
...SELAMAT MEMBACA...
"Saya melihat aura kutukan itu sudah sampai jantung Anda. Sepertinya sebelum keluarga saya, Anda akan mati lebih dulu."
"Saya pikir keputusan Anda tidak buruk. Jika saya jadi dayang pribadi, mudah bagi saya untuk melakukan penyembuhan berkala pada Anda."
"Penyembuhan berkala."
"Padahal anda yang paling ditakuti semua orang, tapi siapa sangka anda takut hanya untuk menutup mata cukup lama."
"Jika terjadi sesuatu padaku, ini bukan salahmu. Kumohon jangan menyalahkan diri."
"Kamu benar-benar mau aku melakukan pemberkatan? Di kondisi seperti ini? Kamu tidak waras?"
Di pengorbanannya yang ke-80, Rahid mengulum senyum saat mengingat beberapa coleteh yang pernah dilontarkan oleh mulut mantan dayangnya, mengingat masa-masa itu sungguh sangat menghibur di situasi saat ini. Sudah 20 hari ia berada di Sanctia untuk melakukan pengorbanan, hanya waktu makan, mandi dan buang air kecil maupun besar ia meninggalkan ruangan, sisanya dihabiskan dalam kolam dan ruangan dimana tubuh Gaia terbaring dalam peti.
Klotho tidak pernah muncul lagi, tapi selalu menyerap darah yang mencemari air suci, bagi Rahid itu sudah cukup sebagai bukti bahwa Klotho tidak bermain-main dengannya, masih perlu 20 kali pengorbanan, tapi bagi Rahid 20 kali itu semakin menyakitkan. Ia berpikir akan terbiasa melakukannya setelah 80 kali, tapi rasa sakit meningkat dari waktu ke waktu hingga sempat membuatnya goyah dan berpikir akan gagal.
"Apa yang kamu tertawakan?"
Gaia berkeliaran di sekiar Rahid yang duduk di tepi kolam sambil mengenggam belati, wanita itu duduk tanpa mengedipkan mata ketika menatap Rahid dari dekat. Sejak pengorbanan ke empat pria itu, ia bersikeras mencari cara lain untuk terbangun bahkan berulang kali memaksakan ruhnya untuk masuk ke dalam raga tapi semua sia-sia, jadi ia memutuskan untuk menemani Rahid, menguatkan diri untuk melihat setiap kali pria itu membunuh diri sendiri. Padahal ia hanya ruh, tapi ia berpikir menangis ternyata cukup melelahkan.
"Jika terbangun, aku hanya ingin bersamamu, bukan bersama pria yang pernah kamu sebut namanya. Walau aku tidak tahu kenapa kamu begitu merasa bersalah terhadap kematianku, tetap saja aku ingin berada di sisimu."
Gaia mengulum senyum sembari meletakkan tangan di atas tangan Rahid, walau pada akhirnya itu menembus tapi ia sangat senang melihatnya.
Sementara itu di waktu bersamaan, di tempat yang berbeda, wajah Eslan dan Argio tampak tirus. Sudah 20 hari sejak Rahid memutuskan untuk tinggal di Sanctia, selama itu pula ia harus mengurus masalah kerajaan terutama menghadapi tingkah gila Haetric yang gagal menjadi Rahid.
Rahid yang biasa jalan dengan tubuh tegap tanpa senyum terbit di wajah kemudian disusul aura mengintimidasi telah memiliki kesan berbeda saat Haetric yang menyamar. Menggunakan wajah Rahid, pria itu menebar senyum tiap kali berpapasan dengan penghuni istana, sampai-sampai orang mengira bahwa raja mereka dirasuki.
__ADS_1
"Kami yakin Yang Mulia sangat terpukul karena kepergian Lady Gaia, tapi bukankah itu terlalu parah, Komandan?"
Beberapa kesatria berbisik cemas sambil melirik Haetric yang menyapa para dame menggunakan wajah tuannya. Pria itu melontarkan kata-kata manis sehingga para dame tersipu malu dan memekik.
"Sungguh pilihan buruk meminta bantuan penyihir gila itu," celetuk Eslan.
Argio terperanjat dan hampir terjungkal mendapati Eslan muncul secara tiba-tiba di balik punggungnya, menatap horor pada Haetric, lingkar mata ajudan satu itu cukup besar dan pekat.
"Dia bahkan tidak bisa diandalkan untuk mengurus dokumen yang menumpuk di ruang kerja!" Eslan meraung.
Haetric tersentak, tengkuknya terasa dingin dan saat mencari sumbernya, ia mendapati dua pasang mata penuh dendam menyorotnya dengan keji dan intimidasi.
"Ah, maafkan aku dame-dame, sepertinya aku harus kembali untuk menyelesaikan tugasku sebagai seorang raja."
Haetric lantas melambai sambil mengerling nakal pada para dame, pemandangan yang seolah akan membuat pupil kedua ajudan itu hendak pecah karena melihat tingkah menggelikan dipertunjukkan Haetric dengan wajah tuan mereka.
"Ajak aku."
...***...
Lima hari telah berlaku, raut wajah Gaia berubah muram. Pagi ini ia memilih duduk di meringkuk di samping tubuhnya yang berada dalam peti sambil memerhatikan sepasang paruh baya yang ia yakini adalah orang tuanya tengah meletakkan dua tangkai bunga lily putih.
"Apa ini keajaiban, Sayang?" Hare, Marchioness Isra terbelalak mendapati saraf menghitam di tubuh putrinya perlahan memudar dan berkurang.
Abian pun ikut mengamati sampai-sampai ujung jemari bergetar saat hendak menyentuh wajah putrinya.
"Apa ini pertanda bahwa perlahan-lahan ruh putriku kita mulai menemukan jalan untuk kembali?" Hare mulai menitikkan air mata haru, secercah harapan menghias matanya yang sendu dan lelah.
Abian pun tak kuasa menahan tangis dan mendekap Hare penuh kasih, berharap bahwa Gaia cepat membuka mata kembali. Melihat pemandangan itu Gaia sangat bersyukur karena ia tahu bahwa memiliki orang tua yang amat baik, tapi ... ini semua berkat pria yang tanpa henti mengorbankan diri.
__ADS_1
Rahid yang biasa tidak mengeluarkan setitik keluhan rasa sakit saat melakukan pengorbanan kini mulai merintih penuh kesakitan semakin hari itu terasa amat berat dan Gaia tidak sanggup melihat dan mendengarnya.
"Ah, kupikir tidak ada siapapun disini."
Suara yang ia rindukan bergema. Rahid datang mengunjunginya hingga secara spontan Gaia berdiri dan mendekati pria itu, tersenyum amat lebar sambil menelisik Rahid dari atas sampai bawah.
"Apa anda tidak kesulitan untuk terus menjenguk Gaia? Padahal jarak dari istana kemari cukup memakan waktu." Abian tersenyum tipis.
Sementara Rahid hanya tersenyum canggung. Ia tidak mungkin bilang bahwa tinggal di Sanctia untuk melakukan pengorbanan, cukup Sain dan Wysia yang tahu tentang apa yang tengah ia lakukan.
"Wajah anda tampak tirus." Hare terlihat cemas.
"Pekerjaanku sangat banyak di istana karena ulah agneto itu," ujar Rahid diselingi gurauan.
Kesalahpahaman di antara ia dan keluarga Isra telah selesai, mereka semakin dekat padahal Rahid pikir awalnya kedua orang tua wanita yang ia cintai akan membencinya, tapi sifat sepasang paruh baya ini membuatnya kehilangan kata-kata, persis seperti putri mereka yang selalu menerima dirinya.
"Kalau begitu kami akan pergi dahulu. Tolong perhatikan kesehatan anda." Pesan Abian serta Hare sebelum undur diri dari sana.
"Ayah dan ibumu membuatku sangat gugup, rasanya lebih mendebarkan dari pada menghujam belati ke dada," kelakar Rahid diselingi kekehan kecil, membiarkan jemari besarnya menari di sekitar wajah Gaia.
"Sebentar lagi kamu akan sembuh. Sungguh tidak adil, seandainya aku bisa menyembuhkanmu dengan memberi ciuman pemberkatan, itu pasti lebih menyenangkan."
Sekali lagi Rahid terkekeh namun dalam sekedip senyumnya raib, berubah menjadi kesenduan.
"Lima hari lagi ... aku berjanji kamu akan segera membuka mata setelahnya. Bersabarlah, aku tahu kamu pasti sangat kesepian dan ketakutan seorang diri karena tidak memiliki tempat berpulang."
Mendengar kalimat itu lolos dari mulut Rahid, lagi dan lagi Gaia menangis namun kali ini ia bersuara cukup kencang sambil memeluk Rahid dari belakang. Benar, ia memang ketakutan saat tahu terpisah dari raganya, takut saat tidak ada siapapun yang menyadari keberadaannya, lalu takut jika benar-benar akan menghilang dari dunia ini walau ia terus bersikeras berkata akan baik-baik saja apabila menjadi ruh selamanya.
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1