
...SELAMAT MEMBACA...
Hanya diterangi sebatang lilin di nakas dekat sofa, Rahid terduduk sambil memandangi Gaia sudah tidak berkeringat dan kesakitan seperti sebelumnya. Kekuatan suci dalam tubuh wanita itu perlahan bekerja secara normal, tapi tetap saja terkadang lolos rintihan dari bibir pucatnya yang gemetar.
Rahid menaruh kedua tangan di balik tengkuk sambil menunduk dalam, mencari tahu sejak kapan dia jadi begitu peduli terhadap Gaia, wanita tidak sopan yang datang sambil mengenggan kelemahannya untuk melakukan kesepakatan.
"Apa sejak kamu menunjukkan kekuatan itu di hadapanku?" Rahid bergumam, mengingat rambut blonde dan warna mata Gaia berubah saat menunjukkan kekuatan suci di ruang takhta saat itu.
Tok!
Ketukan sebanyak tiga kali terdengar dari luar pintu, tak lama Argio dan Rasila masuk dan berkata bahwa pria di menara itu berhasil ditangkap. Rahid lantas berdiri dari sofa lalu mendekati Gaia, mendaratkan sebuah kecupan singkat di dahi wanita itu setelah menyentuh sejuput rambut halus blonde Gaia.
"Perketat keamanan di kamar ini selagi aku tidak ada dan kamu harus berjada di dekatnya, Rasila."
Rahid memberi perintah setelah keluar lebih dulu bersama Argio. Rasila hanya angguk kepala kemudian memerintah para kesatria untuk berada di setiap titik penjagaan di sekitar kamar Rahid lantas dirinya berdiri di sisi ranjang sambil mengamati Gaia yang terbaring tengkuran dengan perban melilit punggung yang terluka.
"Padahal kami mewaspadai anda, tapi justru anda lah yang menyelamatkan Yang Mulia saat kami lengah." Rasila mengepalkan tangan di sisi tubuh, perasaan tak becus menguasai para anggota Invicta saat mereka kecolongan penyusup.
Sementara itu, di penjara yang pengap dan lenggang, satu persatu obor yang tersemat di dinding menyala, menuntun Rahid dan Argio masuk lebih dalam dan berakhir pada salah satu bilik dengan pintu kayu ditemani empat penjaga di depannya.
Rahid lantas masuk. Pria berpenampilan serba hitam menatap berang pada Rahid, ternyata seorang pemuda.
"Berikan belatimu." Rahid mengulurkan tangan pada Argio.
Argio lantas memberikan belati dari balik jubahnya dan Rahid mendekati si pemuda sambil memotong satu jari kelingking di tangan kanan pemuda tersebut hingga rintihan bergaung.
"Siapa tuanmu?"
Si pemuda mengeluarkan air mata cukup deras, tapi mulutnya tetap terkatup rapat. Oleh karena itu, satu jarinya harus kembali hilang di bawah belati pada tangan Rahid.
__ADS_1
"Haruskah kamu kehilangan 20 jari baru mau bicara?" kilatan di mata hitam Rahid memancarkan aura membunuh.
"Mmm ... Hmmm!" si pemuda menggeleng sambil berusaha menjawab namun bibirnya bahkan tidak mampu membuat celah.
"Sepertinya pria ini ditanamkan kutukan bisu untuk menjaga rahasia, Yang Mulia," celetuk Argio di belakang.
"Tsk!"
Rahid berdecak sambil memikirkan cara lain. Kutukan bisu ditanam dalam langit-langit mulut atau lidah sehingga si penerima kutukan tidak akan membuka mulut untuk membeberkan apa yang seharusnya tidak dikatakan, tapi kali ini si penerima kutukan bahkan tidak mampu membuka mulut untuk menjawab perkataan yang tak ada kaitannya dengan apa yang seharusnya tidak dikatakan.
"Aku akan mengatakan sesuatu dan jika benar, anggukkan kepalamu tapi kalau salah, gelengkan kepalamu. Kamu paham? Kalau kamu tetap tidak mau, kurobek sedikit demi sedikit daging lehermu."
Rahid berkata demikian sambil memberi sayatan kecil di sekitar leher si pemuda dan tentu perkataan tersbeut berhasil menciptakan ketakutan. Si pemuda lantas angguk kepala dan Rahid mulai bicara.
"Duke Agneto?"
Sepasang mata si pemuda melebar, pandangannya jadi tak menentu sebelum akhirnya mengangguk lemah.
Si pemuda menggeleng cepat.
"Ada orang lain lagi rupanya. Apa itu penyihir?"
Si pemuda angguk kepala.
"Pria?"
Si pemuda kembali angguk kepala.
"Jadi Duke Agneto bekerja sama dengan penyihir untuk membunuhku. Lalu malam ini di pesta perayaan, dia berusaha membunuhku? Sialan!" Rahid mengetatkan rahang.
__ADS_1
Mengira itu adalah pertanyaan untuknya, si pemuda menggeleng kuat.
"Hah?" Argio dan Rahid mengangkat sebelah alias, memikirkan itu jawaban untuk pertanyaan yang mana.
"Di pesta ini, Duke Agneto menyuruhmu membunuh Yang Mulia, kan?" Argio langsung maju.
Si pemuda menggeleng.
"Lalu siapa?" Rahid menerka, tapi di balkon saat itu hanya ada dirinya.
"L-lady Gaia?" Argio terbata dan saat itu pula si pemuda angguk kepala namun tak lama reaksi aneh muncul dari mata si pemuda bersama darah hitam mengucur dari sela bibirnya yang mulai terbuka.
"Ukh! Argh!"
"Apalagi itu?" Argio menutup hidung, bau tak sedap langsung menyengat indera penciumannya.
"Apalagi, itu pasti kutukan lainnya agar seseorang mati sebelum mengungkap kebenaran. Duke Agneto mungkin berpikir bahwa kita bisa menanggalkan kutuksn bisu sehingga menanamkan kutukan waktu bunuh diri di tubuh pemuda itu."
Rahid berdiri sambil mengamati tubuh pemuda yang masih terlilit tali tebal itu menghitam dan menguarkan bau busuk yang menyengat.
...***...
Haetric hanya diam mendengar coleteh Duke Agneto tentang betapa indahnya pemandangan di balkon saat pesta perayaan. Sambil mengangkat piala berisi alkohol tinggi-tinggi, Duke Agneto berseru riang sambil memuji usaha Haetric karena telah membantunya untuk memasang sihir dimana Gaia tidak bisa menghindari maut.
Padahal kenyataannya, Haetric mengubah arah panah itu untuk menghantam tempurung kepala Rahid ketimbang membiarkan Gaia yang mati lebih dulu. Bukan tanpa alasan, itu karena Haetric sedikit tertarik dengan sosok Gaia, tapi yang mengejutkan adalah betapa gegabahnya Gaia yang justru memilih menjadi tameng Rahid setelah berusaha dia selamatkan dari rencana culas si tua bangka di depannya.
"Ini sudah tiga hari berlalu dan kau tahu, wanita itu belum sadar juga karena kutukannya sulit dimurnikan. Kamu benar-benar hebat, Haetric."
Sorot mata Haetric berubah buruk. Itu kutukan yang cukup kuat mengingat tidak sedikit sihir hitam yang ditanamkan pada ujung mata anak panah. Tapi, Haetric harus memberi pujian saat wanita itu terbangun karena kebanyakan korban tidak akan bertahan selama sehari setelah mendapatkan kutukan itu. Mungkin karena kekuatan sucinya yang besar, tapi seorang pendeta yang pernah memiliki kekuatan suci besar saja pernah mati karena itu jadi kemungkinan besar keinginan hidup Gaia jauh dari perkiraannya.
__ADS_1
"Sama sepertiku, apa para dewa juga melakukan taruhan terhadap hidupmu?" batin Haetric sambil memandang alkohol di cangkirnya tanpa minat.
...BERSAMBUNG ......