Kesayangan Bang Kapten.

Kesayangan Bang Kapten.
42. Tenggelam.


__ADS_3

Jdeeerr..


Rhena menutup pintu kembali dengan suara kencang.


"Ya Allah Ya Rabb.. salah lagi. Kapan aku nggak salah di matanya yang sipit itu." Bang Arma menepuk dahinya.


"Rheeenn.. lu di katain Arma..!!!!" Teriak Bang Ojaz tidak ingin merasa susah sendiri karena dirinya pun baru saja di tolak Rika.


Mata Bang Arma membulat besar cemas ucap sahabatnya itu akan membuat Rhena semakin marah padanya.


"Pergi kalian semuaaa..!!!"


Bang Ojaz tersenyum penuh kepuasan karena dirinya mendapatkan teman hidup susah.


...


Asap rokok berhembus terbawa angin. Disana Bang Arma masih setia duduk seorang diri sambil mengangkat sebelah kaki menatap ke arah burung yang sedang hinggap mencari makan.


"Ijin Dan, sudah waktunya kegiatan jasmani." Kata Prada Erky mengingatkan Dankinya.


"Ada kegiatan apa hari ini? Saya nggak monitor kegiatan." Tanya Bang Arma.


"Ijin.. hari ini ada kegiatan berenang di kolam sebelah. Apa Danki berkenan ikut kegiatan?"


"Aahh saya malas." Jawab Bang Arma kehilangan semangat tapi sesaat kemudian terbersit sebuah ide di kepalanya.


:


Rhena berjalan cepat membawa wajah cemas. Kerudungnya sampai miring saking kagetnya mendengar laporan dari Prada Erky.


"Kalau memang Bang Ar tidak bisa berenang kenapa harus ikut berenang Om?????"

__ADS_1


"Ijin.. Pak Arma frustasi karena ibu tidak mau menerima beliau lagi." Kata Om Erky saat itu, sesuai dengan arahan Bang Arma.


Om Erky sempat cemas tapi ternyata benar, Ibu Danki memang seorang yang panikan dan tidak bisa berpikir jernih saking polosnya. Ia pun segera membuka gerbang ke arah kolam renang untuk Rhena.


"Abaaaang..!!" Teriak Rhena tepat saat Bang Arma sudah bersiap meluncur ke kolam renang sedalam dua setengah meter.


"Biaar.. Biar saja Abang tenggelam. Kalau Abang mati, hidupmu pasti jauh lebih bahagia.. Nggak ada yang membuatmu marah dan kesal lagi." Kata Bang Arma.


"Nggak usah macam-macam Bang, Abang nggak bisa berenang."


Bang Arma langsung masuk ke dalam kolam renang seolah tak mendengar ucap Rhena. Rhena pun kelabakan dan berteriak-teriak meminta tolong pada anggota yang lain.


Para anggota sempat bingung tapi akhirnya nyaris seluruh anggota ikut masuk ke dalam kolam renang karena mencemaskan Danki mereka yang sudah melambaikan tangan membutuhkan pertolongan.


"Abaaaang..!!!!!!" Rhena histeris dan nyaris bertindak bodoh ingin ikut melompat masuk ke dalam kolam renang.


"Ibuu.. jangan...!!!!!" Cegah Prada Erky panik.


Tak lama para anggota berhasil membawa Bang Arma ke tepi. Tanpa memikirkan hal lain, Rhena berlari menghampiri Bang Arma.


"Abaaaang.. bangun Bang..!!!!" Pinta Rhena dengan suara sesaknya.


"Ibu.. ijin....." Prada Erky ingin menenangkan Rhena tapi istri Dankinya itu terlihat begitu sedih.


"Rhena akan melupakan dan mengikhlaskan kepergian Ayah. Tidak akan membahasnya di kemudian hari." Janji Rhena saat melihat Bang Arma mendapatkan 'penanganan' dari para rekan.


"Nafasnya................"


"Abaaaang..!!!!!!" Rhena semakin histeris saat seorang anggotanya berbicara dengan wajah yang sulit di jelaskan. "Rhena cinta sama Abang." Ucap itu terlontar begitu saja dari mulut Rhena. Sungguh dirinya sangat takut kehilangan Bang Arma. Tubuhnya begitu lemah dan ambruk memeluk Bang Arma dengan isakan tangisnya yang begitu pilu.


Lama semakin lama Bang Arma tidak tega juga melihat Rhena terus menangis sedih. Ia pun membuka matanya. Punggung jari tengahnya menyentil kening Rhena.

__ADS_1


"Abang tidak bilang kamu bo*oh, hanya kurang pintar saja. Bagaimana mungkin seorang tentara tidak bisa berenang apalagi Abang ini atlet. Apa dulu saat seleksi panitianya tidak bisa membaca sampai bisa meloloskanmu."


"Abang nggak tenggelam????" Tanya Rhena dengan lugunya.


"Mau jadi apa bangsa ini kalau tentaranya tenggelam di kolam renang, moment latihan lagi." Jawab Bang Arma.


Plaaakk..


Rhena menepak bahu Bang Arma sekuatnya.


"Apa maksud Abang???? Rhena ketakutan setengah mati lihat Abang tenggelam tapi ternyata Abang hanya pura-pura. Rhena nggak suka Bang, Rhena benci Abang..!!!!!" Rhena menangis dan kesal lalu berlari pulang.


"Deeekk..!!!" Bang Arma berusaha bangkit tapi tiba-tiba kepalanya terasa pening berputar-putar. "Ya ampun kenapa bisa jadi begini sih???? Kalau sudah bermasalah dengan bumil.. pintu neraka terasa terbuka lebar." Gumam Bang Arma tapi saat tubuhnya berdiri tegak, rasa mual terasa menyerang hebat, lambungnya bak mesin cuci yang berputar. "Kejar istri saya..!!" Pinta Bang Arma pada Prada Erky.


Pandangan mata Bang Arma seketika kabur tak dapat melihat sekeliling dengan jelas.


"Hhhkkk..!!" Beberapa detik kemudian Bang Arma terhuyung dan masuk ke dalam kolam renang.


byuuuuurr..


"Dankiiiiii..!!!!!!!" Pekik Prada Erky langsung berbalik arah sembari melempar segala apapun yang ada di kantong dan ikut masuk ke dalam kolam renang.


Para anggota kembali masuk ke dalam kolam renang. Rhena pun melihatnya namun karena satu kali sudah merasa di bohongi, ia pun tak lagi percaya dan tetap melanjutkan langkahnya.


"Ambulans.. Ijin.. tolong panggil ambulans..!! Nafas Danki melemah..!!" Pinta Prada Erky sambil menolong Dankinya.


Melihat kepanikan di sekitar kolam, Rhena pun terusik kembali. "Tenggelam benar atau tidak sih??"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2