
...SELAMAT MEMBACA...
Rasa sakit yang menjerat secara mendadak sudah tak terasa lagi, tapi Gaia justru mendapati dirinya terbangun di kamar asing, aura sihir dan kutukan pekat serta seorang pria berwajah pangeran kedua.
"Kediaman Viren?"
Gaia bangun, duduk menyandar pada punggung ranjang dengan kaki diselonjorkan. Pria bermata violet yang duduk di sofa tak jauh dari ranjang hanya diam sambil menjentikkan jari dan tidak lama seorang pelayan masuk sambil mendorong troli perak berisi makan malam.
"Kamu tiba-tiba mimisan lalu pingsan."
Haetric melirik ekspresi kecut yang ditunjukkan Gaia. Sedangkan wanita itu berpikir kondisinya makin buruk padahal sebelumnya tidak sampai mengeluarkan darah. Ia jadi menerka-nerka seberapa lama lagi hidupnya.
"Apa yang dewa pertaruhkan pada hidupmu?"
"Bahaya jika kuberitahu. Jika kamu setuju tentang kesepakatan yang kutawarkan, semua tanpa terkecuali akan keberitahu. Tentu termasuk cara menyelamatkanmu dari hukuman dari kalah taruhan."
Haetric tertawa pendek. "Tidak perlu jawab apapun, lagi pula tawaranmu itu tidak berguna bagiku."
Haetric lantas bangkit dari sofa dan hendak keluar. "Setelah merasa lebih baik silakan pulang, aku bisa berubah pikiran jika kamu berlama-lama disini."
"Tidak perlu, aku akan pulang sekarang."
Haetric terkejut saat tangan Gaia lebih dulu meraih kenop pintu, mendorongnya terbuka lebih dulu dan berkelebat tetapi tanpa sadar Haetric justru menahan kepergian Gaia dengan mencekal pergelangan tangan.
Wajah yang masih pucat dan tubuh terasa dingin, Haetric tidak yakin membiarkan wanita itu pulang dalam kondisi seperti itu apalagi tak mengenakan mantel tebal di saat angin malam berembus cukup kencang dan menusuk.
"Apa kamu sudah berubah pikiran? Kamu mau membunuhku?"
Bukannya menjawab, Haetric justru menanggalkan mantel dan dmelemparkannya hingga tersangkut di kepala Gaia, menutup tubuh yang lebih kecil darinya itu.
"Lihat, apa sekarang kamu mengkhawatirkanku?" Gaia langsung memakai mantel tersebut walau sedikit kesal karena Haetric memberikannya dengan cara tak sopan.
Sekali lagi, Haetric hanya diam lalu berbalik membelakangi Gaia, menunggu wanita itu cepat menyingkir dari hadapannya tapi sedetik kemudian sebelum benar-benar meninggalkan kediamannya, perkataan Gaia justru membuat Haetric tertegun.
"Aku tidak membencimu, baik rupa asli atau masa lalumu. Bagiku kamu tetap Haetric yang kukenal saat pertama kali kita berdansa bersama. Aku senang bisa mengenalmu, Haetric. Selamat malam."
Setelah cukup lama tercenung, ia langsung menghampiri jendela, memandang jauh keluar dimana Gaia baru saja meninggalkan gerbang utama kediaman Viren.
"Apa Master sungguh ingin membunuh Nona itu? Kalau tidak ada dia, kami pasti sudah mati saat itu. Padahal kami sering menerima kebencian tapi nona tadi tidak memandang kami seperti manusia lainnya."
Sihan muncul di belakang Haetric, ikut memperhatikan kepergian Gaia.
"Dia penghalang terbesar rencana kita untuk balas dendam. Jika gagal hanya karena itu, apa kamu tidak menyesalinya, Sihan? Apa kamu tidak ingat bagaimana saudara-saudaramu terbunuh?" Haetric memicing tak senang.
Sihan memalingkan wajah karena tidak bisa menjawab pertanyaan Haetric di sisi lain Haetric justru berkelebat. Perkataan Gaia berhasil mengusik perasaan dan pikirannya.
__ADS_1
...***...
Hutan Tagh telah dikonfirmasi sebagai lokasi acara perburuan. Hutan yang dipenuhi monster ini membuat senyum duke agneto tak henti mengembang. Sebelum acara dimulai, ia telah menebar puluhan karung berisi bubuk yang dapat membuat monster hilang akal lalu mengamuk, keluar dari sarang persembunyian.
Tentunya, hari ini akan terjadi insiden luar biasa menakutkan bagi semua orang yang menghadiri acara perburuan. Kuda-kuda gagah yang ditunggangi para pria bangsawan membuat para wanita bangsawan memekik riang.
Acara ini dihadiri oleh para bangsawan. Wanita yang hadir nantinya akan dipilih oleh para pria untuk dipersembahkan monster hasil buruan, pria yang mendapat hasil buruan terbanyak akan mempersembahkan sebuah mawar emas pada wanita yang dipilihnya disisi lain, wanita yang mendapat hasil buruan terbanyak dari para pria yang menyerahkan hasil buruan untuknya akan dinobatkan sebagai ratu hasil buruan, acara yang cukup unik dan berbeda.
Dan kali ini, semua orang menebak bahwa wanita itu adalah Irian karena keakraban yang ditunjukkan Rahid pada Irian saat sampai di lokasi telah mencuri perhatian para bangsawan.
Tenda-tenda telah dibangun dan berlambang keluarga bangsawan, terutama tenda paling besar adalah milik sang tiran.
"Aku belum memberi berkat pagi ini padamu." Gaia memasuki tenda dan menghampiri Rahid yang tengah mengelap bilah tajam pedang.
Tanpa menoleh dan bangkit dari duduknya Rahid menolak berkat tersebut sehingga Gaia sedikit tersentak.
"Bukankah ini sesuai kontrak?"
Rahid melirik Gaia dengan jengah. "Apa kamu tidak lihat kita dimana? Apa kamu mau mencuri perhatian karena panas mendengar Irian yang menjadi bintang utama?"
Gaia mengerutkan dahi. "Bukankah perkataanmu terlalu kasar?"
Rahid berdiri, menatap rendah wanita yang sedikit lebih pendek darinya tersebut. "Haruskah aku bicara sopan pada seorang dayang? Jaga batasanmu."
Setelah berkata demikian Rahid melengang pergi tanpa menoleh lagi sementara Gaia membeku di posisinya, dadanya terasa penuh dan sesak.
"Apa yang terjadi pada kalian?"
Damien mendekati Gaia lebih dulu hingga perhatian beralih padanya. Siapapun tahu bahwa Damien terkenal sulit didekati bahkan saat di bawah kepemimpinan raja terdahulu.
"Sejak kemarin dia bersikap dingin pada saya."
Damien lantas memandang Rahid yang sibuk mengelus kepala kuda yang akan ditunggangi.
"Apa kamu melakukan sesuatu yang buruk?"
"Sepertinya dia curiga saya berkhianat." Gaia tersenyum canggung.
Damien mengembuskan napas. Dilihat dari manapun, Gaia tidak mungkin melakukan itu apalagi ketika perbicaraan terakhir kali mereka di wilayah utara.
"Aku akan berbicara padanya. Dia itu cukup keras kepala."
Gaia hanya angguk kepala lalu membiarkan Damien mendekati Rahid setelah itu tiba-tiba Wysia mendekat dan meminta Gaia bergabung bersama wanita bangsawan lainnya untuk menikmati jamuan teh kecil yang ada dalam tenda.
Duar!
__ADS_1
Peledak yang diarahkan ke langit menimbulkan suara dentuman keras, pertanda bahwa perburuan dimulai. Dalam sekejap para pria melesat memasuki hutan yang dalam, hampir dua jam berlalu sejak para pria berburu dan belum ada satupun yang kembali ditbah langit mendadak jadi gelap seolah hujan besar akan mengguyur hutan tanpa ampun.
Arrgh!
Raungan monster bergaung bersamaan angin berembus kencang, beberapa wanita bangsawan saling memeluk satu sama lain bersama para kesatria yang melindungi mereka.
"Kak, ada apa ini?"
Wysia mendekati Gaia yang telah memegang gagang pedang, menatap sekeliling dengan waspada.
"Sepertinya Yang Mulia akan sampai lebih dulu. Apa anda tahu bahwa Yang Mulia menjanjikan kemenangannya untuk saya? Mungkin itu suara monster yang merenggang nyawa ditangan Yang Mulia." Irian berujar keras sambil memicing sinis pada Gaia.
Gaia membalas senyum Irian tak kalah sinis. "Benarkah? Bagaimana jika itu monster yang datang mendekat?"
Irian mengetatkan rahang. "Mana mungkin ada monster yang keluar dari hutan ini. Tidak mung—"
Perkataan Irian terhenti. Ia lupa bahwa angin berembus kencang dan kemungkinan besar bubuk itu terbawa angin dan menyebar ke seluruh sudut hutan ini.
"Sepertinya Lady Gaia benar!"
Para wanita menjerit hebat melihat monster berwujud banteng berdiri dengan kedua kaki lalu sebelah tangannya memegang sebuah kayu besar yang berasal dari pohon yang dipatahkan.
Para kesatria mulai melindungi masing-masing majikan mereka namun, tidak semuanya berpengalaman dalam menghadapi monster kecuali pasukan khusus istana yang dipimpin oleh Argio, pasukan duke agneto, pasukan khusus duke utara, pasukan kesatria Isra dan beberapa lainnya.
"Lindungi para wanita dan pendeta!" Argio berseru lantang sesaat monster lainnya bermunculan tanpa henti dan meraung dengan liur yang menetes.
"Berlindunglah, Wysia."
Gaia langsung mendorong Wysia ke dalam lingkar penjagaan para kesatria lalu ikut bergabung untuk menghunuskan pedangnya pada para monster.
Argio terbelalak, tidak menyangka bahwa Gaia berhasil menumbangkan satu persatu monster tanpa kesulitan. Para kesatria dari wilayah utara pun berdecak terutama para dame yang membuat pertahanan di balik para penyerang.
"Apa-apaan wanita bangsawan itu?"
"Dari mana asalnya?"
"Bukankah dia dayang Yang Mulia?"
"Itu Putri Marquess Isra."
Gaia tidak peduli, indera pendengarnya seolah tuli bersama derasnya hujan dimulai. Untung saja ia memakai celana di balik gaunnya jadi tampak perhituangan, pedangnya menyobek rok gaun yang telah ternoda darah para monster.
"Ukh! Itu kutukan, kan?" Gaia melebarkan mata sesaat menangkap sosok pria dalam hutan yang diselimuti kutukan.
Tanpa pikir panjang, Gaia langsung memasuki hutan karena berpikir pasti para monster berulah karena orang itu tapi siapa sangka bahwa ia justru berakhir sangat dalam di area yang telah dipenuhi serigala-serigala yang menggila karena sihir hitam, ini sudah direncanakan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ......