Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
22| Hanya pemberkatan?


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Gaia mengembuskan napas panjang. Sampai petang waktu yang dihabiskan untuk mendengar cerita pria yang telah mengambil alih wajah Erick tersebut.


"Kamu baru pulang jam segini? Sebenarnya dari mana kamu?"


Gaia tersentak melihat Rahid telah berdiri di koridor yang berlawanan arah dengannya. Buru-buru Gaia menunduk dan mengatakan habis menikmati suasana di kota lebih lama kemudian segera melangkah cepat dengan alasan sangat lelah. Rahid hanya diam dengan tampang tak menyenangkan, sebab ia tahu kenapa Gaia bertindak demikian sejak kemarin. Setelah mengetahui bahwa mereka saling beradu bibir, wanita itu terus menghindarinya bahkan mempercepat waktu pemberkatan.


"Jadi kemana dia pergi, Rasila?" Rahid melipat tangan di depan dada.


"Ke kediaman Viscount Viren, Yang Mulia."


Bibir Rahid menipis, sorot matanya pun menjadi lebih suram. "Apa kamu juga masuk kesana?"


"Penjagaannya cukup ketat, Yang Mulia. Saya hanya bisa melihat bahwa Nona keluar ditemani pria bertopeng itu."'


"Tsk!"'


Urat leher Rahid timbul, tangannya terkepal kuat dengan menyiratkan betapa marah dan curiganya ia saat ini pada tindakan Gaia. Entah hanya karena ketertarikan pada Haetric atau mungkin wanita itu tengah merencanakan sesuatu semacam pengkhianatan? Memikirkannya saja membuat Rahid harus mengingat masa lalu yang membuatnya mual.


"Terus awasi gerak-geriknya, Rasila."


"Ya, Yang Mulia."


...***...


Gaia terkesima melihat tubuh Rahid mulai memudarkan hitam yang semula menggerogoti secara perlahan, kini tangan Rahid telah bersih hingga sebatas lengan, itu kemajuan yang menakjubkan!


Jika terus terjadi, Gaia yakin tidak perlu waktu hingga dua bulan sampai pria itu benar-benar pulih seutuhnya. Tapi ... di lain sisi, Gaia semakin menyadari bahwa kondisinya kian memburuk. Sejak semalam, kalung yang diberikan Sain hancur dalam sekejap padahal biasanya satu kalung akan mampu menahan lima kali setiap rasa sakit menyerangnya.


"Berkat yang akan kuberikan akan lebih besar mulai sekarang."


Gaia menatap pria yang berdiri tegap di hadapannya, namun itu bukan tatapan khas seerti biasa, terselip kemarahan di sana.


Rahid memutuskan kontak mata lalu memandang arah lain tanpa minat. "Kenapa kamu tidak menggunakan seluruh kekuatan sucimu, sepertinya kamu sangat bersemangat mempercepat kesembuhanku. Apa aku terlalu menekanmu?"


Gaia tidak tahu kesalahan apa lagi yang telah ia perbuat hingga tiran itu terlihat jengkel.


"Jika digunakan secara berlebih, aku bisa mati kapan saja. Jika jumlah kutukan yang masuk tidak sebanding atau lebih banyak dari kekuatan suci maka aku pun akan mati karena ditelan kutukan, selain itu aku harus menjaga kekuatan suci dalam tubuhku tetap normal untuk berjaga apabila dibutuhkan secara mendesak karena kekuatanku ini tidak hanya diperuntukkan untukmu."

__ADS_1


Gaia lantas membenarkan gaunnya yang kurang rapi lantas hendak meninggalkan kamar namun, sekali lagi Rahid menghentikan langkahnya dengan sebuah pertanyaan.


"Kenapa kamu menghindariku? Apa karena ciuma—"


"Tolong lupakan kejadian malam itu!"


Gaia menoleh dengan cepat diiringi sebuah kalimat yang berhasil menciptakan keterkejutan di wajah tampan sang tiran.


"Hah? Apa maksudmu?" Rahid tersenyum paksa dengan sebelah alis terangkat, menunjukkan kekecewaan dan kemarahan secara mendalam.


Kejadian malam itu sungguh membuat Gaia benar-benar melewati batas dan sebab itu setiap kali mengingatnya Gaia merasakan jantungnya berdegup lebih cepat dan bahkan setiap kali berpapasan dengan pria ini, untuk sesaat Gaia lupa untuk mengalihkan atensi. Perasaannya timbul bukan karena ciuman itu, namun ciuman itu berhasil membuat Gaia mengingat semua perlakuan hangat Rahid disetiap waktu, perlakuan yang tidak pernah ia dapatkan dari pria manapun.


Maka dari itu, Gaia tidak ingin memikirkannya lebih jauh karena jika itu terjadi dan pada akhirnya waktu hidupnya tidak lama maka penyesalannya akan semakin banyak.


"Malam itu adalah sebuah kecelakaan. Ini pasti sangat membenanimu, lagi pula itu hanya pemberkatan, jadi aku sungguh minta maaf karena telah mrmbuatmu sangat tidak nyaman."


"Hanya pemberkatan katamu?!"


Alis Rahid terpaut curam disusul nada membentak hingga Gaia terkejut seperkian detik yang kemudian buru-buru menguasai diri.


"Ya. Bukankah memang pemberkatan? Jika bukan, aku pastu tidak menggunakan kekuatan suci malam itu."


... Memberi sedikit ketenangan, itulah yang terlintas dalam ingatannya sesaat Rahid bertanya.


"Ketenangan seperti apa yang akan kamu berikan untukku?"


Kerutan di dahi Rahid semakin menguat, berusaha menekan emosi yang biasa ia keluarkan jika tersinggung, tapi saat ini ia merasa perlu menahan diri lebih banyak ketika menghadapi wanita dingin yang begitu kuat dinding pertahanannya untuk didekati.


"Entahlah, tapi kurasa itu tidak akan lama lagi."


Gaia lantas menyudahi pertengkaran kecil tersebut dengan mennjauhkan diri secara sepihak, keluar dari kamar secara terburu-buru tanpa memandang ke belakang lagi dan hal itu semakin membuat Rahid tak senang.


"Hah! Apa sekarang dia mulai beralih ke pria itu?" batin Rahid.


...***...


Tak ... Tak ... Tak ...


Sais menyentak tali kendali kuda yang mengeret kereta, dimana Gaia dan Rasila duduk di dalamnya. Di pagi yang cukup terik, Gaia memutuskan untuk pergi ke wilayah pendesaan yang amat jauh dari perkotaan, sebuah desa yang sekelilingnya masih hutan, tempat yang cukup pelosok.

__ADS_1


Rasila tidak tahu, haruslah ia senang atau tidak karena sebelumnya ia mengendap-endap untuk mencari tahu apa yang Gaia lakukan tapi siapa sangka bahwa dirinya terciduk sehingga harus berada dalam satu kereta.


Gaia sendiri hanya diam sembari memandangi Rasila, ini semua pasti ulah Rahid. Oleh karena itu, Gaia jadi tahu apa yang membuat pria itu begitu marah sejak kemarin, mungkin dirinya ketahuan mengunjungi keluarga Vitren.


"Aku akan mengunjungi rumah Nyonya Aina."


Gaia membuka suara, mengusir kecanggungan Rasila dengan ekspresi yang seolah mengatakan 'sebenarnya rencana apa yang berusaha anda wujudkan?'


Aina adalah wanita bangsawan dari keluarga baron, mantan dayang pribadi di kediaman ratu. Setelah pembantaian kala itu, Aina dilepaskan kemudian diasingkan, seluruh keluarganya dihukum mati. Satu-satunya hal yang menyelamatkan Aina yakni karena perilaku hormatnya pada ibu Rahid selain itu, Aina tidak mengotori tangan terlalu dalam pada segala kejahatan ratu.


"Kenapa kamu kesana?"


Sais menarik kencang tali kendali kuda hingga terhenti, sebuah rumah sederhana dengan halaman kecil yang dilingkari pagar kayu telah ditangkap oleh mata. Gaia lantas hanya tersenyum menanggapi perkataan Rasila sebelum akhirnya turun dari sana.


"Tolong jawab aku." Rasila mencekal lengan Gaia.


"Aku ingin memastikan beberapa hal."


Gaia lantas memasuki halaman, mengetuk pintu hingga seseorang membukanya. Saat itu, seorang wanita paruh baya bertubuh kurus muncul dari balik pintu, menatap Gaia dan Rasila dengan kerutan bingung di dahi.


"Apa yang bangsawan lakukan di rumah saya?" Aina bertanya sambil menahan sikap waspada.


Gaia meneliti kondisi Aina dari atas hingga bawah sampai akhirnya mendapati tangan kanan Aina dibungkus sarung tangan.


"Bisakah kita bicara sebentar, Nyonya Aina?"


Gaia tersenyum cerah sembari meraih tangan Aina yang terbungkus sarung tangan, menyalurkan kekuatan suci yang membuat Aina bisa merasakan kembali tangan kirinya yang sudah kaku dan membusuk sejak kehancuran ratu berakhir.


Aina mengerjap lalu membuka sarung tangan secara perlahan. Itu menjadi sangat bersih, tidak lagi hitam dab mengeluarkan aroma busuk. Aina lantas menatap Gaia dengan rasa ingin tahu kemudian mempersilakannya masuk setelah melihat lingkungan sekitar yang begitu senyap.


"Masuklah."


Lalu sekarang, Gaia dan Rasila mengisi kursi kayu dalam rumah sederhana Aina, tidak banyak perbotan di dalamnya namun Gaia yakin ini lebih nyaman ketimbang harus tinggal di istana yang penuh masalah.


"Jadi ... Apa yang ingin anda tanyakan?" Aina bertanya setelah ikut mengisi kursi.


Gaia mengulum senyum. Seperti yang diharapkan, Aina memang cepat tanggap dan tidak bertele-tele.


"Ceritakan pada saya bagaimana mendiang ratu menanamkan kutukan dan sihir hitam pada mendiang selir yang diasingkan ke wilayah utara?" Senyum Gaia terulas amat lebar sementara dua wanita di sekitarnya terbelalak.

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2