
...SELAMAT MEMBACA...
"Kita tidak akan pergi kemanapun. Kamu tetaplah disini."
Rahid langsung melengang pergi lalu mengunci pintu kamar. Jelas sekali raut wajah dan perkataan Gaia membuat perasaaannya gundah, seakan jika ia membawanya kesana maka ia tidak akan lagi melihat Gaia. Maka dari itu, lebih baik menyelesaikannya dengan pertarungan, tidak peduli siapa yang akan mati lebih dulu tapi setidaknya Haetric bisa sekarat karena telah melakukan ini semua.
"Rahid! Buka pintunya!"
Gaia memukul keras pintu kamar tapi si pemilik kamar sudah jauh keluar dan memacu kuda lewat jalan keluar tersembunyi, menuju menara dimana Haetric sibuk melempar sihir dan kutukan.
Jantung Gaia berdetak lebih cepat. Ia tidak bisa diam saja dan melihat semuanya makin kacau dan tidak menutup kemungkinan bahwa Rahid akan selamat bila berhadapan dengan Haetric.
"Gaia?!"
"Sain? Sain itu kamu?"
Suara Sain terdengar dari luar, pukulan di pintu pun semakin kuat dan tidak lama Sain berhasil membobol pintu kamar itu hanya dengan menggunakan pengait.
"Bagaimana bisa kamu terkunci disini? Aku mencarimu sejak tadi. Apa Rahid yang melakukannya?"
"Apakah keluargaku baik-baik saja, Sain?"
"Mereka aman. Wysia dan ibumu berada di Sanctia, tempat itu tidak akan tersentuh oleh sihir dan kutukan, sementara ayahmu masih sibuk membantu warga untuk mengungsi, tapi keadaannya semakin memburuk. Para kesatria yang mengamuk mulai menrang penjaga, semakin banyak yang terluka."
Sekujur tubuh Gaia meremang, lalu tanpa banyak bicara lagi ia jalan tergesa-gesa.
"Kamu mau kemana?"
"Aku harus ke kapel istana."
"Apa yang kamu kamu lakukan?"
Gaia diam cukup lama. Kepulan uap keluar dari mulut setiap kaki ia mengembuskan napas dan membuat celah antara bibir hingga akhirnya sampai di kapel, tempat berdoa kecil yang terletak di dalam istana. Rahid tidak mempercayai dewa bahkan benci dengan dewa maka dari itu, kapel ini tak terawat, dipenuhi tanaman merambat dan lumut, pandangan yang membuat hati kecil Sain teriris.
"Kumohon lindungi aku, Sain."
__ADS_1
Gaia lantas mengambil posisi bersimpuh sambil menyatukan kedua tangan, tapi Sain langsung menangkap sepasang bahunya, digoncang dengan pelan dan penuh kecemasan.
"Apa yang mau kamu lakukan?!"
"Kali ini aku akan bertaruh pada para dewa. Satu pengorbanan ini bisa menyelamatkan banyak nyawa Sain, kamu tidak bisa menghalangiku lagi pula aku tidak akan hidup lebih lama. Kamu yang paling tahu kondisiku."
"Te-ntu aku tahu itu, ta-tapi kenapa s-sekarang, aku .... aku ... "
Perlahan air mata menyusuri wajah si pendeta berwajah cantik itu, dadanya terasa sakit dan sesak, bagaimana bisa ia menyaksikan semua ini, melihat pengorbanan yang akan merenggut nyawa wanita yang sangat ia cintai. Tidak bisa. Sain bahkan tersiksa jika hanya melihat Gaia mengeluh sakit.
"Setidaknya aku tidak mau kematianku berakhir sia-sia."
Gaia menangkap rahang Sain agar menatapnya. Mata biru seperti cerahnya langit itu menatapnya dengan getir lalu terkatup sejenak sebelum akhirnya mendaratkan kecupan ringan di dahi.
"Aku akan menjagamu di belakang, aku harap jika terlahir lagi ke dunia ini, aku harap kamu tidak tersiksa dengan rasa sakit."
Gaia tersenyum hangat lalu kembali di posisi awal. Bersimpuh di depan altar yang mengelilingi sebuah patung dewi yang menyentuh basin. Bersamaan mata yang terlejam dan kedua tangan menyatu untuk memohon, air mendadak muncul dari basin, mengalir dan mengisi setiap celah jalur di sekitar kapel kemudian secara serempak tanaman merambat memunculkan sebuah kuncup bunga kekuningan, mekar dalam sekejap disusul tanaman lain yang tercipta secara ajaib. Sepasang mata Sain melebar, jantungnya berdetak lebih cepat dengan sekujur tubuh mendesir.
Cahaya memancar kuat dari tubuh Gaia, disambut enam bola cahaya kebiruan yang muncul tiba-tiba dan mengelilingi tubuhnya.
"Sayang sekali, padahal kamu berumur panjang, tapi sepertinya kamu lebih memilih mati dengan mengorbankan diri."
"Ya ampun, kacau sekali suasana di luar."
"Apa kamu mau menyerap semua sihir dan kutukan itu? Apa kamu pikir bisa menetrakannya?"
Gaia membuka mata, sorot tegasnya sedikit menyentak perasaan angkuh para dewa. Mata amber yang menyerupai para dewi serta rambut keemasan yang terlihat megah, kecantikan dari kekuatan suci yang siap dilepaskan oleh Gaia menimbulkan getaran hebat di sekitar para dewa.
"Jika aku berumur panjang, maka aku bisa menetralkannya. Tapi aku ingin mempertaruhkan semua umur itu untuk sebuah pengampunan dan kekuatan.
Para dewa saling pandang dan merutuki diri karena keceplosan, itu jelas menjadi senjata bagi Gaia saat ini.
"Apa yang kamu inginkan?"
"Kembalikan identitas para bangsa penyihir seperti semula. Aku menginginkan itu untuk semua yang kupertaruhkan mulai saat ini."
__ADS_1
Salah satu dewi mengulum senyum, lantas salah satu bola yang mewakili dewi tersebut berubah jadi violet lalu masuk ke dalam tubuh Gaia, ada 12 cahaya dan sekarang tersisa 11, mereka masih menimbang permintaan tersebut.
"Kurasa itu bukan keinginan yang sulit. Lagi pula kita akan menang lagi dalam taruhan ini karena dia akan mati."
Satu persatu bola cahaya masuk ke dalam tubuh Gaia lalu bersamaan itu gelombang angin luar biasa terlepas bersamaan cahaya kekuningan yang menyembur hingga membuat lubang besar di langit-langit kapel, menghujam hingga ke langit, menghancurkan perisai sihir yang Haetric ciptakan.
Semua orang yang melihat itu dari luar kapel tertegun. Cahaya itu seperti semburan naga yang mengalahkan kobaran api yang tak seberapa.
"Itu kekuatan suci Gaia. Apa yang dilakukan wanita itu?"
Tangan Rahid yang memegang kendali kuda sedikit mengendur melihat apa yang keluar dari istana. Padahal sedikit lagi ia sampai di tempat Haetric, tapi pria itu justru memutar arah untuk kembali ke istana, perasaannya semakin buruk karena perlahan semburan cahaya yang menjulang ke langit perlahan sirna dan sirna, berubah jadi partikel-partikel cahaya kekuningan yang turun seperti salju, orang-orang yang terkena partikel itu mendapat kesadarannya kembali dan di waktu bersamaan sihir Haetric pun lenyap, pria itu merasa jantungnya seolah ditikam oleh sesuatu yang besar dari dalam.
"Ibu ... Ibu ... Sepertinya kakak tidak baik-baik saja."
Di Sanctia pun terlihat keajaiban itu dan tangis Wysia pecah, di sisi lain tepatnya di kapel istana, Gaia sudah tergeletak dengan tubuh pucat dan dingin. Sekujur tubuhnya menampakkan urat yang menghitam, kutukan yang telah diserap mulai menggerogoti.
Tanpa berkata apapun, Sain mendekati tubuh Gaia yang terbaring di depan patung dewi, merunduk lalu menangis sambil mengenggam tangan indah yang begitu lemah.
"Ah! Aku yakin ini bisa membantu!"
Sain lantas menjulurkan kedua tangan ke arah tubuh Gaia, menyalurkan kekuatan penyembuh sebanyak yang ia bisa. Akan tetapi, kekuatannya terpental namun, seolah tak mau berputus asa, Sain mencobanya berkali-kali diiringi tangis tanpa suara.
Tidak lama, orang-orang yang tahu bahwa cahaya tadi berasal dari kapel mulai berdatangan namun betapa terkejutnya mereka melihat kapel yang usang menjadi begitu indah, dipenuhi bunga dan air suci yang sebelumnya telah mengering.
Air yang keluar tampak berkilauan seolah ada berlian menyelinap di setiap alirannya, tetapi kekaguman mereka hanya berakhir di situ saat melihat sang pendeta sanctia sibuk menyalurkan kekuatan penyembuh pada wanita yang terbaring dengan sekujur tubuh dengan saraf tampak kehitaman nyaris memenuhi tubuh.
"La-lady Gaia?"
Rasila melotot dan segera mendekat. Tidak perlu bertanya lagi, kekuatan suci tadi pasti berasal dari wanita di hadapannya. Argio dan Eslan menunduk dan memalingkan wajah melihat pemandangan yang terjadi pada Gaia, rasanya sangat menyakitkan.
"Biar kami membantu, Pendeta."
Para pendeta dari berbagai kuil ikut ambil posisi di dekat Sain, menjulurkan tangan secara serempak untuk menyalurkan kekuatan penyembuh namun, semua kekuatan mereka ditolak oleh tubuh Gaia.
"Tubuhnya sudah ditelan oleh kutukan dan sihir hitam."
__ADS_1
Tangan Sain luruh dengan lunglai, sorot matanya menjadi suram menyadari bahwa napas Gaia mulai melemah dan rambut blonde wanita itu perlahan menjadi hitam.
...BERSAMBUNG ......