
...SELAMAT MEMBACA...
Dalam ruang santai yang hanya diterangi satu lampu minyak terletak di atas meja kaca, Gaia memandangi pria berkulit tan yang menyandar di sofa berseberangan dengannya. Pria itu mengenakan atasan putih lalu dipadu celana hitam sembari enggan mengalihkan pandang darinya.
"Apa aku harus diam saja sambil menunggumu menyelesaikan buku-buku itu?" Gaia melirik setumpuk buku dekat sofa.
"Aku masih memikirkan pertengakaran kecil kita beberapa hari lalu dan kupikir sepertinya kamu benar. Aku berlebihan karena sempat menganggap itu lebih dari pemberkatan."
Rahid mengulum senyum getir lantas memandangi cahaya dalam kaca lampu minyak.
"Saat berumur 8 tahun aku diculik dan terbangun bersama kutukan sudah tertanam dalam tubuhku."
"A-aku kira kutukan itu sudah ada sejak kamu terlahir."
Gaia tergagap. Berdasarkan cerita Aina, kutukan yang Anastasia derita diterima pula oleh bayi dalam kandungan namun jika yang Rahid katakan benar maka Amorea bukan penyebab kutukan pada Rahid, apakah ada penyihir lain, tapi siapa? Haetric? Gaia mulai menerka.
"Sejak saat itu aku hampir menyerah tapi karena kemarahanku lebih besar, akupun bertahan. Namun, ada saja orang yang menghancurkan kepercayaanku dan aku harap kamu bukan salah satunya karena itu sangat membuatku sedih."
Sesaat napas Gaia tercekat. Baru saja tatapan Rahid seolah menelisik lebih jauh ekspresinya, ada kilatan marah dan kecurigaan di dalamnya. Gaia tidak tahu apa yang telah terjadi selama dirinya sibuk berkeliaran di luar untuk mencari bukti bahwa penyihir bukanlah penyebab awal semua masalah ini terjadi.
...***...
Esok harinya, Gaia tidak pergi kemana pun, rasanya melelahkan kesana kemari dalam kondisi sakit yang tidak menentu datangnya namun, saat hendak menemui Rahid siang harinya, ia justru mendapati tiran tersebut asik bercengkerama bersama Irian di ruang minum teh, keduanya tampak akrab.
"Sejak kapan mereka sedekat itu?" Gaia merasa dadanya sedikit tercubit melihat kedekatan tersebut. Tidak mau lebih lama disana, akhirnya ia memutuskan untuk pergi tapi keberadaannya ditangkap oleh mata Rahid.
"Kebetulan kamu kemari. Datang dan tuangkan teh untuk kami."
Tubuh Gaia tersentak, ditatapnya Rahid dengan alis terpaut tajam.
"Kamu dayangku, jadi turuti apa yang kuinginkan."
Gaia benar-benar tak paham kenapa sikap manis pria itu berubah dalam semalam, jika itu karena sihir, ia tidak menemukan apapun. Walau tak senang, Gaia tetap menuruti perintah Rahid, mengisi cangkir sesuai etika dalam menjamu tamu.
"Aku tidak tahu bahwa kamu pandai melayani seseorang. Jika nanti aku berada di sisi Yang Mulia, sepertinya kamu cocok jadi dayang pribadiku."
Senyum Irian terlukis angkuh hingga pergerakan Gaia yang menuang teh terhenti.
__ADS_1
"Yah, jika kamu menginginkannya, itu akan terjadi, Irian."
Rahid mengulas senyum pada Irian dan itu sukses membuat Gaia tercenung beberapa detik ke depan sebelum akhirnya terkesiap saat Rahid mengetukkan jari di meja sebagai kode bahwa Gaia harus mengisi cangkirnya pula.
"Sekarang kamu boleh pergi."
Setelah selesai menuang teh, Rahid menyuruh Gaia pergi dari sana. Dalam keadaan bingung, Gaia menemui Eslan dan bertanya kenapa Rahid bertingkah demikian terhadapnya, tapi Eslan bahkan mengabaikannya dan bertingkah sama seperti Rahid jadi ia menemui Argio.
Argio lantas menarik Gaia ke sudut istana yang jarang dilewati siapapun lantas memberi tahu percakapan apa yang telah dibahas oleh Rahid dan Irian dipertemuan sebelumnya.
"Jadi kemungkinan besar Rahid sudah tahu bahwa Haetric penyihir lalu dia mencurigaiku karena pernah menemui Haetric, begitu maksudmu?"
Argio angguk kepala. "Iya."
"Rasila! Kebetulan kamu disini."
Rasila terkesiap sesaat Gaia menangkap bahunya lalu di belakang sana ada Argio.
"Ada apa ini?"
"Ya, saya akan melakukannya."
...***...
Irian bersenandung kecil lalu masuk ke ruang kerja ayahnya. Di dalam sana ayahnya tak sendiri melainkan bersama Haetric.
"Bagaimana?" tanya Haetric pada Irian.
Irian bertepuk tangan sambil tersenyum manis pada Haetric. "Yang Mulia percaya pada apa yang saya katakan bahkan dia sampai bersikap sangat dingin pada wanita itu."
Haetric lantas mengulum senyum. Jika hubungan antara Rahid dan Gaia terpecah, mudah bagi Duke Agneto untuk membunuh Gaia di acara berburu nanti lagi pula Haetric begitu yakin bahwa Gaia membenci dan jijik setelah melihat wajah juga mendengar ceritanya. Jika Gaia dibiarkan hidup, maka rencana yang hampir hancur ini benar-benar akan lebur dalam sekejap apabila Gaia yang memiliki kekuatan suci menaklukkan kutukan dan sihir ikut campur.
"Apakah barang-barangnya sudah berhasil diselinapkan?" Duke Agneto mendekati Haetric.
"Tenang saja. Itu mungkin sudah tersembunyi sangat baik."
Setelah percakapan singkat tersebut, Haetric enggan berlama-lama jadi ia segera pergi dari kediaman duke agneto dan kembali ke kediaman Viren namun di persimpangan jalan ia justru bertemu Gaia yang baru kembali dari kuil Sanctia namun wanita itu sangat aneh, jalannya sedikit lunglai wajahnya pun sangat pucat.
__ADS_1
"Ah!"
Gaia memejamkan mata sesaat kakinya tak mampu lagi menahan keseimbangan dan secara bersamaan tangan hangat Haetric telah menyanggah tubuhnya.
"Haetric?"
"Ada apa denganmu?" Haetri menatap Gaia penuh selidik.
"Bisa kamu bantu aku kesana?" Gaia melirik bangku yang membelakangi kolam air mancur yang berada di tengah-tengah kota.
Tanpa banyak bicara, Haetric langsung membawa Gaia duduk disana sembari memberi sebotol air mineral. Cukup lama keduanya terdiam, namun Haetric sibuk dengan pikiran yang mempertanyakan kenapa ia menolong wanita yang hendak dibunuhnya beberapa hari lagi.
"Apa leluhurmu kalah dalam pertaruhan?" tanya Gaia.
Sekujur tubuh Haetric terasa disengat, kini matanya memicing tak senang pada Gaia sementara yang ditatap hanya tersenyum tipis. Berdasarkan apa yang Wysia katakan bahwa ada seorang penyihir yang diberkati Dewi Hecate maka itu adalah Haetric maka dari itu, Gaia mulai membuka literatur-literatur kuno tentang penyihir, buku itu sangat sulit ditemukan dan menghabiskan banyak uang, untung saja ia berasal dari keluarga kaya raya.
"Kamu mencari tahu tentangku? Kamu mau mati lebih cepat, ya?" Haetric menyusupkan tangan tangan kirinya di leher jenjang Gaia.
"Penyihir itu memiliki sihir yang indah. Mereka bisa membuat api dan air menari, membuat sesuatu bergerak dan melayang diudara, lalu memanggil makhluk-makhluk legenda seperti naga. Jadi aku mulai menerka, apakah dewa bertaruh pada leluhurmu dan taruhan itu justru dimenangkan oleh dewa sehingga penyihir kehilangan keindahan dari sihir yang seharusnya beragam?"
Gaia tersenyum tapi justru membuat Haetric makin jengkel, jika wanita itu terus bersikap demikian padanya, ia bahkan akan kehilangan niat untuk membunuhnya.
"Dengar, Haetric."
Gaia menangkup rahang tegas penyihir dingin di hadapannya tersebut, sama seperti Rahid, keduanya menyimpan dendam yang amat besar.
"Mari buat kesepakatan denganku."
"Singkirkan tanganmu. Kamu pikir aku mau mendengarkan orang yang berpihak pada musuhku?"
"Jika dugaanku benar, aku bisa menyingkirkan hukuman atas taruhan yang tidak leluhurmu menangkan. Tapi kumohon hentikan rencana yang sedang kamu lakukan."
Haetric langsung menyentak tangan Gaia dari tangannya tapi secara bersamaan darah meleleh dari lubang hidung wanita tersebut dan perlahan kelopak matanya terkatup. Tubuh Gaia langsung merosot dalam dekapan Haetric.
"A-apa yang terjadi padamu?"
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1