
...SELAMAT MEMBACA...
"Sudah lama tidak melihatmu, Sain."
"Senang sekali bisa melihatmu lagi, Gaia."
Sain memangkas jarak lantas menangkup kepala Gaia sebelum akhirnya mendaratkan kecupan ringan di dahi, itu berkat yang biasa Sain lakukan setiap kali bertemu Gaia.
Saat ini mereka berada di taman Sanctia. Gaia memutuskan untuk menemui Sain setelah banyak kejadian terlewat. Padahal pria berwajah cantik itu sering datang ke istana untuk membantu Rahid menemukan benda terkutuk tapi tidak ada sela waktu untuk sekadar menyapa Gaia.
"Kakak!"
"Wysia?"
Gaia segera menjauhi Sain dan menyambut dekapan Wysia yang hampir membuat tubuhnya terjungkal. Adiknya itu selalu bersemangat dalam banyak hal dan karena itu pula Gaia merasa hari-harinya selalu ramai sejak Wysia hadir dalam hidupnya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Gaia menangkup wajah Wysia hingga bibir gadis itu menjadi maju dengan pipi berkembung.
Wysia menyingkirkan tangan Gaia di wajahnya lalu mulai mengeluarkan air mata disusul tangis yang perlahan melengking. Sain langsung menghindari kontak mata Gaia yang menuntut penjelasannya, sudah cukup bagi Sain kemarin untuk menerima semua sikap menyebalkan Wysia yang tidak terima bahwa Gaia tidak berumur panjang.
Akhirnya, setelah menenangkan Wysia, Gaia menanyakan apa penyebanya dan saat itu pula Wysia marah dan kembali memastikan apakah yang ia alami dan jawaban Sain benar adanya.
"Iya itu benar."
Wysia mencekam kuat rok gaunnya lalu menatap sengit pada Gaia. "Jadi kakak mau menyiksa kami?"
"T-tidak, bukan begitu, Wysia. Kakak hanya belum siap untuk memberitahu kalian."
"Kapan? Sampai kakak pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lalu kami terkurung atas pertanyaan tentang penyebab kematian kakak?"
Gaia tidak bisa lagi menahan air mata di pelupuk matanya, jadi ia pun menangis. Bukan hal seperti itu yang dia inginkan, tapi jika keluarga dan orang sekitarnya tahu apakah semua akan baik-baik saja sampai hari itu? Gaia tidak ingin perlakuan untuknya berubah, ia ingin semua berjalan seolah dirinya tidak akan menemui ajal lebih cepat dengan begitu rasanya sedikit melegakan.
Sain tertegun melihat Gaia yang terduduk di kursi taman menunduk sambil menutup wajah menggunakan kedua tangan. Tubuh wanita itu bergetar dan naik turun karena suara tangisnya tersendat-sendat.
Wysia kelabakan, ia hendak memeluk kakaknya tapi Gaia bahkan tidak menjawab setiap panggilannya selain itu sepertinya tangis Gaia begitu menyakitkan.
"Gaia ... " Sain memanggil dengan lembut.
Namun Gaia tetap menangis dengan suara kecil. Kenyataannya, rasa sakit itu datang lagi dan kalung yang bersembunyi di balik gaun sudah retak. Sebisa mungkin Gaia memanfaatkan tangisnya untuk menyembunyikan rasa sakit itu dan mengabaikan Sain yang sedang memanggil. Akan tetapi, itu hanya beberapa detik sebelum Sain membuka secara paksa kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup wajah.
__ADS_1
"Sejak kapan begini, Gaia?!" Alis Sain menukik tajam melihat hazel indah Gaia berubah amber juga bandul kalung yang retak menyembul ke luar, tertangkap oleh penglihatannya.
"S-sain."
Sain memejamkan mata sejenak demi menetralisik rasa pedih yang menggelegak dalam dadanya, terasa penuh dan sesak. Setelahnya, Sain langsung melepas gelang ditangannya untuk kembali di pasang pada pergelangan tangan kanan Gaia.
Air mengalir banyak dari mata yang menunjukkan rasa sakit amat luar biasa, Sain tidak bisa melihat area mana di wajah Gaia yang tidak basah, itu benar-benar pemandangan yang buruk baginya.
"Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan. Tenanglah, sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang, tenanglah ... Tenanglah ... "
Sain membawa Gaia dalam dekapan, mengusap kepala belakang wanita tersebut penuh kelembutan dan ketenangan dan perlahan tubuhnya tak gemetar lagi dan deru napas mulai teratur.
"Aku akan memanggilmu, Wysia. Sekarang jernihkan pikiranmu."
Sain lantas membopong tubuh Gaia, membiarkan kesadaran wanita dalam gendonganya kian menipis dan raib oleh rasa lelah akibat rasa sakit.
"Ya."
Wysia menjawab lesu. Adegan barusan menjadi pukulan bagi Wysia, Sain bisa menyadarinya hanya melihat bagaimana ekspresi Wysia saat melihat kondisi Gaia barusan. Tatapan cerah gadis muda itu mendadak kosong dan gelap bahkan ujung jemarinya tampak gemetar dan dingin, buru-buru Wysia saling menangkup tangannya, berusaha menenangkan diri.
"Berapa lama kakak menahan semua itu? Sebesar apa rasa sakit itu? Bagaimana bisa kakak menahannya?" Wysia kembali menangis dalam diam, menatap nanar punggung Sain yang tak tertangkap lagi oleh penglihatannya.
...***...
"Jadi kamu memutuskan untuk tinggal lebih lama di Sanctia?"
Gaia telah bangun sejak siang tadi, namun Wysia enggan berbicara dengannya dan hanya diam sambip menunduk, menyembunyikan mata sembap dan pipi gembil yang memerah, pangkal hidungnya pun jadi merah karena menangisinya, Gaia jadi sedikit bersalah walau rasanya sangat bahagia mengetahui betapa besar rasa sayang Wysia terhadapnya.
"Iya. Aku akan menuntut para dewa agar tidak merenggutmu dariku." Wysia memalingkan wajah.
Gaia terkekeh lantas mengusak puncak kepala Wysia, sementara tak jauh di belakang mereka, Sain tampak melamun. Gaia memberitahu rasa sakit itu dan berapa lama kalung bertahan, kondisi yang sangat buruk.
"Kakak akan pulang sendiri?" tanya Wysia.
"Aku meminta Sir Argio untuk menjemputku, mungkin sebentar lagi dia datang."
Tidak lama dari itu, seorang pria menunggangi kuda hitam gagah berhenti lalu turun, menghampiri Gaia yang fokus berbincang dengan Wysia sementara Sain sudah memasang wajah kecut menyadari si pemuda bukan Argio melainkan Rahid.
"Waktunya pulang."
__ADS_1
Gaia terperangah saat sepasang tangan besar dan kekar menyelinap di pinggangnya tanpa permisi disusul bibir tebal nyaris menyentuh daun telinganya saat berbisik untuk mengajak pulang.
"Rahid?" Gaia langsung menoleh hinggga sepasang pangkal hidung keduanya bergesekan perlahan.
Rahid tersenyum tipis sementara Gaia hanya menautkan alis namun itu tidak lama sebab buru-buru Gaia mendorong Rahid dan menatap mulut Wysia yang menganga lebar.
"Kenapa bukan Sir Argio?" tanya Gaia.
"Dia punya pekerjaan lain," dusta Rahid, kenyataannya ia mencegat Argio yang hendak menjemput Gaia lalu memberi tugas baru secara mendadak.
"Kamu sudah mau pulang, Gaia?" Sain mendekat, berada di dekat Wysia, berhadapan dengan Rahid.
"Ya. Tolong jaga adikku, Sain," pinta Gaia yang kemudian disusul anggukan oleh Sain.
"Kalau begitu kemarilah." Sain meminta Gaia mendekat setelah kedua tangannya terbuka untuk menyambut Gaia yang mendekat.
Rahid mengernyit heran, tidak tahu apa yang hendak pendeta itu lakukan tapi semua itu terjawab dalam seperkian detik sesaat bibir ranum si pendeta mendarat tepat di tengah dahi Gaia.
"Jika terjadi sesuatu, aku akan segera datang jadi jangan terlalu memaksakan diri," bisik Sain yang kemudian angguki oleh Gaia disusul senyum kecil yang terbit. Sedangkan di sisi lain, ekor mata Sain melirik kecemburuan menggantung jelas di wajah sang tiran dan itu membuat Sain sedikit senang.
"Jangan membuat Sain terbebani, jadilah anak yang penurut, Wysia lalu jangan berlama-lama di Sanctia karena ayah ibu pasti mencemaskanmu."
Wysia angguk lemah sembari memicing tak senang pada dua pria yang seolah berperang lewat tatapan seolah memperebutkan kakaknya. Tidak terima dengan itu, Wysia lantas memeluk Gaia dengan erat dan mendaratkan ciuman di dahi, pipi kanan-kiri dan terakhir di dagu. Hal tersebut tentu mengejutkan Gaia karena Wysia tidak pernah bersikap demikian namum, Gaia berpikir itu semua karena Wysia masih sedih tentang kenyataan yang ia alami akan tetapi ia tidak tahu bahwa sekarang adiknya yang manis itu melempar senyum sinis dan sarkas pada dua pria yang menatapnya jengkel.
"Tentu saja. Selama aku tidak ada di sisi kakak, berhati-hatilah karena banyak hewan buas yang bisa menerkam kakak kapan saja." Wysia lantas melepas pelukan, tersenyum penuh arti dibalik kalimat penuh penekannya.
Gaia tak paham namun tetap angguk kepala dan membiarkan Rahid membantunya menaiki kuda. Kini, Rahid memegang kendali kuda dengan Gaia yang duduk di depannya.
"Apa itu semacam berkat?" tanya Rahid setelah mereka menjauhi Sanctia.
"Iya."
"Kenapa kamu juga perlu berkat?"
Gaia tersenyum sambil memandang jauh ke depan. "Entahlah, mungkin aku juga sangat membutuhkannya, sama sepertimu." Gaia lantas melirik Rahid sambil tersenyum.
Rahid hanya diam dan memperhatikan Gaia dengan pandangan menelisik, rasanya wajah Gaia semakin pucat dan melemah saja.
"Jika kemungkinannya benar, kamu bisa mengandalkanku. Kurasa pendeta itu bukan satu-satunya yang bisa kamu jadikan sandaran."
__ADS_1
Perkataan Rahid sukses membuat Gaia tergugu sehingga sedetik kemudian senyum amat tulus terulas pada bibirnya yang pucat. "Ya, aku akan mencobanya."
...BERSAMBUNG ......