
...SELAMAT MEMBACA...
"Apa anda tahu, Yang Mulia?"
Eslan mengulum senyum culas sambil melirik Rahid yang sibuk di ruang kerja sejak semalam agar nantinya perayaan yang akan diselenggarakan besok tak lagi mengusik.
"Apa itu?"
Eslan berdehem lalu menunjukkan surat kabar yang sejak tadi disembunyikan dari balik punggung. Tanpa banyak bicara lagi, Eslan menunjukkan halaman depan surat kabar yang memuat gambar Gaia dan seorang pemuda tampan dari keluarga bangsawan yang membawahi sebuah serikat dagang tersohor di Retkan. Senyum sang ajudan kian merekah saat kerutan dan alis menukik tuannya ditunjukkan sangat jelas.
"Kenapa kamu memperlihatkan ini padaku, Eslan?"
Rahid meletakkan pena bulu sambil melipat tangan depan dada.
"Bukankah ini kabar gembira, Yang Mulia? Katanya pria ini datang membawa banyak hadiah di kediaman Isra dengan maksud melamar Lady Gaia. Sekarang ini menjadi perbincangan hangat karena katanya pagi ini beberapa bangsawan melihat keduanya tengah berkencan di perkotaan!"
Rahid terbelalak dalam sedetik sebelum kembali normal lantas pria itu meninggalkan kursi sambil meremas surat kabar hingga menjadi gumpalan lalu dilempar ke dalam kotak sampah setelah itu ia pergi tanpa sepatah kata setelah menyambar jubah.
"Y-yang Mulia, anda mau kemana?" Eslan berlari untuk menyusul Rahid.
"Memeriksa keamanan."
Setelahnya Rahid benar-benar meninggalkan istana untuk menyusuri perkotaan, namun pria itu diam-diam bergerak ke arah lain bukannya pergi memeriksa keamanan di setiap titik tenda didirikan sebagai posko keamanan.
"Lady terlihat cocok menggunakan bros itu."
"Terima kasih, Juan."
Suara familier mengusik di tengah keramaian dan ketika mencari sumber suara dengan gesit, Rahid mendapati Gaia bersama seorang pria keluar dari toko perhiasan.
"Selanjutnya kita akan kemana?" Gaia melirik Juan dengan senyum yang ditahan sebab ekor matanya mendapati sang tiran bersembunyi di sudut senyap sambil memperhatikan Juan dengan penuh kekesalan.
"Bagaimana jika makan siang? Saya dengar ada kedai makanan terkenal di sekitar sini."
Juan memberi usul namun betapa terkejutnya ia saat Gaia tiba-tiba memeluk lengannya padahal sejak tadi wanita ini begitu dingin bahkan bicara seperlunya. Tapi lihat ini? Juan langsung bersemu dengan jantung berdegup cepat, raut wajahnya itu justru membuat Rahid sedikit terpancing dan beranggapan bahwa ekspresi tadi adalah milik pria cabul.
__ADS_1
"Eh, bukankah itu, Yang Mulia?"
Rasila menyikut Argio, keduanya sibuk menyusuri perkotaan untuk memastikan para kesatria melakukan pekerjaan dengan baik.
"Wah, sepertinya rencana Lady berjalan sangat mulus. Bukankah ini menyenangkan untuk dinikmati?"
Tengkuk Rasila dan Argio meremang karena Haetric mendadak muncul diselingi senyum culas bahkan yang paling mengejutkan, di belakang penyihir gila itu ada Wysia yang mencemaskan kakaknya berkencan dengan Juan.
"Bagaimana jika kita mengikuti mereka?" Haetric tersenyum sambil menunjuk Gaia dan Juan yang pergi ke tempat lain disusul Rahid yang mengendap-endap seperti penguntit.
...***...
Rahid mengisi kursi di dekat sudut kedai sambil membaca surat kabar untuk menutupi dirinya yang diam-diam menguping, mendengarkan seksama apa saja yang keduanya bicarakan.
"Tentang lamaran saya ... Bagaimana jawaban Lady?"
Juan tersenyum manis sambil menikmati makanan dan Gaia menatap pria itu sembari menjawab dengan nada yang pelan agar tiran yang berada tak jauh di belakangnya tidak mendengar.
"Saya sangat senang bahwa pria seperti anda datang kepada saya, tapi saya sudah menyukai pria lain hanya saja pria itu sedikit menyebalkan sekarang."
Juan mengerenyit lantas matanya bergerak mengikuti ekor mata Gaia yang sejak tadi bergerak agak gelisah dan saat itu pula ia mendapati Rahid yang memasang wajah garang demi berusaha mendengar apa yang Gaia katakan.
Gaia tersentak dan ditatapnya Juan namun pria itu malah tertawa pelan dan pendek.
"Maafkan saya. Sebenarnya hari ini kencan kita saya manfaatkan untuk memberi pelajaran pada beliau." Gaia menunduk.
Rencananya hari ini bahkan sampai melibatkan Eslan agar mengompori Rahid dan memberitahu keberadaannya saat kencan. Gaia yakin bahwa Rahid akan datang karena bagaimanapun ia tahu bahwa pria itu sangat mencintainya karena dengan berani melakukan pengorbanan sampai 100 kali.
"Tidak-tidak. Sejujurnya bisa makan bersama Lady saja saya sudah sangat senang. Saya juga tidak terlalu percaya diri sampai Lady menerima lamaran saya karena sebenarnya saya sangat menggagumi Lady sejak kekacauan bulan lalu."
Sesaat Gaia merasa amat senang tahu bahwa Juan tidak marah dengan niatnya terlebih lagi pria itu adalah penggemarnya. Di sisi lain, Juan sedikit tertarik dengan pria yang terus memperhatikan mereka lantas sambil meninggalkan kursi, ia berdiri di sisi Gaia sambil menaruh kedua tangan di pundak wanita tersebut.
"Maaf jika saya agak lancang, tapi sepertinya saya bisa sedikit membantu."
Juan merunduk dan berbisik, nyaris menempelkan bibir di daun telinga Gaia dan dalam sekedip pula tubuh Juan tertarik cukup kasar ke belakang dan kini posisinya di awal telah ditukar oleh Rahid yang berdiri tegap dengan kedua tangan terkepal sempurna pada sisi tubuh.
__ADS_1
"Rahid?" Gaia terkejut melihat tindakan Rahid, sungguh itu jauh dari dugaannya karena ia berpikir Rahid hanya akan terus menyaksikan, tapi sekarang tiran tersebut berdiri di belakangnya sambil menatap nyalang pada Juan.
"Sial! Aku tidak bisa menahan diri!"
Di atas wajah berkulit tan sang tiran muncul sapuan merah mudah lembut yang samar. Saat suara lembut Gaia menyebut namanya, ia tidak berani menoleh karena malu atas tindakannya sendiri sementara Juan akhirnya tahu bahwa dugaannya tentang pria mencurigakan di sana sungguh sang tiran.
"Ah, maaf, tapi apa yang anda lakukan?"
Juan yang nyaris tersungkur tadi mulai menegakkan tubuh sembari mendekat namun yang diajak bicara justru memalingkan wajah dengan cepat, tapi yang mata Rahid tangkap saat menoleh adalah empat orang yang duduk santai mengisi empat kursi dengan satu meja tengah menatapnya dengan senyum tertahan. Sial! Rahid berharap menghilang sekarang juga apalagi perhatian para pengunjung di kedai mulai mengarah padanya.
"Bukankah itu Sang Tiran?"
"Ah, iya."
"Apa Sang Tiran baru saja mengacaukan kencan Lady Gaia?"
"Bukankah itu sudah pasti? Sang Tiran, kan, sudah menyukai Lady sejak mengangkat Lady sebagai dayang pribadi."
Bisikan para pengunjung membuat tangan Rahid sedikit berkeringat ditambah Gaia kini berada diantara ia dan Juan, menghadapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
"Ah, aku datang bersama mereka dan kupikir pria yang bersamamy adalah Eslan."
Rahid melirik Argio, Rasila, Wysia dan Haetric lalu menatap Juan dengan dingin. Keempat orang tersebut saling pandang dan Argio sempat hendak menggeleng namun tangan besar Rahid tiba-tiba bergerak menyentuh gagang pedang disusul mata mendelik penuh ancaman.
"Benarkan?" Rahid tersenyum pada empat orang tersebut.
Argio menahan ludah dengan sulit sambil melirik ketiga rekannya yang ternyata bergidik karena ancaman yang mengarah padanya merambat ke mereka.
"Y-ya, benar. Saya pikir juga tadi pria ini adalah Eslan." Argio mendekat dan berdiri di samping Rahid sambil tertawa sumbang.
Sekujur tubuh Argio meremang saat melirik bibir Rahid yang berkomat kamit tanpa suara namun ia tahu maksud tuannya, yakni 'cepat beri alasan masuk akal untuk membawaku pergi dari sini.'
"Keringat anda banyak sekali. Silakan." Juan menyodorkan sapu tangan pada Argio.
"Terima kasih. T-tapi sepertinya saya dan Yang Mulia harus per—" Argio tersenyum paksa sambil menerima sapu tangan tersebut.
__ADS_1
"Kebetulan sekali Yang Mulia dan lainnya ada disini. Bagaimana jika kita makan bersama?" Gaia menyela cepat perkataan Argio dengan memberi usul sambil tersenyum lebar.
...BERSAMBUNG ......