dulu apa inginnya, jangan langsung kamu marahi, mentalnya bisa down." Kata Bang Renash menasihati.
"Aku juga nggak kalah down Bang. 'Ngekep' istri sudah nggak ingat bumi tapi Rhena malah sengaja nggak bilang kalau kandungannya bermasalah. Kesannya aku ini nggak bisa menjaga anakku..!!"
__ADS_1
Bang Renash mendekap adiknya lalu menyelipkan sebatang rokok di bibir Bang Arma agar adiknya bisa sedikit lebih tenang.
"Apa amarah bisa membuat masalah ini selesai?? Semakin Rhena stress, semakin anakmu terancam. Bersabarlah sedikit, ini memang ujian rumah tanggamu..!!" Bang Renash kembali memberi nasihat untuk adiknya.
"Anakmu pasti baik-baik saja Ar. Aku sudah memberikan obat yang paten untuk kandungan Rhena. Bicaralah kalian berdua, jangan di kendalikan emosimu..!!!"
Bang Arma menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap ke segala arah. Jelas sekali perasaannya masih berantakan, ia hanya bisa mengusap dadanya menenangkan diri dan membolak balik pikiran agar hatinya tenang namun apa yang di rasakannya hari ini masih sungguh membekas dan membuatnya sangat ketakutan.
"Bang, Rhena demam tinggi..!!" Lapor Anin mengabarkan kondisi Rhena pada Bang Muksin.
Meskipun masih dalam keadaan marah, Bang Arma yang tidak tega tetap menghampiri Rhena.
~
Rhena menggigil dan terus mengigau. Istri Letnan Arma itu terus mengucap kata maaf. Tangisnya terus terdengar sesak.
Bang Arma terus memperhatikan raut wajah Rhena lalu menyentuh tangannya. Perlahan ia membuang nafas yang terasa menyesakkan rongga dada. Masih terasa berat meskipun ada sedikit kelegaan. "Astagfirullah hal adzim.." sekuatnya Bang Arma menahan amarah.
Di atas nakas ada segelas air gula, entah siapa yang sudah membuatnya. Bang Arma menyuapi Rhena sesendok demi sesendok dan akhirnya Rhena terbangun.
Hal yang sempat terbersit dalam benak Bang Arma akhirnya terjadi juga. Rhena sangat takut melihatnya. Ia menekuk kakinya untuk bersembunyi dan melindungi diri.
"Rhena salah Bang, Rhena minta maaf. Maaf Rhena nggak bisa menyenangkan Abang. Jangan pukul Rhena lagi ya Bang..!!"
Bang Arma mencoba menyentuh Rhena tapi istrinya itu begitu histeris.
__ADS_1
"Jangan Baaang.. sakiit.. jangan pukul lagi..!!!!"
"Oohh Tuhan.. Abang harus bagaimana menghadapimu." Bang Arma memeluk Rhena meskipun istrinya memberontak dan berteriak, ia membaca beberapa do'a kemudian membuka jilbab sang istri dan meniup puncak kepalanya. "Lihat baik-baik.. ini Abang..!!" Ucapnya begitu lembut dan tidak menaikkan nada suara.
"Baang.. Rhenaa..!!!!" Ucap itu terbata karena masih takut dan menerka keadaan sekitar.
"Perutnya masih sakit?" Tanya Bang Arma sembari mengusap perut Rhena.
Rhena menggeleng melihat raut wajah Bang Arma.
Dikecupnya kening Rhena dengan penuh rasa sayang. "Kapan kamu bisa melupakan kepahitan dalam hidupmu? Bayangan rasa takutmu bisa menjadi duri dalam pernikahan kita. Abang sudah katakan tidak akan menyakitimu, Abang bukan pengecut seperti dia yang menggunakan tenaga untuk 'menusukmu' agar terlihat gagah."
Rhena bagai kehilangan kata. Rasa trauma itu begitu dalam hingga dirinya sangat takut melakukan kesalahan.
"Abang yang minta maaf, Abang kurang mengerti perasaanmu." Ucap Bang Arma memilih mengalah demi calon bayi yang ada di dalam perut Rhena.
"Tinggalkan saja Rhena Bang, Rhena ini orang gila..!!!! Tidak seharusnya pria berkedudukan menikahi wanita dengan gangguan mental." Kata Rhena. Frustasinya Rhena sungguh memukul batin Bang Arma.
"Kamu sehat, kamu baik-baik saja..!!" Bujuk Bang Arma mengarahkan pandangan Rhena agar menatapnya. "Kamu hanya belum bisa melupakan kenangan burukmu." Tersirat rasa bersalah dalam hati Bang Arma tapi sebagai seorang suami dirinya juga tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi pada Rhena dan calon anaknya.
.
.
.
__ADS_1
.