
...SELAMAT MEMBACA...
Malam semakin merayap. Dalam keheningan memperhatikan Gaia yang masih terlelap diranjang, Rahid terus memikirkan apa yang Sain katakan siang tadi. Yah, itu benar bahwa Gaia terus dalam bahaya dan mempertaruhkan nyawa saat di sampingnya, tapi itulah resiko yang Gaia dapatkan dari kesepakatan yang mengikat mereka.
Lalu, kenapa ia merasa resah setiap kali melihat Gaia dalam kondisi seperti ini? Rahid tahu jelas alasannya bahwa ia telah memiliki perasaan pada Gaia namun jika perasaan itu dibiarkan membesar, Rahid tidak ingin rencana balas dendamnya terkubur hanya karena cinta yang bahkan tidak tahu sampai kapan akan bertahan dan apakah Gaia akan menerima perasaannya.
Walau hanya diterangi cahaya lampu di atas nakas samping tempat tidur, Rahid bisa lihat dengan jelas wajah pucat yang selalu mengusiknya sejak siang tadi, tapi si wanita begitu damai saat terlelap, tidak seperti dirinya yang tampak tenang di luar dan kacau di dalam.
"Apakah Yang Mulia masih menjaga Nona?"
Rasila bertanya pada Argio yang berjaga di depan pintu kamar Gaia.
"Ya."
"Bukahkan menurutmu Yang Mulia sangat aneh sejak Nona bergabung bersama kita?"
"Ya, sangat aneh."
Argio sepaham. Semua tindakan Rahid pada Gaia terbilang lunak, padahal sering kali sikap kurang ajar ditunjukkan dari Gaia, tapi Rahid menanggapi hal itu sebagai hiburan namun, masalah melepas anak-anak penyihir merupakan masalah berbeda. Jika menilik dari hari-hari sebelum terjadinya masalah ini, bisa dibilang Rahid cukup memperhatikan Gaia.
Kembali pada Rahid yang masih terjaga, perlahan cahaya remang dari lampu tidur berkedip dan saat itu pula mata Gaia perlahan terbuka, meliriknya dengan sayu nan lemah.
"Para dewa itu ... Sungguh kejam."
Rahid menyingkirkan buku yang sejak tadi dibaca di atas pangkuan. Gaia mungkin masih belum sadar sepenuhnya, namun perkataan tadi membuat Rahid sedikit tertarik.
Pandangan Gaia lantas beralih, memandang langit-langit kamar sembari berkata kembali. "Baik dan buruk, gelap dan terang, lalu cinta dan benci."
Rahid tetap diam, menyimak apa yang keluar dari mulut wanita lemah di depannya. Perlahan Gaia bangun terduduk ke tepi ranjang, tepat di depan Rahid yang duduk di sofa dengan jarak hanya seperkian senti. Gaia sendiri masih berpikir bahwa ia sedang berhalusinasi karena rasa sakit atau dirinya kembali dibawa ke dimensi lain oleh para dewa sebab kenyataannya ia pasti masih berada dalam penjara dan merintih kesakitan, itulah pikirnya.
Namun, walau ini hanya halusinasi atau sebagainya, Gaia tidak bisa menahan diri untuk menggapai pemuda dingin penuh dendam yang tidak berkedip saat memandangnya. Dalam gerakan lambat, tangan kanan Gaia terulur untuk menyentuh lembut sebagian rahang wajah Rahid, tidak ada pergerakan jadi Gaia semakin yakin ini adalah alam bawah sadarnya.
"Sama seperti itu, aku yakin bahwa hatimu tidak sepenuhnya menyimpan kebencian. Jika aku bisa memberikan sedikit ketenangan untukmu, akankah itu lebih baik jika pada akhirnya kamu terluka?"
__ADS_1
Rahid tertegun, sepasang matanya sedikit terbelalak mendengar apa yang Gaia katakan. Sorot mata wanita itu tidak menunjukkan rasa kasihan, lalu lagi dan lagi, Rahid tidak mampu menahan diri sehingga tangannya bergerak untuk meraih pinggang Gaia, membawanya terduduk di atas pangkuannya.
"Apa itu kelegaan sementara?" Rahid bertanya, suaranya semakin berat.
Gaia diam, matanya menipis saat melihat pergerakan bibir Rahid dan sedikit senyum terlukis disana, lantas tanpa aba-aba, kedua tangan Gaia sudah menangkap rahang wajah Rahid seutuhnya, memandang pria itu lebih tinggi darinya hingga rambut panjangnya menutupi sisi kanan kiri wajah pria yang kini terbuai dalam kecantikan dan keberanian yang ia qtunjukkan
"Entahlah. Tapi kuharap kamu bisa sedikit lunak pada dirimu sendiri dan ini .... " Gaia mengusap bibir tebal Rahid menggunakan ibu jari lantas kepalanya kian merunduk hingga menyatukan bibir satu sama lain.
Mata Rahid melotot, kedua tangannya yang masih mencekam longgar pinggang Gaia mendadak mengeras, urat tangannya timbul bersamaan rasa terkejut dan aneh yang seolah menyengat perut dan membakar darahnya.
" ... Adalah berkat hari ini.
Gaia melonggarkan jarak antara bibir, menatap Rahid cukup dalam sambil tersenyum lebar, memperlihatkan sederet gigi rapi nan bersih disusul mata yang menyipit bersama semburat merah lembut di kedua pipi.
"Kamu tidak memberi berkat selama tiga hari, jadi mari lakukan sebanyak itu," ucap Rahid.
Rahid lantas menangkap wajah Gaia, membawanya kembali dalam ciuman ringan dengan pergerakan lembut. Sekejap Gaia mengerutkan dahi, pergerakan dari mulut Rahid yang membasahi bibirnya itu terasa amat nyata dan tidak ada pikiran untuk Gaia mengakhirinya, ini pertama kali walau di alam bawah sadar, rasanya kurang ajar melakukan ini terhadap Rahid tapi rasa panas dari pergerakan lidah besar yang mengabsen setiap celah dalam mulutnya membuat Gaia menikmati sensasi tersebut sampai pada akhir ciuman ketiga kesadaran Gaia perlahan meredup. Tubuhnya melemah dan akhirnya terkulai dalam dekapan Rahid yang masih duduk tegap di sofa.
"Bisa-bisanya aku memanfaatkan kelemahannya begini." Rahid mengusap rambut blonde indah Gaia lantas mendaratkan ciuman ringan di dahi wanita tersebut.
...***...
"Ukh! Itu benar-benar mimpi yang mengeju— eh?!"
Ketika malam telah berakhir, kicauan burung terdengar merdu dari luar jendela dan ketika membuka mata bersama rasa pening yang mendera hebat kepalanya, Gaia mendapati diri di dalam kamar dan bukan penjara.
"Akhirnya kamu bangun!"
Gaia berkedip dua kali melihat Rasila datang dan memeluknya. Walau terkejut, Gaia membalas pelukan kesatria wanita tersebut. Sejak tahu bahwa Rasila menguping pembicaraannya dengan Damien, Gaia meminta pada Rasila untuk menjaga kenyataan bahwa dirinya tidak baik-baik saja dan saat itu hubungan keduanya mulai semakin akrab.
"Bagaimana keadaanmu, Gaia?"
"Eh, Sain?"
__ADS_1
Rasila melepaskan pelukan dan sedikit mundur untuk memberi ruang bagi Sain menyalurkan kekuatan penyembuh untuk sedikit membuat kondisi Gaia sedikit lebih baik setelah sadar.
"Mulai sekarang aku akan lebih banyak menghabiskan waktu disini. Yang Mulia memintaku ikut dalam pemeriksaan benda-benda yang ditanam sihir hitam dan kutukan." Sain menjelaskan diiringi senyum yang seolah tak akan luntur.
"Benarkah?! Jadi kita bisa saling bertemu." Gaia tersenyum cerah namun senyumnya raib sesaat Rahid muncul ditemani Eslan dan Argio.
"Ah, sial!" Gaia berusaha mengontrol ekspresi wajah. Mimpi atau halusinasi semalam membuatnya hampir memerahkan seluruh wajah.
"Ah, apa aku harus kembali ke penjara sekarang?" Gaia melirik Rasila dan berdesis.
Rasila tersenyum sambil geleng kepala. "Yang Mulia sudah mengakhiri masa hukumanmu. Jadi, semua kembali seperti semula."
"Jadi ... Apakah Yang Mulia datang untuk meminta berkat?" Gaia menatap Rahid yang sudah ada di depannya.
Rahid sedikit tersenyum lantas tangan terangkat sambil mengusap bibir yang terdapat setitik luka seperti digigit. "Hm ... kurasa untuk hari ini tidak perlu karena semalam aku merasa tubuhku disengat jutaan kekuatan suci."
"Hah?"
Kecuali Rahid, semua yang ada disana mengerutkan dahi dan bingung, walau begitu diantara mereka, wajah Gaia sudah sangat merah.
"Ah, apa itu karena sejak semalam anda terjaga bersama Lady Gaia? Bukankah kata pendeta bahwa saat itu kekuatan suci Lady Gaia menguar tanpa kendali? Apa mungkin karena itu?" Argio memecah keheningan.
Rahid melipat tangan di dada, menatap Gaia lebih intens disusul senyum tipis penuh kesenangan. "Yah, mungkin karena itu."
"Apa-apaan ekspresinya itu? A-hahah, mana mungkin kami melakukannya, kan? Apalagi itu sebanyak tiga kali." Gaia berkeringat sambil menatap Rahid, tapi pria itu justru kembali mengusap bibir.
"Seharusnya itu bukan tiga kali, mengingat pemberkatan juga dilakukan sebelum tidur. Harusnya aku melakukannya sebanyak enam kali," kata Rahid dan sukses membuat yang lainnya kecuali Gaia tak paham.
Mata Gaia melotot, kini wajahnya sudah sangat merah. Berarti semalam bukan halusinasi ditambah yang memulai ciuman itu adalah dirinya.
"Sepertinya aku ingin pingsan lagi," gumam Gaia.
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1