Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
15| Hadiah pertemanan


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Rumah-rumah berjajar indah di sisi jalan lapang di ibukota, banyak orang berlalu disana mulai dari rakyat biasa hingga bangsawan. Mudah sekali membedakan mana bangsawan dan rakyat biasa.


Jika itu bangsawan, mereka mengenakan gaun indah yang terlihat mewah ditemani seorang pelayan di sisinya, memegang payung demi menghindari teriknya matahari kemudian jalanan juga dilintasi oleh sais yang mengeret kereta kuda mewah milik bangsawan atau kereta kuda untuk angkutan umum.


Gaia tersenyum cerah melihat semua pemandangan tersebut. Gaia hanya mengenakan gaun sederhana khas rakyat biasa sambil menyanggul rambut, menyelinap di keramaian pinggir jalan sambil menikmati roti yang dibeli di salah satu toko roti.


Sebelum berangkat ke wilayah utara, Gaia minta izin pada Rahid untuk pergi keluar untuk membeli sesuatu. Walau berat hati memberi izin, akhirnya Gaia bisa mendapatkan hak untuk keluar.


"Selamat datang di toko perkakas istimewa kami!"


Pria berkumis tebal dengan perut gempal tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-gigi besar yang tersusun agak jarang. Seperti biasa, Gaia selalu mencari toko yang tidak mencolok, berada di gang-gang belakang yang hanya dihuni oleh beberapa preman atau pengemis.


Bukan tanpa alasan, karena hal istimewa selalu tersembunyi dan sulit ditemukan di ruang umum. Gaia mengulas senyum, toko perkakas ini memiliki barang langka dan mewah, kebanyakan dari barang merupakan barang asli dan sebagian besar barang di toko itu dibawa ke tempat lelang.


"Berikan pedang terbaik yang kamu miliki." Gaia mengeluarkan sekantung permata di atas bar tepat di depan pria gemuk tersebut.


Jubah besar beige yang Gaia kenakan tampak berkibar sesaat sekantung kulit permata diletakkan, sehingga salah seorang pemuda yang bersembunyi di balik jubah cokelat sedikit melirik ke arahnya disusul senyum tipis.


"Tampaknya kita berjodoh, ya."


Gaia berkedip dan menoleh pada kursi di sudut toko yang diduduki oleh pasangan dansanya di pesta Irian kemarin.


"Haetric?"


"Hai." Haetric melambai sambil memiringkan kepala.


"Saya akan membawakan barang terbaik di hadapan, Nona." Si pemilik toko lantas pergi, memasuki bilik untuk mencari barang berkualitas terbaik.


Sementara Gaia hanya angguk kepala sambil menarik kursi untuk duduk dekat pria berkulit pucat tersebut. Untuk sekejap, Haetric terperangah mendapati seseorang lebih dulu mendekatinya saat hendak bicara.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Gaia.


"Mencari sesuatu sepertimu. Tidak kusangka wanita bangsawan sepertimu pandai memilih toko."


Gaia mengulum senyum seolah bangga pada diri sendiri walau begitu ia berusaha menunjukkan raut wajah tidak terlalu senang pujian. "Aku tahu beberapa tempat terkenal yang selalu bersembunyi di kegelapan."


"Ini dia barangnya."


Satu buah peti kayu panjang berisi pedang putih dengan permata safir di gagang pedang tersaji indah di depan mata Gaia.


"Wah, bukankah itu pedang Vitagya," komentar Haetric.


"kamu juga tahu? Ini adalah pedang yang pernah digunakan saintess pertama di Retkan saat pertama kali membunuh pemimpin penyihir." Gaia menjelaskan sambil meraih pedang tersebut, bukan kebanggaan yang terpancar di matanya melainkan kekecewaan mendalam dan hal tersebut membuat Haetric bertanya-tanya.


"Wah, bukankah itu pedang yang luar biasa. Jika kamu memilikinya, bukankah itu suatu kebanggaan?"


Berdasarkan sejarah yang Gaia ketahui, pedang ini memang dibuat khusus untuk membunuh penyihir terkuat kemudian diberikan kepada saintess yang diberkati kekuatan suci. Dari sanalah pemburuan penyihir berakhir bersamaan sang saintess yang raib, namun di semua buku dijelaskan betapa mengerikan dan buruknya perilaku penyihir sehingga tidak ada pilihan lagi selain melenyapkan mereka, tapi apa benar begitu? Yang menulis sejarah adalah pemenang dan pemenangnya merupakan manusia yang membenci penyihir.


Gaia kemudian memasang sarung pedang di lingkar pinggang, memasukkan pedang dan menangkap sorot mata tak mengenakkan Haetric mengarah pada pedangnya.


"Matamu sungguh berlawanan dengan pujian tadi."


Celetukan Gaia membuat Haetric sadar. Ia sampai lupa mengendalikan emosi karena melihat bagaimana benda yang ditempa untuk membunuh leluhurnya berada di tangan wanita yang akan jadi musuh terbesarnya dalam menghancurkan Retkan.


"Ah, ya, bisa kamu berikan aku yang lain? Semacam perhiasan," pinta Gaia.


Dengan senang hati si pemilik toko berlari riang dan membawa sederet benda yang memukau pandangan. Haetric hanya diam dan memperhatikan apa yang Gaia lakukan lagi, namun matanya sedikit membelalak kala Gaia tersenyum padanya sambil menunjuk sebuah gelang yang disesaki butiran batu permata amethyst.


"Ini sangat cocok untukmu." Gaia meraih gelang tersebut dan meminta izin agar Haetric mengulurkan salah satu tangan.


Amethyst dikatakan sebagai jimat pelindung, mereka memiliki warna megah dan menjadi dambaan raja-raja di zaman kuno. Gaia memilih satu benda sebagai bentuk permintaan maaf karena saat berdansa waktu itu telah menginjak kaki Haetric berkali-kali.

__ADS_1


"Kenapa kamu memberikan ini padaku?" Haetric mengulurkan tangan kanan pada Gaia.


"Anggap saja ini hadiah pertemanan kita. Kurasa Amethyst cocok untukmu karena terkadang di waktu-waktu tertentu matamu tampak memancarkan kilau keunguan."


Haetric terkejut dan terbuai secara bersamaan. Dalam hidupnya, baru kali ini menerima sebuah pemberian ditambah sang pemberi tersenyum puas setelah memasangkan pemberian tersebut di pergelangan tangan kanannya. Di lain sisi, ia terkejut karena Gaia menangkap keanehan itu di matanya. Semua penyihir memiliki bola mata ungu, jadi untuk sekarang Haetric menutupi itu dengan sihir.


"Itu sangat cantik."


Gaia berdiri kemudian berjalan untuk keluar namun sebelum itu Haetric lebih dulu menangkap tangan Gaia, membuat wanita itu berhenti melangkah dan menoleh.


"Eh?"


Gaia tersentak, sesaat dirinya menoleh, Haetric langsung memasang sebuah kalung berpermata ruby, warna merah merona yang berkilau sempurna, itu benar-benar indah.


"Pecahkan benda itu jika kamu dalam bahaya." Haetric tersenyum setelah benda tersebut tersemat di leher jenjang Gaia.


Gaia yakin bahwa perhiasan ini tidak ada di sederet perhiasan yang ditunjukkan pemilik toko.


"Itu adalah permata yang tersemat di jantung naga, sangat sulit mendapatkannya jadi kuharap kamu menggunakannya dengan baik." Haetric tersenyum lantas menuntun Gaia untuk keluar dan berhenti menatap batu tersebut dengan kekaguman.


"Ini bahkan tidak sebanding dengan amethyst yang kuberikan. Apa kamu tidak terlalu bermurah hati?"


"Bukankah katamu ini hadiah pertemanan kita? Kalau begitu aku juga harus memberikan sesuatu."


Ruby yang berasal dari jantung naga memiliki kekebalan terhadap segala macam sihir selain itu bisa digunakan sebagai pemanggilan dan perisai saat dalam bahaya. Gaia benar-benar tidak bisa menebak seperti apa jalan pikir Haetric. Pria misterius yang bahkan tak ia ketahui ekspresi seperti apa yang ditunjukkan di balik topeng tersebut.


"Jika kita semakin dekat, apakah kamu mau menunjukkan wajahmu padaku?"


Gaia langsung tutup mulut, tanpa sadar ia mengatakan hal yang kelewat batas namun Haetric menyipitkan mata, pertanda tengah tersenyum. Lantas tangan pria itu menelusup di bawah rahang Gaia.


"Jika menunjukkannya padamu, aku tidak yakin bisa melepaskanmu begitu saja."

__ADS_1


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2