Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
17| Perhatian Sang Tiran


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


"Siapa yang sekarat?"


Rahid menautkan alis sambil menenteng sebuah bulu putih bersih nan halus. Rasila berkeringat karena tidak tahu apakah memberitahu yang ia dengar adalah pilihan baik.


"Tentu saja saya, Yang Mulia," celetuk Gaia.


Rasila terperanjat kala pintu perpustakaan terbuka disusul Gaia dan Damien yang berdiri di depan pintu.


"Kamu? Kenapa?" Rahid mengerutkan dahi sambil meneliti tubuh Gaia dari atas hingga bawah.


"Karena Yang Mulia melarang saya keluar, rasanya saya akan sekarat oleh rasa bosan."


Gaia mengembuskan napas sambil menunjukkan raut kekecewaan namun setelah mendapati kecurigaan sirna di mata Rahid, ia langsung melirik ke arah Rasila sambil tersenyum penuh makna. Menyadari bahwa Gaia memberi alasan lain, Rasila paham bahwa yang perlu ia lakukan adalah berpura-pura tidak mendengar apapun atau merahasiakannya.


"Angin bergerak cukup kasar dan aku yakin kamu bahkan tidak sanggup berjalan lebih dari sepuluh langkah setelah keluar dari kediaman ini."


Rahid kembali diingatkan Gaia yang menggigil setelah turun dari kereta kuda. Yah, tapi entah kenapa bagi Rahid itu menyenangkan karena setidaknya Gaia tidak menolak kehangatan yang diberikan darinya.


"Aku tidak mau kamu membuat masalah saat kita pulang. Gunakan itu selama kamu disini."


Damien dan Rasila tercengang. Dengan tatapan teduh dan pergerakan penuh perhitungan, Rahid menyampirkan bulu bersih bak syal berbulu pada leher Gaia.


Gaia terpana, betapa lembutnya bulu itu ditambah memiliki aroma cukup nyaman padahal jika ini baru dikuliti setidaknya akan tercium bau amis dan noda.


"Dari mana Yang Mulia mendapatkannya?" Mata Gaia berbinar.


"Aku tidak sengaja bertemu rubah salju dewasa saat memeriksa beberapa area sebelum kembali."


"Betapa manisnya seorang tuan mengkhawatirkan dayangnya." Damien mengerling jahil pada Rahid.


Rahid tersentak lalu buru-buru melirik arah lain sambil mengusap tengkuk. "Perhatian apanya? Aku hanya tidak mau dayang lemah ini menghambat kami. Jika dia mati kedinginan, Marquess Isra pasti akan membuatku sedikit kerepotan terlebih lagi memakamkannya akan menghabiskan tenaga."

__ADS_1


Gaia mengerjap dua kali lalu tertawa pendek, sampai-sampai muncul setitik air di sudut matanya. Untuk sesaat Rahid tercenung, menikmati suara tawa dan ekspresi yang Gaia tunjukkan di hadapannya.


"Tenang saja Yang Mulia, saya tidak akan mati karena benda ini sangat hangat. Terima kasih."


Senyum Gaia merekah tulus, semburat merah muda menghias pipi pucatnya tak hanya itu, mata yang selalu kesal saat menatap kini menjadi sipit dan nyaris tertutup, itu ... Sangat cantik di mata Rahid yang masih tercenung dengan daun telinga tampak bersemu.


...***...


Setelah beberapa hari terlewat dengan menghabiskan waktu di wilayah utara, Gaia dan Rahid telah tiba di ibukota dan beraktivitas seperti biasa di istana.


Namun, hari ini tidak biasa bagi Rahid karena wanita yang baru diberikan bulu rubah salju mendadak mendatangi kamarnya sambil memeriksa tubuhnya.


"Tolong lepaskan bajumu."


Rahid berkedip dua kali sambil menatap Gaia yang tampak serius memperhatikan tubuhnya. Secara spontan, Rahid memeluk tubuh sendiri sambil menatap sinis pada Gaia.


"Dasar cabul," cibir Rahid.


"Hah?"


Rahid angguk kepala lalu menanggalkan pakaian atas, mempertontonkan bisep di kedua lengan kekar, otot perut yang tampak keras dan tegas, kemudian dada bidang cukup menonjol, rasanya Gaia akan hilang kesadaran setelah melihat betapa indahnya tubuh Rahid.


"Warna hitamnya sudah agak pudar. Bagaimana dengan tanganmu?" Gaia berusaha mengumpulkan kesadaran lalu meraih tangan Rahid, menanggalkan sarung tangan hitam yang membungkus.


"Wah, lihat tanganmu!"


Gaia mengangkat tangan Rahid yang terlihat normal, warna hitamnya sudah raib hingga sebatas pergelangan tangan. Rahid juga menyadari bahwa semakin hari tubuhnya semakin baik, tidak terlalu kaku atau menyakitkan, seharusnya ia lebih senang dari pada orang lain, tapi wanita berhazel indah itu menunjukkan ekspresi seolah kesembuhan saat ini seperti berkat kebahagiaan untuk dirinya sendiri.


Rahid mengulum senyum lantas menarik tangan dari Gaia, bergerak menyentuh celana hitam yang dikenakan. "Apa kamu mau melihat lebih jauh?"


Gaia membelalak melihat tangan besar Rahid bergerak ke arah celana, memperlihatkan sedikit garis selangkang*an yang tegas. Buru-buru Gaia memalingkan wajah.


"Kalau itu silakan dilihat sendiri lalu beritahu aku bagian mana yang tidak mengalami kemajuan. Kalau begitu aku pergi."

__ADS_1


Gaia lantas berbalik arah untuk meninggalkan kamar namun Rahid mencekal tangan kanan Gaia hingga membuat wanita tersebut kembali berhadapan dengannya.


"Mana berkat hari ini?" Rahid mengulum senyum tipis sambil menyentuh dahi.


"Hah ..." Gaia mengembuskan napas lalu mendaratkan kecupan di dahi Rahid, menyalurkan kekuatan suci seperti biasa.


"Aku hanya menerka, tapi dalam dua bulan lagi kamu terlepas dari kutukan itu."


Gaia lantas benar-benar pergi dan Rahid tampak terdiam. Dua bulan lagi adalah pergantian tahun dan akan diadakan perayaan pembentukan negara. Rahid tampak kecewa, jadi dua bulan lagi kontrak mereka akan berakhir.


"Seharusnya kalian sembuh lebih lambat saja." Rahid memandangi tubuhnya yang terkena kutukan.


Sementara itu, di kediaman Viscount Viren.


Dalam lorong lengan di ruang bawah tanah, Haetric bermain dalam sebuah ruang cukup besar di ujung lorong. Beberapa bocah dengan kemampuan sihir tampak bermain dengan beberapa artefak kuno yang didapatkannya dari lelang.


"Apakah pesanan kali ini kami yang antar, Master?"


Haetric mendelik pada bocah lelaki berusia 10 tahun. Memiliki tubuh kecil kurus, mata hitam tampak sayu, serta rambut hitam yang berkilau bak ebony, namanya adalah Sihan.


"Ya. Antar benda itu ke Baron Deld."


Sihan angguk kepala lantas menaruh salah satu kalung yang merupakan artefak ke dalam kotak perhiasan. Setumpuk benda dan beberapa artefak dalam ruangan itu telah ditanamkan sihir oleh Haetric. Jarak sihir pengendalian terlalu pendek, jadi Haetric menggunakan benda-benda yang mengandung sihir untuk memikat beberapa bangsawan. Benda itu membuat takut beberapa monster, tapi kekuatan utama dari benda itu adalah mengendalikan pikiran si pemakai. Beberapa bangsawan sudah mendapatkannya, jika benda-benda ini sudah habis dalam ruangannya, Haetric berencana segera menciptakan pembantaian besar-besaran untuk meratakan Retkan terutama Rahid.


"Berhati-hatilah, Sihan. Sekarang keamanan di Retkan diperketat, beberapa orang yang ahli mendeteksi keberadaan penyihir sudah ditempatkan di seluruh Retkan."


"Tenang, Master! Kami akan pulang dengan selamat!" Sihan merangkul beberapa anak lainnya sambil tersenyum lebar.


Haetric tersenyum tipis lalu mengusap satu persatu pucuk kepala anak-anak yang sudah kehilangan orang tuanya. Mereka adalah anak-anak dari ras penyihir yang terlantar dan dijual sebagai budak setelah orang tua mereka dibunuh.


"Jika terjadi bahaya, utamakan keselamatan kalian dan kembalilah hidup-hidup walau sekarat. Ini perintahku."


"Baik, Master!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2