Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
10| Bertahanlah


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Tepat saat anak panah menghujam punggung, bersamaan itu Gaia mendapati pupil mata Rahid bergetar, ekspresi yang tujukkan seperti melihat kematian orang lain yang ia sayangi dan Gaia tahu orang itu adalah ibunya yang mati karena kutukan.


Kedua tangan besar Rahid memeluk erat punggungnya yang perlahan dingin dan basah oleh darah, Gaia bisa tahu betapa terkejutnya Rahid hanya dari getaran mata dan tangannya saat ini. Bibir tiran itu sampai membuat celah, tak mampu mengeluarkan kalimat apapun.


Kemudian, hal yang dipikirkan Gaia setelah mendapati Rahid dalam kondisi itu adalah apakah jika ia mati, kematiannya akan dianggap menyedihkan? Padahal jelas sekali saat Rahid bilang bahwa ibunya mati menyedihkan, raut wajah pria itu penuh rasa sesal, tak berdaya, dan sedih mendalam. Hal itu membuktikan bahwa Rahid menyalahkan diri karena ibunya harus mati seperti itu di depannya tanpa tahu apa yang harus diperbuatnya. Lalu, sekarang Gaia bisa melihat dengan jelas bagaimana luka-luka itu terpancar dari mata sang tiran yang selalu mengintimidasi.


Maka dari itu, Gaia tidak memikirkan cara lain untuk membuat Rahid tidak menganggap situasi ini sebagai kejadian sama seperti di masa lalu yang menyakitkan.


"Jika terjadi sesuatu padaku, ini bukan salahmu. Kumohon jangan menyalahkan diri."


Setelah berkata demikian tubuh Gaia jadi berat, kesadarannya semakin tipis dalam dekapan Rahid. Di sisi lain, setelah mendengar seruan Gaia menyebut nama tuannya, Argio dan Eslan muncul tanpa permisi saat mendobrak pintu balkon.


"Cepat panggil dokter istana!" perintah Rahid pada Eslan. Lantas matanya beralih pada Argio yang sudah pucat melihat kondisi Gaia yang bersimbah darah.


"Pimpin Invicta untuk menangkap semua penyusup di istana. Jangan sampai pria yang bersembunyi di menara itu lolos, Argio!"


Argio langsung berlari mencari Rasila agar membagi anggota berpencar dan menangkap penyusup sementara dirinya langsung memisahkan diri untuk meringkus orang yang dimaksud Rahid bersembunyi di menara.


Setelah pintu balkon terbuka lebar, para tamu bangsawan terpaku memandangi hal tersebut, pesta menjadi hening namun teriakan Wysia menyadarkan mereka.


"Kakak!"


Wysia menatap nelangsa kakaknya dalam dekapan Rahid dengan sebuah panah menancap di punggung. Hera tak percaya apa yang dilihatnya sekarang, saat hendak melangkah meraih putrinya itu, kesadarannya mulai raib, untung saja Abian langsung menangkap tubuh sang istri.


Dokter telah tiba, napasnya tersenggal-senggal, Eslan pun sudah mengutus seseorang ke Sanctia agar memanggil Sain kemudian putra viscount tersebut memberi perintah pada para penjaga untuk membuat tirai penutup agar seluruh perhatian tidak melihat apa yang terjadi di balkon lebih lama.

__ADS_1


Rahid sengaja tidak meninggalkan posisi dan membuat banyak pergerakan, khawatir jika itu justru menyakiti dan memperparah luka di punggung Gaia. Dokter Fu membenarkan tindakan Rahid kemudian mengeluarkan alat-alat dan fokus pada punggung Gaia.


Saat ini, Rahid memeluk Gaia sambil menyandar di pagar balkon. Dokter mulai merobek gaun Gaia di area luka berada dan secara hati-hati mematahkan sisa panah hingga bersih, mencabut anak panah agar tidak merusak jaringan di sekitarnya.


"Tolong tahan dan tetap jaga kesadaran anda, Nona." Dokter menyadari bahwa Gaia sedikit mengejang setiap kali ia menyetuh luka.


Peluh mebanjiri tubuh Gaia dan Rahid berusaha menenangkannya dengan mengusap puncak kepala Gaia berkali-kali dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di kepala.


"Kumohon bertahanlah." Rahid menggumamkan itu berkali-kali, membiarkan kedua tangan Gaia mencengkeram kuat punggungnya.


Wysia tergugu menyaksikan pasangan itu. Saat ini yang paling membantu adalah Rahid dan Wysia tidak bisa menyalahkan pria itu atas apa yang kakaknya alami.


"Saya sudah mengobatinya, lukanya memang cukup dalam tapi tidak sampai merobek arteri hingga terjadi pendarahan. Saya juga sudah memberi pertolongan, tapi sepertinya anak panah ini sudah dilumuri sesuatu." Dokter mengerutkan dahi cemas melihat punggung Gaia memunculkan urat hitam di seluruh permukaan punggung dan itu melipat gandakan rasa sakit.


"Kutukan ... " Rahid benar-benar murka melihat apa yang terpampang di mata panah tersebut.


Eslan langsung masuk dan menjawab. "Sebentar lagi pendeta akan datang, Yang Mulia."


"Apakah saya bisa memindahkannya?" Rahid bertanya pada dokter.


"Tentu, Yang Mulia. Tolong perhatikan langkah anda saat membawanya."


Rahid lantas berdiri dengan Gaia di gendongannya, tetap dalam posisi yang sama sebelumnya. Lantas Rahid berakhir di kamar, membiarkan Gaia tetap terbaring di tubuhnya. Wanita berambut blonde itu masih mencengkeram kuat punggungnya dan itu mulai terasa perih karena kuku jari Gaia cukup panjang.


"Pendeta sudah datang, Yang Mulia."


Eslan langsung mempersilakan Sain masuk. Rahid tidak peduli seperti akan marah seperti sebelumnya dan langsung meminta Sain bergegas memeriksa luka Gaia.

__ADS_1


Jantung Sain berdegup lebih cepat. Ini pertama kali ia melihat Gaia tidak berdaya dan sangat sekarat seperti ini. Membayangkan Gaia mati saja membuatnya akan menangis hebat apalagi melihat langsung seperti itu.


"Ah!"


Sain terbelalak saat kekuatan sucinya ditolak oleh tubuh Gaia.


"Ada apa?" Rahid mengerutkan dahi.


"Kutukannya sudah masuk sangat dalam dan beradu dengan kekuatan suci dalam tubuhnya karena proses perlawanan besar itu, kekuatan saya ditolak. Sepertinya Gaia ingin menaklukkannya sendiri."


"Jadi maksudmu tidak ada yang bisa kita lakukan?"


Sain mengangguk lemah dan Rahid hanya mampu menahan deritan tajam sekitar giginya.


"Kalau begitu keluarlah."


Sain menggeleng dan menatap Rahid. "Saya mohon biarkan saya ikut menemaninya, Yang Mulia."


Tatapan Rahid berubah beringas. "Kamu tidak membantu apapun jika hanya diam memandanginya. Bawa dia keluar, Eslan."


Eslan merasa canggung saat mebdekati Sain yang tampak kecewa di balik kemarahannya pada perkataan Rahid. Padahal selama ini, ia lah yang menemani Gaia saat mengalami sakit karena tak mampu menahan besarnya kekuatan suci itu.


"Saya sungguh minta maaf, Pendeta." Eslan menunduk pada Sain yang sudah keluar dari kamar.


"Ini bukan salah, Tuan. Jika boleh, biarkan saya ikut berjaga disini bersama anda."


Eslan angguk kepala, tidak masalah jika berjaga di depan pintu sampai Rahid keluar dan mengatakan bahwa Gaia baik-baik saja.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2