
...SELAMAT MEMBACA...
"Kebetulan sekali Yang Mulia dan lainnya ada disini. Bagaimana jika kita makan bersama?" Gaia menyela cepat perkataan Argio dengan memberi usul sambil tersenyum lebar.
"Tidak perlu. Aku tidak sudah sangat kenyang."
Rahid lantas pergi dari sana dan Gaia hanya diam sambil menatap punggung yang kian menjauh tersebut lantas tanpa putus semangat, Gaia melirik Rasila.
"Bagaimana caranya menyelinap ke kamar Yang Mulia?" tanya Gaia yang langsung dihadiahi keterkejutan oleh lainnya.
...***...
Rahid melempar dan menginjak-injak surat kabar tentang Gaia dan Juan. Seleranya untuk makan malam sudah hilang sejak siang tadi dan sekarang ia hanya mengurung diri di kamar sambil tidur terlentang di ranjang, menatap getir langit-langit kamar yang gelap karena hanya sebatang lilin yang jadi penerang.
Tapi, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk padahal ia yakin sudah memberitahu kepala pelayan untuk melarang siapapun menganggu.
"Jangan menggngguku, pergi dari sana."
Rahid memberi intrupsi dari luar, tapi seolah menghantarkan nyawa, orang di luar sana terus mengetuk pintu tanpa menjelaskan siapa dirinya. Tidak bisa menahan kesabaran lagi, Rahid langsung membuka pintu dengan berang dan mendapati pelayan wanita tertunduk amat dalam, seolah kepalanya ditimpa batu besar.
"Pelayan tidak tahu sop—"
Perkataan Rahid terhenti saat kedua tangan si pelayan mendorongnya, masuk lalu menutup pintu setelah memutar kunci.
"Berhentilah menghindariku, kita perlu bicara, Rahid."
Sepasang mata Rahid melotot melihat si pelayan mendongkak dan menatapnya penuh ketegasan, itu adalah Gaia yang menyamar sebagai pelayan wanita.
"Beraninya kamu menyelinap ke kamar Raj—"
Gaia langsung memeluk Rahid dengan erat, seolah jika mengendurkan pelukan sedetik maka pria itu akan langsung pergi dan menghindarinya lagi.
"Aku tidak menyukai Haetric, tidak sama sekali di kehidupan ini. Jadi, jangan seenaknya menyuruhku bersama Haetric setelah kamu melakukan pengorbanan sebanyak 100 kali di depan mataku! Aku mencintaimu, Rahid!"
__ADS_1
Sekujur tubuh Rahid kaku mendengar perkataan dari wanita yang membuatnua frustasi akhir-akhir ini. Sambil berurai air mata, Gaia mencekal kuat piyama tidur Rahid.
"Kamu terus menyalahkan diri atas tidur abadiku lalu melakukan kesepakatan dengan para dewa demi membuatku terbangun. Aku selalu bersamamu, mencoba mengingat siapa pria yang sangat menderita dari siapapun orang disekitarku lalu tanpa menyerah kamu menusuk jantungmu dengan belati dan tenggelam di kolam pengorbanan berkali-kali!" Gaia memukul dada kiri Rahid penuh kemarahan.
Rahid masih mencerna setiap kalimat Gaia yang menurutnya tak masuk akal. Bagaimana bisa wanita itu mengetahui segalanya? Apakah dari Sain?
"Ruhku selalu di sekitarmu, memperhatikanmu. Tapi setelah terbangun kamu malah mengabaikanku, menghindariku bahkan tampak tidak peduli!"
Terjawab sudah. Rahid yakin ini terdengar tidak masuk akal tapi segala hal disekitarnya memang berada di luar nalar lalu apa yang dijelaskan oleh Gaia benar adanya. Jantung Rahid berdegup kencang lantas air mata luruh dari kedua matanya disusul kedua tangan besarnya terangkat untuk membawa Gaia dalam dekapannya.
Sangking eratnya dekapan Rahid, Gaia bisa merasakan emosi pria itu meluap-luap terhadapnya. Tangis tanpa suara, lalu rasa rindu yang sejak beberapa pekan ia tahan saat Gaia telah bangun dari tidur abadi disalurkan tanpa batas.
"Maaf, maaf, maaf, kan, aku."
Suara berat pria itu bergetar dan Gaia tidak lagi meluncurkan kata-kata emosional karena sekarang ada yang lebih sentimental darinya.
"Aku tidak bisa melepaskanmu. Kupikir kamu mencintai Haetric karena kalian sempat berciuman di hutan saat berburu waktu itu, jadi kupikir aku harus melepasmu jika hanya aku yang memiliki perasaan tersebut."
Gaia mendorong sedikit tubuh Rahid, melihat jejak air mata di wajah tiran itu. Wajah yang selalu sangar dan penuh kecaman tersebut melunak dan memelas, Gaia akui bahwa saat ini Rahid sangat menggemaskan.
Gaia tertawa kecil lalu menangkup rahang kokoh Rahid. "Bagaimana bisa aku menikahinya saat aku menyatakan perasaan padamu. Ah, tapi itu tergantung dari jawabanmu. Jika kamu tidak menerimaku, mungkin akan kupertimbangkan hubunganku dengannya."
Gaia mengulas senyum tipis, berusaha menggoda Rahid yang langsung menautkan alis dan menangkap kedua tangannya. "Tidak! Aku akan menikahimu bahkan jika itu sekarang akan kulakukan. Kalau begitu haruskah kita menemui pendeta sekarang?"
Gaia panik dan segera mencekal Rahid yang hendak menariknya keluar bersama. "K-kita bisa melakukannya, tapi tidak sekarang."
Rahid lantas terdiam lalu melirik ranjang, menuntun Gaia duduk di sana.
"Jadi kapan kita harus melakukannya?" tanya Rahid.
Gaia tercenung. Rahid terlalu buru-buru padahal mereka baru saja meluruskan kesalahpahaman.
"Ah, tidak lupakan saja itu dulu. Sekarang biarkan aku melakukan sesuatu padamu." Rahid membingkai wajah Gaia dengan kedua tangan besarnya.
__ADS_1
Gaia berkedip dua kali tapi ia paham apa yang selanjutnya terjadi saat Rahid sedikit memiringkan kepala dan memangut bibirnya, memberikan sapuan lembut basah di atas bibirnya yang kering.
"Selamat datang kembali, Gaia." Rahid tersenyum setelah melepas pangutan singkat tersebut.
...***...
Perayaan pembentukan negara telah digelar secara meriah baik dalam istana maupun luar istana. Sepanjang jalan di perkotaan telah dihias sedemikian rupa, para pedagang membuka lapak sehingga aroma makanan menguar.
Pagi pun tampak cerah dan terik namun tidak menyurutkan rasa bahagia semua orang. Para penyihir pun ikut memeriahkan dengan menunjukkan kekuatan sihir mereka, menarik banyak penonton.
Di sisi lain, penobatan Haetric sebagai Duke yang menggantikan posisi Duke Agneto telah diumumkan. Semua orang setuju akan hal itu dan yang paling mendebarkan adalah saat Gaia maju untuk menerima penghargaan atas jasanya dalam menyelamatkan semua orang.
Rahid yang mengenakan pakaian resmi seorang raja berdiri gagah di podium yang dilapisi permadani merah. Jubah merah berpadu keemasan miliknya begitu agung dan mewah kemudian saat Gaia menaiki tangga, Rahid telah menunggunya di sana.
Namun, lencana yang telah disiapkan tidak disematkan. Gaia dan semua orang tentu bingung, namun sekedip kemudian Rahid justru meraih tangan kanan Gaia dan mendaratkan ciuman di punggung tangan wanita tersebut.
Gaia membelalakkan mata begitupun semuanya, terlebih saat Rahid membawanya untuk berdiri sejajar sambil mengenggam tangan satu sama lain.
"Aku tidak bisa membiarkan kursi pasanganku terlalu lama kosong dan kupikir ini sudah waktunya memikirkan seorang penerus. Tapi dari semua itu, aku ingin mengatakan bahwa aku memilih Lady Gaia sebagai pasanganku karena aku mencintainya, dan tentu tidak perlu diragukan lagi bagaimana dia bertindak demi melindungi kita semua, kurasa tidak hanya dia yang pantas untuk menjadi permaisuri di kerajaan ini."
Setelah perkataan Rahid selesai, ketenangan pecah berganti seruan bahagia semua bangsawan kemudian beberapa orang lari keluar untuk memberitahu pernyataan sang raja pada semua orang di luar sana.
Bagai angin yang berembus amat kencang, pernyataan tersebut merambat dalam beberapa waktu hingga di luar istana pun kebisingan mulai bergaung, menyambut keputusan raja penuh suka cita.
"Kamu melakukannya disini?" Gaia mendesis tapi Rahid hanya menoleh sambil menyunggingkan senyum angkuh.
"Kamu terlalu populer. Kupikir dengan begini semua pria yang mengincarmu akan sadar bahwa kamu sudah ada yang memiliki." Rahid lantas mendaratkan satu kecupan ringan di pipi Gaia yang sudah merah padam.
...TAMAT...
Terima kasih banyak atas dukungannya di cerita saya. Walau banyak kekurangan, saya akan terus menulis dan melakukan banyak perbaikin di sepanjang jalan saya melahirkan karya-karya baru.
Saya harap, kedepannya saya bisa menyajikan cerita-cerita lebih memukau baik untuk diri saya sendiri dan beberapa pembaca yang meminatinya.
__ADS_1
Sampai jumpa di karya saya yang lainnya🐥