
...SELAMAT MEMBACA...
"Tentu saja kamu karena sebelum kemunculanmu di istana hal ini belum pernah terjadi. Tidak menutup kemungkinan bahwa ini bagian dari rencanamu mengingat ayahmu menentang keras saat aku hendak menawarkan diri sebagai suksesor mendiang Raja kala itu."
"Y-yang Mulia," cicit Eslan. Ini tidak seperti Rahid yang biasa, padahal jelas sekali masalah ini bukan disebabkan oleh Gaia, tapi Rahid tampak begitu emosi.
Gaia langsung turun dari ranjang, berdiri agak sempoyongan di hadapan Rahid. "Bukan keluarga Isra, musuh itu bisa saja orang terdekat anda. Saya tidaklah bodoh membuat rencana dengan memasukkan nyawa saya sebagai taruhan! Saya hanya akan membuat rencana yang sudah pasti hasilnya."
Rahid tersentak sambil melirik Eslan, perkataan Gaia tentang orang terdekat lantas jatuh pada Duke Agneto. Rahid tidaklah bodoh, alasan utama membiarkan akar busuk masih ada di dalam tanah adalah demi memancing segerombolan cacing di bawahnya.
"Apa hari ini Duke Agneto datang?" Rahid melirik Eslan.
"Benar, Yang Mulia. Tapi setelah saya bilang anda tidak mau bertemu siapapun, beliau langsung pergi."
Sambil melirik Gaia yang sengit memandangnya, Rahid menyebik kesal sembari pergi dari sana tanpa sepatah kata. Namun, sebelum berbalik arah, Eslan mendapati tatapan tak menyenangkan Rahid jatuh pada Sain.
"Anda bisa kembali, Pendeta." Eslan berkata sambil memberi tasa hormat.
"Tentu, Tuan. Kalau begitu, saya pamit." Sain melirik Gaia lalu berpesan pada Eslan, "Jika ada sesuatu yang seperti ini tolong datang ke Sanctia kapan saja, saya memiliki cukup kemampuan untuk menangani hal seperti itu di istana."
__ADS_1
Eslan angguk kepala. Sain cukup terkenal di kalangan para bangsawan. Walaupun hanya memiliki kuil tua di bawah dukungan keluarga Isra, daya pikat Sain adalah wajah dan kekuatannya, ditambah Sain sering kali menjadi sukarelawan ke beberapa daerah sebagai perwakilan Sanctia untuk menyembuhkan banyak orang yang terkena kutukan.
Itu sangat berbeda dengan Rahid. Pria dengan kepribadian sebilah mata pedang runcing nan tajam yang kilauannya tertutup oleh darah, begitulah Rahid di mata semua orang.
Lalu, sekarang Rahid berada di kamar sembari menatap langit-langit kamar dengan getir. Apakah seperti semua orang, Gaia menganggapnya seperti itu? Awalnya semua tidak seperti itu, sama seperti anak pada umumnya, Rahid adalah sosok ceria, anak yang suka makanan manis dan pelukan hangat dari sang ibu.
Setelah melahirkan dirinya, ibu Rahid mulai menunjukkan efek samping kutukan, dimulai dari ujung jemari menghitam dan sulit digerakkan, busuk perlahan. Ibu Rahid menyembunyikan penyakitnya hingga putranya tersebut berusia delapan tahun dan diumur itu pula senyum di wajah Rahid sirna, menjadi kemuraman, takut, dendam, juga kesedihan.
Rahid mulai membenci keluarga kerajaan. Ayahnya bahkan tidak datang ke kastel tempat ia dan ibu diasingkan, Rahid kecil melakukan penghormatan pada sang ibu sendirian, di bawah langit gelap bersama guntur, langit bahkan enggan menangis, seolah menjaga kehormatan pria kecil yang meredam tangis di bawahnya.
Setelah beberapa pekan sejak kematian sang ibu, tidak ada lagi kehangatan di sekitar Rahid. Para pelayan di kastel mulai menunjukkan sisi tidak manusiawi. Mulai dari memberi makanan basi, kesat dan keras seperti batu, memukuli, sampai menjadikan Rahid budak di kastel sendiri padahal dirinya adalah sukesor dari kerajaan Retkan. Tidak berhenti sampai disana, pendukung para pewaris mulai mengincar nyawa Rahid walau tidak mendapat hak kursi sebagai suksesor, para faksi semua pangeran menganggap Rahid sebagai penganggu karena memiliki darah sang penguasa.
Rahid yang masih berusia delapan tahun mulai menjadi bulan-bulanan para bangsawan, diracuni berkali-kali, diculik bahkan sampai hendak dikubur hidup-hidup dan mulai saat itu Rahid bertekad untuk membasmi para anggota keluarga kerajaan.
Kemudian di usia 15 tahun, Rahid mulai menunjukkan keberadaannya di istana, sebagai salah satu suksesor terkuat yang mampu mengalahkan banyak monster di wilayah utara. Tentu saja rencana pembunuhan makin tinggi namun, Rahid sudah terbiasa menciptakan darah di bawah pedang terutama setelah tahu bahwa kutukan yang tertanam di tubuh ibu dan dirinya saat itu adalah ulah ratu dan raja hanya diam setelah tahu siapa dalangnya.
Maka dari itu, Rahid semakin keras pada dirinya. Hidup di balik bayang kebencian dan penuh dendam sampai balas dendam mulai terwujud seutuhnya. Walau tahu ratu adalah pelakunya, Rahid masih ingin menangkap si pemilik kutukan, yakni keturunan penyihir hitam.
Kematian ibunya yang membusuk dengan tubuh hitam sambil memeluknya dan meminta agar ia bisa hidup bahagia terus membayangi. Rahid tidak bisa tidur dengan baik sejak saat itu, selalu terbangun dengan rasa cemas dan kesedihan. Terkadang, Rahid takut jika akan berakhir menyedihkan seperti ibunya.
__ADS_1
"Aku tahu ini hanya perasaan yang sia-sia." Rahid lantas memejamkan mata, membiarkan tubuhnya berbaring di sofa panjang.
Sementara itu, setelah kepergian Sain, kamar hanya diisi oleh Eslan dan Gaia.
"Aku tahu kamu sangat marah pada Yang Mulia, tapi itu semua bukan emosi biasa. Yang Mulia sebenarnya mencemaskanmu, tapi tidak bisa menunjukkannya."
Gaia tersenyum sarkas pada Eslan. "Tidak bisa menunjukkannya? Memang apa masalahnya? Dia selalu bersikap menyebalkan, jelas sekali dia tidak berperasaan."
Eslan menautkan alis, marah karena mendengar pandangan Gaia secara sepihak pada Rahid.
"Masalahnya ... Yang Mulia sudah mengalami banyak kesulitan di masa kecil. Kamu tidak akan tahu seperti apa sosok Yang Mulia tapi yang jelas setiap tatapanmu telah menyakiti Yang Mulia apalagi ketika melihat orangnya lebih membela orang lain di hadapannya. Jika kamu dianggap sebagai orang lain, Yang Mulia tidak akan membiarkan sikap kurang sopanmu itu." Eslan sudah tidak bisa manahan rasa sopannya maka dari itu setelah menyelesaikan perkataan, Eslan langsung menunduk dan minta maaf sembari pergi dari hadapan Gaia yang tercenung.
Perkataan Eslan sudah mengusiknya jadi wanita berambut blonde tersebut pergi ke kamar Rahid, tapi saat mengetuk beberapa kali tidak ada sahutan sehingga Gaia semakin cemas karena Rahid pasti sangat tersinggung akan sikapnya. Namun saat masuk, pria berkulit tan tersebut tampak damai terbaring di sofa.
Gaia mendekat, berjongkok di sisi sofa sembari memandangi wajah Rahid yang ternyata tak sebaik dilihat dari jauh, banyak kerutan kegelisahan yang tercipta di raut wajahnya.
"Apa kamu mimpi buruk?" Gaia bermonolog sembari mengarahkan telunjuk di tengah dari Rahid. Memberi sebuah ketenangan melalui berkat yang muncul dari ujung telunjuk.
Perlahan kerutan di dahi Rahid hilang dan senyum Gaia terulas amat manis, setidaknya Rahid bisa bermimpi indah, tapi itu hanya dugaan sesaat sebab sekarang Rahid membuka mata sambil mengenggam tangannya.
__ADS_1
"Ternyata kamu bisa memberiku senyum sehangat itu," ucap Rahid bersama senyum kecil terselip di bibir.
...BERSAMBUNG ......