Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
28| Berkat terakhir


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Jangan melawanku, Argio. Apa kamu mau melihat aku menebas lehernya disini ketimbang dibawa ke penjara?"


Tidak punya pilihan selain menurut, akhirnya Argio bersiap untuk meringkus Gaia ke penjara namun wanita berambut blonde tersebut menarik pedang Argio yang tersamping di pinggang untuk menangkis pedang sang tiran hingga terlepas dari genggaman dan secara bersamaan ia pun melepaskan pedang Argio ke lantai.


"Aku akan menerima hukuman, tapi jangan usik keluargaku."


"Aku akan mengeksekusi keluargamu."


"Penuhi kesepakatan yang kita buat. Aku akan memberi berkat terakhir untuk mengangkat semua kutukanmu itu tapi jangan beri hukuman pada keluargaku karena pelaku utama adalah aku."


Gaia lantas meraih paksa kedua tangan Rahid, menangkupnya sambil menyalirkan kekuatan suci luar biasa bedar hingga cahaya yang menyilaukan membungkus sekitar mereka, semua orang disana sampai menutup mata sementara mata Rahid melebar melihat rambut Gaia berubah keemasan bersamaan mata amber yang berubah jadi sangat jernih dan indah. Namun, itu tidak berjalan cukup lama sebab Gaia telah menarik diri dengan tubuh yang menjadi lemah dan menyentuh tangan Argio untuk tetap berdiri tegap.


"Sekarang bawa aku ke penjara."


Tanpa sepatah kata dan menatap Rahid lagi, ia langsung mengikuti Argio ke penjara sementara Rahid tercenung merasakan sekujur tubuhnya begitu ringan dan berenergi, tidak ada rasa menyakitkan apapun yang menusuk kulitnya setiap hari.


"Apa kamu pikir tindakanmu ini bisa meringankan hukuman?"


Gaia berhenti lalu melirik Rahid dengan kekecewaan. "Aku hanya memenuhi isi kontrak kita dan kuharap kamu tidak menyentuh keluargaku, sesuai kesepakatan kita. Aku bahkan tidak peduli jika kamu mengeksekusiku sekarang."


Setelahnya Gaia benar-benar menjauh, membiarkan Rahid bengong sambil menatap lekat punggungnya. Sekarang hanya tiang-tiang sel dan alas jerami yang terlihat di mata Gaia, lorong di depan hanya diterangi nyala api.


Perlahan matahari semakin rendah, ruang penjara pun kian gelap diringi udara dingin menusuk. Tidak lama seorang petugas datang membawa makanan ke dalam selnya namun meliriknya saja Gaia enggan. Jika terus berada dalam sel apakah rencana Haetric akan berhasil? Hanya itu yang terus mengusik pikirannya ditambah apakah Rahid benar-benar berniat menjadikan Irian sebagai ratu? Membayangkan saja membuat dadanya sesak, ia paham bahwa menyukai Rahid di kondisi seperti ini adalah kesia-siaan, lagi pula walau ia bisa mendapatkan cinta tiran itu, nasibnya tidak mendukung.


...***...


Esok harinya, kekacauan meledak di ibu kota sebelum merambat ke desa-desa. Secara tidak terduga penghuni di kediaman para bangsawan mengamuk, hilang akal dan berlarian keluar menyerang warga desa tak berhenti sampai disitu, duke agneto mengerahkan pasukan secara terang-terangan untuk mengepung istana karena dalam istana pun sebagian penghuniya menggila karena kutukan dan sihir hitam.


Di puncak menara yang terletak di tengah-tengah kota, Haetric melipat yangan di dada sambil merentangkan tangan, membiarkan aura kegelapan meluncur bebas dari telapak tangannya yang menari-nari seolah menjadi instruktur dalam pertunjukan musik. Senyum penyihir tersebut terulas amat lebar melihat asap membumbung di perkotaan, menyelimuti hari yang cerah dengan kabut pekat dari rumah-rumah yang dilahap api.


Sesuai rencananya, benda-benda itu bekerja dengan baik sehingga ia bisa mengendalikan beberapa manusia untuk menciptakan kekacauan lalu menebar kutukan. Hari ini dia akan melihat kehancuran Retkan, menikmati pemandangan dimana manusia yang hilang akal menyerang manusia yang masih berakal, ini sangat menyenangkan. Untung saja rencananya menjebak Isra membuat Gaia ditahan, jadi ia tidak perlu khawatir apabila rencana ini hancur.


Sementara di waktu bersamaan, Rahid langsung mengirim surat ke Damien untuk membantu kekacauan lalu memerintahkan marquess isra untuk mengevakuasi warga. Walau tahu Rahid menjadikan Gaia sebagai tahanan atas kejahatan yang tak dilakukan keluarganya, Marquess Isra tidak bisa diam saja menyaksikan korban berjatuhan.

__ADS_1


"Yang Mulia, Lady itu tampaknya tidak baik-baik saja."


Seorang penjaga penjara tergopoh-gopoh mendekati Rahid yang hendak melihat situasi di luar.


"Siapa?"


"Lady Gaia. Dia merintih kesakitan dan hidungnya terus mengeluarkan darah."


Tanpa pikir panjang, Rahid segera berlari ke penjara untuk melihat Gaia namun sesampai disana betapa tercengangnya ia melihat Gaia bersimpuh dengan kepala tertunduk. Gaun putih yang dikenakan wanita itu telah dipenuhi noda merah pekat, bukan hanya dari hidung tapi darah pun keluar dari mulutnya.


"B-buka selnya!"


Rahid langsung memberi perintah pada para penjaga kemudian masuk untuk membawa Gaia keluar.


"Apa seseorang meracuninya?" Rahid melirik petugas di sana.


"Tidak, Yang Mulia! Beliau bahkan tidak menyentuh makanannya."


"Cepat panggil pendeta!"


...***...


Saat ini Rahid bersama Argio menatap lekat-lekat dari kondisi di luar istana dari gedung tertinggi. Untung saja dinding istana dibangun sangat tinggi hingga manusia yang hilang akal itu tidak mampu memanjat juga tidak berhasil mendobrak pintu utama tapi lautan api menjadi pemandangan paling menyedihkan di pekatnya malam.


"Bagaimana ini Yang Mulia? Sepertinya ini akan berlangsung cukup lama." Argio tampak skeptis memandang kerumunan orang di luar istana.


"Kita tidak punya pilihan selain membunuh mereka yang menggila."


"Retkan akan hancur." Eslan ikut bergabung di sisi Rahid.


"Bagaimana dengan Lady Gaia? Bukankah dia mamp—"


"Apa kamu pikir dikondisinya yang seperti itu akan membantu?" sergah Rahid sambil mendelik tajam ke arah Argio.


"Maaf, Yang Mulia. Lady Gaia telah sadar." Rasila datang dan memberitahu keadaan Gaia.

__ADS_1


Argio dan Eslan saling pandang kemudian hendak ikut di belakang Rahid tapi tuannya itu melempar tatapan geram hingga akhirnya kedua ajudannya memilih untuk mengamati keadaan di luar istana.


Sementara di sisi lain, Sain yang sibuk mengurus warga tidak sempat menemui Gaia, kecemasannya meningkat setelah tahu bahwa kekacauan semakin meningkat dan pasti Gaia tidak akan diam akan tetapi, tanpa bantuan Gaia maka semua orang akan mati ditelan kutukan.


"Kamu tidak minum racun atau diracuni. Pendeta juga bilang bahwa kondisimu baik-baik saja, jadi tipuan macam apa yang coba kamu lakukan supaya lepas dari penjara?"


Tidak ada ketukan pintu, justru tuduhan tak mendasar yang Gaia dapati dari pria gagah yang baru saja memasuki ruangan. Tidak ada siapa pun disini dan Gaia sudah tahu apa yang terjadi diluar. Asap membumbung menyelubungi keindahan istana, nyala api berkobar ganas di luar dinding, lalu banyak korban memenuhi halaman istana. Sesuai dugaannya, Haetric benar-benar menciptakan kengerian untuk balas dendam.


"Mau kuberitahu sesuatu?" Gaia meninggalkan ranjang, tungkainya terasa letih sekedar mendekati pria berhati dingin yang masih saja percaya bahwa dirinya berkhianat.


"Tidak perlu."


"Kelurga Haetric dibakar hidup-hidup oleh Ratu Hesiar karena menolak untuk menanamkan kutukan pada ibumu, tapi Ratu Hesiar justru menangkap saudari ibu Haetric dan memaksanya untuk mengutuk ibumu."


"Ah, jadi karena itu kamu lebih memilihnya ketimbang diriku? Apa itu rasa kasihanmu?"


Gaia mengusap wajah frustasi lalu mencekam kerah pakaian Rahid, menariknya kuat hingga pria itu merunduk tepat di atas wajahnya.


"Bisakah kamu bersikap lebih dewasa? Ini bukan masalah itu. Bahkan jika kamu memiliki kekuatan bertarung yang luar biasa hebat, sihir dan kutukan bukanlah sesuatu yang bisa kamu hadapi. Sama seperti mereka kamu juga akan menggila dan melukai semua orang termasuk dirimu sendiri. Kumohon cobalah bertemu Haetric, cobalah berdamai dengannya. Kamu adalah penguasa Retkan saat ini, buang egomu untuk menyelamatkan mereka."


"Mudah sekali bagimu bicara, apa kamu pikir penyihir itu akan mau berdamai padahal perang sudah ia gelar sekarang? Dari pada mempedulikanku kamu terlihat lebih mencemaskannya. Kamu sudah tahu bahwa ini akan terjadi, kan? Kalau dari awal kamu tidak berpihak padanya, kita sudah bisa membereskannya sebelum semua ini terjadi."


"Aku bisa, Rahid. Aku bisa melakukannya, tapi berjanjilah padaku untuk membangun Retkan lebih baik dan berdamailah dengan para penyihir. Kamu cukup memperbaiki semua kekacauan yang akan kuselesaikan."


Perasaan Rahid mendadak tidak enak bersama kerah pakaiannya yang dilepaskan.


"Lihat, dia sudah memulainya lagi."


Gaia lantas membuka jendela lebar-lebar, memperlihatkan pada Rahid orang yang mengungsi dalam istana mulai hilang akal dan mengamuk.


"Mau kita bersembunyi di tempat sekalipun, kutukan dan sihir hitam bisa menggapai kita karena sekarang Retkan sudah diselimuti oleh kekuatannya."


Gaia lantas memandang Rahid sambil menunjuk salah satu menara di luar istana, disana terlihat bayangan pria berdiri di puncak menara sambil menebar setiap sihir yang meluncur dari tangannya.


"Kali ini percayalah padaku, kali ini aku tidak memihak siapapun. Bawa aku untuk bertemu dengannya dan membuat kesepakatan, aku yakin kita bisa menyelamatkan semua orang, Rahid."

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


"


__ADS_2