Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
14| Pasangan dansa


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Dalam balutan kemeja hitam dibalut vest merah ketat berpadu celana hitam mengilap, Haetric memandang lantai dasar di kediaman Agneto sambil memegang gelas berkaki terisi bir.


Wajahnya tertutup oleh topeng, hanya memperlihatkan rambut serta mata cokelatnya namun beberapa orang melirik karena bentuk tubuh Haetric cukup menggoda.


"Ah, jadi dia yang namanya Gaia?"


Haetric bergumam sambil melirik pintu utama terbula dan menyambut kedatangan Sang Tiran bersama dayangnya, tetapi Gaia datang bukan sebagai dayang melainkan putri keluarga Isra.


"Kupikir Gaia bisa lebih cantik dari adiknya, ternyata wajahnya terlihat tegas dan penuh intimidasi, sangat berbeda dengan Wysia yang manis dan terkesan lemah lembut," komentar Haetric sembari mengulas senyum di balik topeng.


Haetric terus memperhatikan Gaia yang memisahkan diri dari Rahid, membiarkan tiran tersebut berbincang dengan Duke Agneto lalu Gaia berakhir bersama Wysia ditemani beberapa wanita bangsawan lain. Siapa sangka bahwa Gaia cukup terkenal karena sekarang Haetric bisa lihat dari bawah sana bagaimana para pria mulai mencuri pandang pada dua putri keluarga Isra.


"Jadi ... Bisakah saya mendapatkan sebuah kehormatan untuk menjadi pasangan dansa anda di pesta ulang tahun kali ini?" Irian mendekati Rahid, wajahnya tampak bersemu dan sekarang seluruh atensi para tamu jatuh pada mereka berdua bersamaan musik romantis mengalun lembut.


Gaia berdecak kagum, lagu yang dimainkan merupakan karya komponis terkemuka di Retkan selain itu pesta ini tidaklah sederhana, benar-benar mewah. Gaia sampai menerka berapa uang yang digelontorkan untuk sebuah acara pesta ulang tahun padahal beberapa area di duchy Agneto tidaklah dalam kondisi baik karena masalah ekonomi. Pajak bahkan tetap ditarik saat orang-orang wilayah tersebut mengalami gagal panen.


"Tentu saja. Tapi saya tidak terlalu yakin bisa melakukannya dengan baik."


Rahid lantas meraih tangan pada Irian, membawa putri duke tersebut ke tengah-tengah, tak lama kemudian beberapa pasang mulai mengisi ruang kosong di sekitar Rahid dan Irian.


"Kupikir Yang Mulia tidak akan menerima permintaan itu. Dilihat dari manapun, Yang Mulia hanya akan senang hati jika pasangannya adalah kakak." Wysia berkomentar.


Gaia mengerutkan dahi, berpikir bahwa ia hanya salah dengar tapi Wysia mengedikkan bahu sambil mengerling nakal dan sarkas saat seorang putra viscount mendekat dan mengajak berdansa.


"Hah, lihatlah bocah itu. Apa dia baru saja mengejek kakaknya yang tidak memiliki pasangan dansa?" Gaia menggerutu.


Tak jauh dari sana, Irian mulai kelelahan mengikuti gerak dansa Rahid. Tidak ada kelembutan dan kemakluman di setiap gerakan, terlalu cepat, kasar, dan penuh energi oleh karena itu Irian mulai terengah-engah. Dia memilih lagu berdurasi panjang agar bisa lebih lama berdansa bersama Rahid, tapi jika begini maka Irian lebih baik menyudahinya, tapi itu tidak sopan. Sementara Rahid memandangi Gaia yang hanya diam sambil memperhatikan orang-orang berdansa, itu lebih baik dari pada muncul seorang pria yang mengulurkan tangan, itulah pikir Rahid jadi mengulum senyum lega tapi itu tidak bertahan lama karena sekarang seorang pria bertubuh gagah menghalangi pandangannya dari Gaia.


"Bukankah membosankan menjadi bunga dinding saat ada perayaan megah seperti ini?"


Gaia angkat kepala, matanya menelisik jauh ke dalam mata cokelat cerah yang tampak palsu tersebut. Pria bertopeng hitam dengan ukiran cantik dipermukaan tersebut menimbulkan kesan misterius.


"Tidak sama sekali. Kurasa ini lebih menyenangkan ketimbang bergabung disana."


Haetric tertawa renyah lantas membungkuk sambil mengulurkan sebelah tangan. "Bagaimana jika mencobanya?"


Gaia tampak skeptis. Sejujurnya berdansa di acara resmi seperti ini hanya pernah ia lakukan sekali dan itu saat debutantenya, pasangan kala itu adalah mendiang putra mahkota, jadi ... Itu sudah cukup lama.


"Sudah lama aku tidak berdansa. Kurasa itu tidak akan menyenangkan untukmu karena aku akan melakukan banyak kesalahan."


"Aku tidak masalah. Selain itu, sepatuku cukup keras," kelakar Haetric dan sepertinya itu berhasil menciptakan ketertarikan Gaia terhadap sikap tak menyerahnya.


"Ini adalah pengalaman kedua dan saya harap nasib anda tidak seperti pasangan pertama saya."

__ADS_1


Gaia menerima uluran tangan Haetric kemudian bergabung kesana, menyesuaikan gerakan dengan alunan musik romantis tersebut dan tentu saja Gaia merasa tengkuknya seolah tertusuk oleh tatapan Rahid yang berjarak beberapa meter darinya.


"Pasangan pertama anda apakah itu mendiang Pangeran Erick?" duga Haetric.


Gaia angguk kepala sembari mengeratkan pegangan pada pundak dan tangan Haetric sementara pria berambut cokelat tersebut begitu santai menempatkan sebelah tangan di pinggul Gaia.


"Siapa nama anda, ini pertama kalinya saya melihat orang aneh yang mengenakan topeng di acara resmi begini."


Mata Haetric sedikit membelalak, Gaia terlalu frontal dan mungkin aura dari sihir hitamnya sedikit keluar sehingga Gaia tampak curiga.


"Ah, saya adalah Haetric De Viren."


Gaia tak lagi bicara namun matanya semakin teliti memperhatikan Haetric. Gaia tahu betul siapa saja putra dari Viscount Viren, namun nama ini baru terdengar jadi Gaia hanya bisa menebak bahwa Haetric adalah anak haram Viscount yang sering dibicarakan orang-orang. Berdasarkan rumor yang beredar, Haetric memiliki luka bakar parah di wajah sehingga sering memakai topeng, tapi siapa sangka pria itu ada di hadapannya.


Namun, mata cokelat cerah nan jernih Haetric mengingatkannya pada Erick yah itu semakin mirip saat rambut cokelat Haetric bergerak disapa angin yang masuk begitu saja di ruangan ini.


"Apa ada sesuatu di topeng saya?" Haetric berusaha menyadarkan Gaia.


Gaia langsung memalingkan wajah dan itu bertepatan dengan Rahid yang juga menatapnya dengan sengit.


"Ukh!"


Haetric pura-pura mengeluh saat Gaia hilang fokus dan menginjak ujung sepatunya oleh karena itu Gaia lansung memutus kontak mata pada Rahid, memandang sesal pada Haetric yang tak begitu baik.


"Sepertinya sepatu anda tidak cukup keras."


Keduanya lantas tertawa, beberapa tamu mulai berbisik dan mengatakan keduanya cukup serasi. Haetric maupun Gaia begitu akrab saat berdansa, keduanya saling berbincang dan bersendau gurau dan itu semakin membuat Rahid memanas hingga acara dansa berakhir dan akhirnya pesta pun usai.


Rahid dan Gaia menaiki kereta kuda yang sama saat meninggalkan kediaman Duke Agento.


"Bukankah pestanya sangat menyenangkan."


Rahid duduk sambil menyilangkan kaki di dalam kabin kereta kuda, terdapat dua bangku di sisi kanan dan kiri kabin.


"Lumayan."


"Kamu bahkan tertawa lepas bersama pasangan dansamu."


Gaia menaikkan sebelah alis sambil memandang bingung pada raut masam Rahid.


"Bukankah kamu juga menikmatinya? Irian bahkan sampai terengah-engah sangking senangnya."


"Senang? Dia itu kelelahan!"


Rahid benar-benar kesal sementara Gaia tidak menunjukkan kekesalan apapun. Yah, lagi pula Rahid tahu bahwa hanya ia yang memiliki perasaan terus meluap ini.

__ADS_1


Rahid mengembuskan napas lalu menatap Gaia lebih intens. "Siapa pria yang berdansa denganmu?"


"Putra Viscount Viren, Haetric De Viren."


"Aku baru dengar namanya."


"Itu karena kamu terlalu lama di wilayah utara."


"Kurasa kamu jadi lebih santai berbicara denganku." Rahid mengulum senyum tipis, baru sadar bahwa Gaia mulai tak formal saat berbincang berduaan dengannya.


"Itu ... " Gaia pun bingung, kenapa dia bisa berbicara sesantai ini pada sosok yang sebelumnya hendak mengeksekusi keluarganya.


"Apa kamu pernah ke wilayah utara?"


Hazel indah Gaia langsung melebar dan berbinar. Kemudian kedua tangan wanita itu langsung terkepal dan terangkat di depan dada, begitu antusias hingga Rahid berkedip dua kali mendapati reaksi semenggemaskan itu dari Gaia yang selalu bersikap dingin.


"Belum! Aku dengar disana banyak monster lalu wilayah itu, kan di pimpin oleh pahlawan perang, Damien Salvadoria, aku sangat mengaguminya. Apakah kamu mau kesana?"


"Hah?"


Melihat reaksi Rahid, semangat Gaia mendadak raib perlahan.


"Apa aku terlalu berharap, ya?" batin Gaia.


"Haa ... Aku akan kesana dalam empat hari. Apa kamu mau ikut bersamaku?"


"Sungguh?!"


Gaia kembali semangat saat Rahid angguk kepala dan tersenyum padanya. Jantung Gaia berdebar lebih cepat mengingat bahwa dalam empat hari lagi ia akan bertemu dengan duke wilayah utara, Damien Salvadoria. Dari berbagai cerita yang ditampilkan dalam buku maupun opera, Damien adalah sosok gagah yang mampu menaklukkan seekor naga oleh karena itu, Gaia kecil berlatih pedang dan bertarung untuk menjadi kuat seperti Damien, mengalahkan banyak monster tapi sayang sekali monster yang sering muncul di perbatasan hanya kroco-kroco lemah yang mudah terbunuh.


"Tapi ada syaratnya," sambung Rahid dan berhasil melenyapkan setengah kebahagiaan di mata Gaia.


"Seharusnya aku tidak lupa bahwa kamu Tiran yang penuh perhitungan." Bibir Gaia sedikit cemberut.


Rahid terkekeh lalu angkat telunjuk ke arah dahi. "Aku minta berkat dua kali sebelum tidur."


"Hah?"


"Sebelum dan setelah aku tidur. Kurasa aku belum pernah mendapatkan ciuman setelah tidur sejak ibuku meninggal."


"Memangnya kamu anak kecil?"


"Katakanlah begitu." Rahid memiringkan kepala sambil tersenyum culas hingga Gaia meraung kesal dan memalingkan wajah keluar jendela kereta.


"Dasar Tiran tidak waras!"

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2