Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran

Kesepakatan Yang Menghukum Sang Tiran
19| Kemarahan Sain


__ADS_3

...SELAMAT MEMBACA...


Rahid memandang kalung di leher gemuk Baron Geld. Berdasarkan penyelidikan mengenai anak-anak penyihir yang Gaia selamatkan tempo hari, Baron Geld merupakan tujuan anak itu dan sekarang Rahid mengundang pria paruh baya tersebut untuk menikmati secangkir teh di ruang tamu.


"Sepertinya kalungmu sangat bagus, bagaimana jika aku memilikinya?"


Baron Geld bergidik melihat seringai terselip nafsu membunuh mengarah padanya. Semua tahu bahwa Rahid selalu mendapatkan apa yang ada di depan mata, jika ia menolak maka Rahid akan meninggalkan kepala di atas meja. Tapi kalung yang ia pakai memiliki nilai tinggi, jika memberikannya maka susah lagi untuk menghubungi anak-anak itu.


"Tapi ini sudah saya kenakan Yang Mulia. Saya bisa memberi anda barang yang lebih mewah dari ini."


Tatapan Rahid semakin tajam dan Baron Geld tampak berkeringat sampai akhirnya mengalah dan memberikan kalung tersebut. Rahid mengukir senyum penuh kepalsuan lantas setelah mendapat apa yang diinginkan, Rahid memotong tangan kanan Baron Geld dengan pedang yang tersampir di pinggang.


"Kamu terlalu lamban menyerahkannya." Rahid meraih sapu tangan untuk membersihkan pedang yang ternoda darah.


Baron Geld melotot, menahan rasa sakit dan amarah yang membuat harga dirinya tercoreng.


"Reaksimu saat aku meminta benda ini cukup menyenangkan. Jadi ... Katakan padaku, dimana kamu mendapatkan perhiasan itu?" Rahid melirik kalung di atas meja lantas mendekati Baron Geld yang bersimpuh sambil memegang tangan yang masih menyemburkan darah.


Masih ingin hidup lalu membalas apa yang Rahid perbuat, Baron Geld bertingkah seperti peliharaan penurut, menunduk sambil menghindari tatapan yang mengintimidasi.


"Pe-penyihir. Beberapa hari lalu saya diserang monster lalu saya dengar bahwa dipelelangan ada yang menjual beberapa barang yang bisa menakuti para monster hingga tak berani mendekati si pemakai maka dari itu saya menghubungi orang yang bisa menyampaikan pesanan saya."


"Siapa orang itu?"


"D-dia adalah putra Visc—argh!"


Tak sempat menuntaskan kalimat, Baron Geld memuntahkan banyak darah dan perlahan tubuhnya menghitam dalam sekejap. Sihir itu sangat kuat hingga membunuh musuh dalam hitungan detik. Rahid sempat bergidik, bagaimana bisa sihir hitam semengerikan ini.


"Bersihkan ini lalu sebarkan informasi kejahatan yang Baron Geld lakukan."


Rahid memberi perintah pada Argio lantas Eslan memanggil para pelayan untuk mengurus jasad Baron Geld dan kini perhatian Rahid jatuh pada kalung di atas meja. Sejak awal, Rahid melakukan ini pada Baron Geld bukan semata-mata karena kalung itu melainkan karena pria paruh baya itu terlibat dalam sejumlah kejahatan seperti perdagangan budak, korupsi juga mengadakan lelang ilegal.


Gaia pasti bisa mendeteksi apakah ada kutukan yang tertanam di benda tersebut, tapi wanita suci itu masih menerima hukuman dan berdiam diri di penjara. Kalau saja Gaia tidak mencegah kesatria itu menangkap anak-anak penyihir maka ia sudah selangkah lebih maju untuk menangkap dalang dari semua kekacauan ini.

__ADS_1


"Panggil pendeta dari Sanctia itu."


Rahid memberi perintah pada salah satu anggota kesatria lainnya. Sementara itu, di kediaman Viscount Viren, Haetric berdecak kesal sambil memperhatikan bayangan kadal hitam yang telah hancur dalam genggaman.


"Sudah kuduga ini akan terjadi. Hampir saja dia mengatakan identitasku!"


Haetric lantas meringis. Sejak Sihan dan lainnya sempat tertangkap, Haetric membiarkan satu kutukan menyerupai hewan untuk hinggap di tubuh Baron Geld, jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan terungkap. Namun, penggunaan kutukan jenis tersebut menghabiskan banyak energi sihir karena jumlah kutukan yang dilepaskan cukup besar.


...***...


"Haa ... Haaah ... "


Napas Gaia tersendat-sendat. Peluh membanjiri tubuhnya yang gemetar tak sampai situ, kedua tangan Gaia meremas dada kiri cukup kuat dan erangan yang tertahan tak terdengar.


"K-kalungku sudah mencapai batas, aku harus menggantinya dengan yang baru."


Mata Gaia kian sayu, dipandangnya suasana di luar penjara melalui celah sedang di tengah pintu penjara dan disana ada Rasila yang berjaga sambil memunggungi sel penjara.


"D-dame ... "


Rasila tersentak. Kekuatan suci yang Gaia lepaskan sangat terasa hingga Rasila buru-buru berbalik arah dan memeriksa kondisi di dalam sana, menemukan Gaia terbaring dengan wajah sedikit merah karena menahan rasa sakit.


"Panggilkan dokter!" Rasila berseru pada penjaga lainnya.


Rasila langsung menggendong Gaia, berlari menuju ruang yang lebih baik agar Gaia sedikit lebih nyaman.


"Salam kepada matahari Kerajaan Retkan." Sain sampai di istana ditemani Eslan sebagai pemandu untuk menemui Rahid.


Rahid bersama Argio, ke empat orang ini berpapasan di persimpangan koridor dalam istana. Rahid menatap Sain lalu melirik Argio untuk menunjukkan apa yang didapatkan dari baron geld kemarin.


"Ukh!"


Sain lansung memejamkan mata sebentar melihat aura kutukan memenuhi setiap bagian kalung.

__ADS_1


"Itu sihir pengendalian dengan kutukan yang membuat penggunanya mati setelah tujuan utama si pembuat benda terpenuhi. Bagaimana bisa itu ada di benda sepertu itu?"


Wajah Rahid mengerut, sudah ia duga bahwa itu benar-benar mengandung sihir dn kutukan. Kini Rahid menatap Sain lalu mengulurkan tangan.


"Bergabunglah denganku untuk membereskan masalah ini. Kamu bisa melihat kutukan dengan begitu kita bisa mengumpulkan benda-benda menjijikkan ini dan siapa saja yang terlibat."


Sain memandang ketiga pria itu lalu menyambut uluran tangan Rahid. "Apakah Gaia juga akan ikut dalam rencana? Ketimbang aku, Gaia lebih peka terhadap sihir hitam dan kutukan."


"Aku tidak memerlukan orang seperti Gaia dalam rencana kali ini. Dia hanya akan jadi masalah karena kepribadiannya yang suka mengasihani orang lain."


Rahid lantas berbalik arah dan meminta Sain untuk mengikutinya, melanjutkan perbincangan lebih mendetail di ruang kerja namun, baru beberapa langkah, keempat pria tersebut tercenung dalam keterkejutan melihat Rasila berlari sambil membopong Gaia yang tidak sadarkan diri, wajah wanita yang tengah menjalani hukuman itu pucat pasi dan disudut bibirnya terdapat noda darah.


Jantung Rahid berdegup cepat, rasa ini lebih menakutkan dari pada dendam namun Rahid berusaha menepis hal tersebut.


"Maaf, Yang Mulia."


Sain langsung lari lebih dulu menyusul Rasila. Kepanikan menggantung jelas di wajah penjaga Sanctia tersebut terlebih setelah melihat kalung pemberiannya sudah tak cerah dengan keretakan disana sini, tapi saat itu pula Sain mendapati kalung lain tersemat di leher jenjang Gaia.


"Dokter sebentar lagi akan tiba." Rasila panik dan terus mengenggam tangan Gaia yang melemah.


"Biarkan saya. Dokter tidak bisa menanganinya kecuali saya."


Sain lantas melepas gelang lalu memasangkannya di pergelangan tangan Gaia dan perlahan mengalirkan kekuatan untuk mengontrol kekuatan suci Gaia yang membludak. Gelang dengan bahan yang sama dari kalung telah meminimalisir rasa sakit sehingga napas Gaia perlahan lebih stabil dan kerutan di dahi akibat rasa sakit telah pudar.


Setelah merasa semuanya lebih baik, Sain lantas melirik ke arah pintu, dimana Rahid dan dua pemuda tadi baru menyusul.


"Kenapa Gaia bisa seperti ini?" Sain menatap berang pada Rahid. Gaia tidak akan pernah lupa mengganti kalung jika akan habis masa penggunaannya.


"Dia tengah menjalani hukuman. Mungkin kondisi dalam penjara membuatnya tidak nyaman." Rahid menjawab dibalik wajah datar dan dingin. Walau begitu, pandangannya tak lepas dari Gaia yang terbaring tanpa membuka mata.


"Anda memenjarakannya?"


"Dia menyelamatkan anak-anak penyihir lalu menyinggungku. Itu hukuman teringan yang kuberikan padanya. Lagi pula kenapa dia begitu lemah, padahal ini baru tiga hari sejak dia berdiam diri di penjara."

__ADS_1


Sain benar-benar marah dengan apa yang Rahid katakan lantas tanpa sadar ia bicara sambil meninggikan suara. "Jika bukan karena anda, Gaia tidak akan terus mengalami situasi yang membahayakan nyawa! Jika terlambat sedikit saja, kekuatan suci akan menelan tubuhnya dalam tidur abadi!"


...BERSAMBUNG ......


__ADS_2