
...SELAMAT MEMBACA...
"Ayah! Kakak tidak ada di kamar!"
Wysia terbirit-birit menuruni tangga menuju ruang makan dimana ayah dan ibunya sudah menunggu untuk sarapan bersama.
"Ya ampun, dia keras kepala. Dia pasti pergi ke istana."
Abian mengembuskan napas lantas memberi perintah pada kepala pelayan untuk memberi perintah pada kepala kesatria di kediamannya, Daniel, untuk mencari Gaia hingga ke Istana. Yah, setidaknya biarkan keduanya saling melepas rindu, begitulah pesan Abian pada Daniel.
Sedangkan itu, Haetric berhasil mendarat dalam salah satu ruang di Istana dengan Gaia berada dalam gendongannya, mereka menggunakan sihir untuk kabur dari kediaman Isra hingga tiba dalam Istana.
"Hei, jangan tergesa-gesa."
Haetric mengintrupsi saat Gaia turun secepat kulat dari gendongannya, berlari keluar untuk mencari Rahid, tapi saat menyusuri koridor justru bersitatap dengan Argio dan Rasila.
Rasila terbelalak lalu berlari ke arah Gaia dan mendekapnya sangat erat. "Apa ini sungguh anda?!"
Rasila menangkup wajah Gaia, memperhatikannya cukup teliti sementara di belakang, Argio hanya diam sambil menatap jijik Haetric yang mengedipkan sebelah mata padanya.
"Aku yang membawanya," aku Haetric dengan bangga.
"Saya sangat senang bisa melihat anda lagi, Lady." Argio membungkuk rendah sejenak, mengabaikan keberadaan Haetric.
"Terima kasih, Sir Argio."
"Kalau begitu apakah anda mau menemui Yang Mulia?" Rasila mulai menjauh.
"Iya. Dimana aku bisa menemukannya?"
Mata Argio bergerak gelisah sambil menjawab, "ah, sepertinya Lady belum bisa bertemu dengan Yang Mulia."
"Kenapa?"
"Yang Mulia tidak ada di Istana, beliau sedang keluar."
"Kalau begitu aku akan menunggu sampai beliau datang."
"Tapi Yang Mulia mungkin baru kembali besok. Sebaiknya Lady pulang dulu saj—"
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu, Sir Argio?" Gaia memicing curiga.
Argio sontak menegapkan tubuh sambil geleng kepala. "Tidak! Saya hanya mengkhawatirkan Lady jika menunggu Yang Mulia."
"Aku tetap akan menunggunya. Tolong segera kabari aku jika Yang Mulia sudah kembali, Rasila."
__ADS_1
Rasila melirik Argio, menunggu persetujuan komandannya tersebut. Tak lama setelah Argio angguk kepala, Rasila pun mengiyakan permintaan Gaia.
"Kalau begitu aku akan menunggu di perpustakaan sampai Yang Mulia datang." Gaia lantas pergi dari sana, meninggalkan ketiga orang yang saling diam sejenak.
...***...
Hari kian petang, beberapa hewan terlihat kembali ke sarang untuk istirahat tapi Rahid belum kunjung meninggalkan ruang kerja sambil memandang langit jingga dihias burung yang terbang secara bergerombol, membuat barisan indah yang tenang.
"Dia masih menungguku?"
Eslan angguk kepala menjawab pertanyaan Rahid. Pagi tadi Argio menyampaikan pesan bahwa Gaia mau bertemu dan menunggu di perpustakaan sedangkan sebelum hari ini tiba, Rahid sudah berpesan pada orang-orangnya untuk berbohong saat Gaia hendak bertemu dengannya.
"Apa dia sudah makan?" Rahid lantas duduk di tepi jendela sambil melipat tangan di depan dada, menatap tajam ke arah Eslan.
"Sudah, Yang Mulia. Tapi pelayan bilang bahwa Lady hanya menikmati kue kering dan teh saja."
Rahid mengembuskan napas sementara Eslan melirik agak takut. "Apakah anda sungguh tidak mau menemuinya? Saya tidak tahu apa masalahnya, tapi Lady masih belum pulih total, Yang Mulia."
"Biarkan saja. Jika sampai besok aku tidak datang, dia pasti akan kembali."
"Tadi Sir Daniel datang dan membujuknya untuk pulang, tapi Lady bahkan enggan menoleh dan terus menolak."
"Aku akan tidur disini, kamu berisitirahatlah." Rahid menjawab setelah dia beberapa detik.
Berjam-jam telah berlalu. Rahid pikir bisa tenang di ruang kerja sambil memaksakan diri sibuk di balik tumpukan dokumen namun, setiap kali menorehkan tinta untuk sebuah tanda tangan, pikirannya tanpa henti terarah pada wanita yang masih menunggunya di perpustakaan.
"Ah, sial!
Rahid mengamati jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam. Tidak mampu menahan diri lagi, ia langsung menyambar jubah dan berjalan keluar, menyusuri lorong-lorong lengang yang mengarah ke perpustakaan. Tidak ada penjaga di depan pintu itu, jadi Rahid masuk secara perlahan dan mendapati satu penerang dari lentera minyak bertengger manis di atas meja kaca di antara dua sofa panjang dan di sana ada Gaia yang terlelap sambil mendekap buku sejarah yang cukup tebal dan besar.
"Hah ... yang benar saja."
Rahid langsung berjongkok di depan Gaia yang terbaring menyamping di sofa setelah menyingkirkan buku itu secara hati-hati.Gaia bahkan tidak mengenakan selimut yang diberikan kepala pelayan.
"Padahal mudah kedinginan. Kalau mati karena kedinginan, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghidupkanmu walau harus bunuh diri sampai seribu kali."
Seraya menggerutu, ia memasangkan selimut dan menyampirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Gaia lantas memilih duduk bersila di lantai sambil memandangi wajah wanita itu dalam waktu cukup lama dan sekarang sudah jam satu pagi.
"Senang sekali melihatmu. Tapi jika terlalu lama, kupikir aku tidak akan melepaskanmu."
Rahid lantas bangkit berdiri setelah meninggalkan kecupan singkat di dahi Gaia. Kemudian menemui Haetric yang ternyata berjaga di depan perpustakaan.
"Tolong bawa dia pulang."
"Apa alasanmu terus menghindarinya?" Haetric tampak tak senang melihat tingkah Rahid.
__ADS_1
"Ada banyak alasan."
Setelah menjawab demikian, Rahid lantas mempercepat langkah meninggalkan lorong perpustakaan, kembali ke ruang kerja tanpa niatan untuk tidur sementara Haetric tampak frustasi namun tetap menuruti perintah Rahid, yakni membawa Gaia kembali ke kediaman Isra sebelum fajar datang.
...***...
"Ah, kakak kapan kembalinya?!"
Wysia memekik tertahan mendapati Gaia sudah ada di kamar padahal ia ingat betul bahwa Daniel gagal membawanya kembali dari istana. Tanpa banyak bicara lagi, Wysia paham siapa pelakunya, itu adalah pria bertopeng yang tengah duduk di balkon sambil melambaikan tangan.
"Selamat pagi," Haetric menyapa.
Sambil menyentakkan kaki, Wysia menghampiri Haetric dengan berkacak pinggang serta diiringi raut wajah masam sampai-sampai bibir kecilnya yang ranum membentuk kerucut, melihat itu Haetric nyaris menyemburkan tawa.
"Kenapa kamu seenaknya membawa kakakku keluar masuk?!"
Wysia meraih kerah pakaian penyihir itu sambil bertanya penuh penekanan. Sejak pertama kali bertemu, Haetric merasa familier dengan wajah adik Gaia ini dan ternyata ia ingat mengapa bisa demikian, itu karena wajah Wysia persis seperti saintess pertama yang membunuhnya, pemilik pedang vitagya yang asli.
"Ya ampun, sepertinya para dewa mempermainkanku, ya?" Haetric terkekeh.
Wysia tak paham apa maksud pria itu namun, ia buru-buru melepas cekalan di kerah Haetric saat kakaknya mulai terusik
"Hush! Hush!" Wysia mengibaskan tangan ke arah Haetric, berharap pria itu pergi, entah mau terbang atau lompat, intinya Wysia tidak mau melihatnya.
"Sampai jumpa lagi." Haetric lantas menjentikkan jari dan raib dalam sekejap dan tidak lupa mengedipkan sebelah mata dengan menggoda namun itu justru membuat Wysia jijik.
"Kenapa aku ada di sini?" Gaia menyentuh kepalanya, di luar sana sudah pagi tapi ia tidak di perpustakaan istana.
"Penyihir gila itu yang membawa kakak kemari."
Gaia tercenung, itu pasti perintah Rahid.
"Ah, hari ini pengeksekusian keluarga agneto! Kita harus datang siang nanti, Kak!"
Wysia tampak bersemangat sementara Gaia sibuk dengan pikiran sendiri.
"Bagaimana dengan pakaian ini, Kak?" Wysia bertanya sambil menunjukkan sebuah gaun mewah dengan warna mencolok.
"Hah? Apa kamu pikir kita mau datang ke pesta, Wysia? Lagi pula, kenapa kamu sangat gembira padahal itukan eksekusi mati."
Wysia cemberut lalu menggerutu. "Mereka, kan, hampir membunuh kakak berkali-kali, mana mungkin aku sedih di momen membahagiakan ini."
"Ya ampun, bukan hanya wajah, kepribadiannya bahkan persis seperti saintess itu," batin Gaia.
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1