
...SELAMAT MEMBACA...
"Jika menunjukkannya padamu, aku tidak yakin bisa melepaskanmu begitu saja."
Setelah kembali dari toko waktu itu, Gaia tidak bisa melupakan maksud dari kalimat Haetric. Tapi sorot mata Haetric setelah mereka saling berpisah, tampak aneh.
"Sejak kemarin kamu terus melamun."
Gaia terkesiap lantas pandangannya jatuh pada Rahid yang ada di seberang bangku dalam kereta kuda. Yah, sejak kemarin mereka telah melakukan perjalanan menuju wilayah utara, memakan waktu dua hari untuk sampai ke sana.
"Mungkin karena aku sangat gugup bisa bertemu Duke."
Rahid mengembuskan napas lantas memberi kode pada Argio yang terlihat dari jendela. Mereka sudah memasuki wilayah utara dan disambut cuaca super dingin dan jalanan yang dipenuhi salju.
"Ada apa?" Gaia mengerutkan dahi.
"Turunlah. Mulai dari sini kita akan berjalan kaki."
Rahid turun lebih dulu sambil mengulurkan tangan pada Gaia. Wajah pucat Gaia langsung menunjukkan semburat merah muda lembut dan sepertinya mantel tebal yang melekat di tubuhnya tidak cukup menahan dinginnya wilayah utara.
"Kamu seperti kelinci yang akan mati setelah menggigil hebat," komentar Rahid.
Gaia mengembungkan pipinya. Inilah resiko bagi orang yang sangat suka rasa hangat ketimbang dingin. Argio dan Rasila mulai mengekor sambil membawa dua koper.
Melihat wajah Gaia semakin memerah dan kedua tangan mungil itu cukup gemetar, secara sepihak Rahid meraih salah satu tangan Gaia lalu dimasukkan ke dalam saku mantel miliknya.
Argio dan Rasila saling pandang dan mengulum senyum jahil sementara Gaia tercenung beberapa saat sambil memperhatikan Rahid yang menandang jauh ke depan tanpa goyah saat melangkah. Rahid selalu saja bersikap demikian, tindakannya nyaris membuat pertahanan diri Gaia runtuh.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia."
Gaia berdecak kagum. Saat sampai di kediaman Duke, mereka langsung disambut oleh kepala pelayan dan sederet dayang yang berjaga di sisi jalan masuk.
Rahid angguk kepala lantas membiarkan kedua koper di tangan Argio dan dua koper lainnya di tangan Rasila diambil alih oleh dayang kemudian mereka berempat di tuntun untuk ke ruang tamu menemui Damiel.
__ADS_1
Sambil menikmati secangkir teh hangat di depan perapian, Gaia merasa hawa dingin raib karena sekarang Damien telah duduk di seberangnya. Pria paruh baya bertubuh kekar dan kokoh memakai baju ketat di cuaca dingin, mempertontonkan otot-otot dari hasil penaklukan monster. Bukan itu saja, rambut putih keperakan juga mata cokelat bak manik elang tersebut membuat Gaia tidak bisa berhenti menatap Damien.
"Bisakah kamu berhenti menatapku Nona muda? Lihatlah kekasihmu itu tampak begitu marah," cibir Damien.
"Saya tidak memiliki kekasih." Gaia menyangkal dengan kerutan di dahi lantas mulai menormalkan raut wajah.
"Hoo... "
Damien sedikit mengulas seringai. Sepertinya Rahid bertepuk sebelah tangan, ini menyenangkan karena bisa melihat ekspresi kecemburuan menghias wajah bocah yang selama ini hanya terpampang kebencian.
"Aku ingin beristirahat." Rahid lantas pergi dari sana sementara Gaia merasa telah menyinggung Rahid.
Damien tergelak membuat Argio dan Rasila bergidik kemudian Damien meminta para dayang membawa Gaia dan dua lainnya beristirahat. Walau terlihat mengerikan di luar, ternyata kediaman duke wilayah utara sangat menakjubkan, Gaia sampai berguling antusias di atas ranjang besar yang disediakan.
"Ah, aku harus berganti pakaian!"
Gaia buru-buru mendekati koper namun betapa terkejutnya ia mendapati celana dal*am ukuran besar serta beberapa pakaian milik Rahid berada dalam koper dan secara bersamaan, si pemilik koper itu mengalami hal yang sama. Saat membuka koper, Rahid mendapati setumpuk gaun, alat rias, perlengkapan lain termasuk pakaian dalam dan sebuah pedang terlilit kain di sisi koper.
"Haa ... Seharusnya kami membawa koper yang berbeda." Rahid menyentuh kepalanya dengan nelangsa dan tidak sadar bahwa di jari kelingkingnya tersangkut penutup payud*ra merah milik Gaia.
Gaia tercengang di depan bibir pintu sambil membawa koper yang tertukar. Rahid mengerutkan dahi lalu matanya mengikuti arah pandang Gaia. Sangking terkejutnya, Rahid berteriak sambil melempar penutup payud*ara hingga mengenai wajah pemiliknya lalu jatuh di atas kaki.
Jantung Rahid berdetak lebih cepat setelah menyaksikan tindakannya sendiri. Benda itu terlihat lebih mengerikan dari pada para monster karena sekarang pemilik benda tersebut akan meledak kapan saja.
"A-aku sungguh tidak melakukan hal kotor, jangan berpikiran aneh!" Rahid berdiri tegap dan berusaha menenangkan.
Gaia menyebikkan bibir menahan malu lalu menaruh koper Rahid dengan kasar di meja lalu mengambil alih koper dan pedang miliknya lalu pergi dari sana.
"Ah, sial!" Rahid mengusap wajah dengan kasar.
...***...
Esok harinya, salju masih menutupi halaman di kediaman Damien sehingga Gaia tidak berbuat banyak selain berdiam diri dan menunggu Rahid pulang dari daerah untuk berburu monster.
__ADS_1
Padahal Gaia ingin sekali ikut menaklukkan monster. Percuma baginya telah membeli pedang untuk menemani ke wilayah utara. Gaia benar-benar kesal lagi pula jika ikut, ia tidak bisa melupakan kejadian kemarin.
"Aku sudah dengar dari anak itu tentang dirimu. Tapi apakah kamu akan berada di pihaknya dalam situasi apapun?"
Gaia tersentak. Buku yang ada dalam genggamannya merosot mendapati Damien muncul di perpustakaan.
"Saya dan Rahid hanya terikat oleh kontrak."
"Ya aku tahu itu. Jadi, jika kontrak berakhir, apakah kamu akan meninggalkannya?"
Gaia diam. Bukan hanya Rahid, ia mungkin akan meninggalkan semua orang.
"Anak itu tidak pernah mendambakan cinta orang lain sejak ibunya wafat. Dia terus hidup di balik bayang-bayang dendam dan penyesalan, maka dari itu jika suatu hari kuhancurkan kepalanya, aku yakin hanya akan melihat setumpuk pembalasan dendam."
" ... "
Tidak menyahuti perkataannya, Damien menatap Gaia dengan penuh arti.
"Tapi sepertinya Rahid bersikap berbeda terhadapmu. Dia menunjukkan banyak perasaan yang sudah lama dipendam saat bersamamu. Jika kamu bersedia, maukah kamu memberinya sedikit cinta agar ia bisa sedikit lebih lunak pada diri sendiri dan sedikit demi sedikit melupakan masa lalu yang menyakitkan?"
Damien memandang jauh ke luar jendela perpustakaan, sorot mata memancarkan kesedihan yang mendalam. Gaia tahu bahwa Damien pasti sangat menyayangi Rahid sebagaimana seorang ayah pada anaknya.
"Hidup saya tidak lama lagi, Duke. Saya terlihat baik sekali di luar tapi nyatanya jiwa saya sudah sekarat. Jika saya memberi cinta dan Rahid berubah karena itu, maka luka yang saya berikan dari ketiadaan saya di dunia ini akan lebih menghancurkan hidupnya."
Damien terbelalak mendengar fakta yang lolos dari bibir wanita muda di sampingnya. "Sekarat? Bagaimana bisa?"
Gaia lantas menghadap Damie, menunjukkan seberapa besar kekuatan suci yang melingkup raga dan jiwanya. Damien tidak percaya bahwa jumlah kekuatan suci Gaia nyaris memenuhi ruang megah perpustakaannya. Itu sangat indah, cahaya keemasan dengan partikel-partikel putih berkilau disusul perubahan mata Gaia membuat Damien hanya berdecak kagum dan tercengang.
"Kekuatan suci ini menggerogoti energi kehidupan saya. Jangan khawatir tentang Rahid, saya tidak akan mengkhianatinya karena dia bahkan sudah berjanji akan melindungi keluarga saya." Gaia tersenyum sambil kembali ke wujud normalnya.
Rasila yang sejak beberapa waktu sebelumnya sudah kembali dari perburuan untuk menemui Gaia atas perintah Rahid langsung membungkam mulut mendengar semua percakapan antara Rahid dan Damien.
"Lady Gaia sekarat?" gumam Rasila.
__ADS_1
"Siapa yang sekarat?" Rahid mendadak muncul karena Rasila tidak kunjung membawa Gaia menemuinya.
...BERSAMBUNG ......