
...SELAMAT MEMBACA...
Sudah sepekan berlalu, kondisi Gaia semakin pulih sebab kekuatan penyembuh pendeta bekerja cepat setelah kutukan dalam tubuh dimurnikan namun, bekas luka tidak hilang sehingga Gaia sedikit sayang melihat punggung yang semula mulus kini terdapat luka, mulai sekarang mungkin ia belum akan memakai gaun yang mengekspos punggung.
Walau sudah pulih, Gaia masih diberi libur namun wanita tersebut bersikukuh untuk tetap melaksanakan tugas sebagai seorang dayang selain itu, Rahid sudah terlalu bersikap baik padanya. Yah, dan berpikir jika pemberkatan yang dilakukan tiran itu hanya sebagai bentuk penghiburan dan rasa bersalah untuknya, jadi Gaia tidak mau memikirkan maksud kecupan ringan di dahinya ke ranah lebih dalam.
"Dimana, Yang Mulia?"
Gaia berpapasan dengan Eslan di lorong ruang kerja Rahid. Namun, pria berambut ikal agak cokelat tersebut hanya memandang ke luar dinding kaca, tepat mengarah pada gazebo di taman dan disana Rahid tengah menikmati waktu siang hari bersama Irian.
"Bukankah mereka serasi? Apakah benar bahwa Yang Mulia akan memilih Irian sebagai ratu?" Gaia melirik Eslan sekilas sambil melipat tangan di depan dada lalu perhatiannya jatuh pada gazebo di sana.
Eslan angkat sebelah alis dan meneliti ekspresi dayang pribadi tuannya, tapi tidak ada tanda-tanda kecemburuan melainkan rasa penasaran dan sedikit kekesalan.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Eslan.
Karena sudah sering bersama dalam bekerja, Eslan jadi merasa lebih akrab hingga mampu berbicara santai pada Gaia. Kerutan di dahi Gaia muncul setelah mendengar pertanyaan Eslan.
"Sejujurnya aku tidak yakin bahwa Irian bisa mengemban tanggung jawab sebagai Ratu. Selain itu, Keluarga Agneto jelas sangat membenci keberadaan Yang Mulia."
Eslan tersentak. Kali ini Gaia tidak lagi menyembunyikan kebenciannya pada Duke Agneto atau mungkin Gaia tahu siapa pelaku dibalik penyerangan waktu itu.
"Jadi, siapa menurutmu yang lebih pantas."
"Hm ... Mungkin Wysia, tapi itu tidak mungkin karena Wysia akan melanjutkan posisi ayahku."
"Wysia? Ah, gadis manis yang terus menanyakan kondisimu itu ya. Tapi kenapa dia? Bukankah suksesornya kamu?
"Gadis manis?" Raut wajah Gaia berubah tak senang dan Eslan langsung angkat tangan sambil menggeleng.
"I-itu pujian!" sanggahnya.
"Ah begitu, kukira kamu tertarik dengan adikku." Gaia lantas tersenyum manis namun penuh arti seperti tersembunyi ancaman di balik senyuman tersebut.
__ADS_1
Bersamaan senyum Gaia yang terulas pada Eslan, tatapan menusuk dari Gazebo sedikit melebar. Pemilik tatapan tersebut membuat sela antara bibir lalu memalingkan wajah tanpa minat di depan wanita lain di seberangnya.
"Apa ada yang membuat anda tidak nyaman?" Irian berkedip ketika Rahid secara mendadak memalingkan wajah ke samping dengan ekspresi tak senang.
"Tadi ada kupu-kupu," dusta Rahid.
"Jadi, bisakan Yang Mulia datang ke pesta ulang tahun saya besok?" Irian menyatukan kedua tangan diiringi binar memancar dari sepasang mata.
Rahid mengulum senyum. "Tentu saja, Lady Irian."
Irian sangat senang mendengarnya kemudian keduanya benar-benar menghabiskan waktu di Gazebo untuk waktu lama. Rahid sendiri sengaja menerima pertemuan Irian karena beberapa alasan, pertama untuk menghindari Gaia yang bersikeras memberi berkat di saat kondisi belum pulih lantas kedua untuk mencari tahu tentang Duke Agnito dari Irian. Ini pilihan tepat karena Duke Agneto sangat menyayangi Irian.
"Ah, saya juga mengundang Lady Gaia dan Lady Wysia."
Irian kembali buka suara, Rahid langsung fokus pada apa yang dibicarakan.
"Sepertinya pestamu cukup meriah, ya. Tapi aku sedikit cemas pada dayangku. Bagaimana jika dia terluka lagi saat menghadiri sebuah pesta?"
Irian tersentak. Ia tahu bahwa apa yang dialami Gaia adalah ulah ayahnya bersama penyihir berambut cokelat yang selalu mendatangi ayahnya di larut malam, tapi Irian tidak berpikir kalau Rahid tahu tentang itu jika demikian maka Irian tidak tahu harus melakukan apa agar Rahid bisa menatapnya seperti saat ini.
Senyum culas Rahid terulas. "Apa benar kamu akan melakukannya?"
Irian angguk kepala mantap. "Saya bersumpah atas nama Keluarga Agneto! Maka dari itu, mohon jangan cemaskan apapun dan datanglah ke pesta saya, Yang Mulia."
Rahid angguk kepala. "Tentu saja, Lady Irian."
...***...
"Kenapa lambat sekali."
Komentar Rahid sambil menyebikkan bibir karena Gaia begitu lambat saat menanggalkan satu persatu aksesoris yabg tersemat di pakaian.
Gaia hanya mengembuskan napas. Sejak Irian pulang, Rahid tampak tak senang saat bersitatap dengannya, tapi ia lebih baik ketimbang Eslan yang selalu dimarahi hanya karena kesalahan kecil. Entah apa yang Rahid alami saat berbincang bersama Irian.
__ADS_1
"Hah, bisa cepat sedikit?"
Rahid semakin gusar tapi tatapannya tidak mengarah pada Gaia yang fokus menanggalkan vest ketat yang membungkus tubuh kekarnya.
"Sepertinya aku tidak melakukan kesalahan apapun hari ini, jadi kenapa kamu begitu kesal?"
Yah, memang tidak melakukan kesalahan, tapi Rahid-lah yang bermasalah. Mengingat bagaimana Gaia tersenyum pada Eslan, itu membuatnya sangat jengkel tapi yang selalu ia dapatkan dari wanita ini hanya tatapan kesal dan ketegasan.
"Padahal aku cukup tampan dan perhatian padanya, jadi apa yang kurang dariku? Hah, apa karena Eslan terlihat seperti cendekiawan?"
"Aku mau tidur, jadi lakukan saja tugasmu."
Setelah pakaiamnya berganti menjadi piyama tidur hitam dengan tali tersimpul di lingkar perut, Rahid langsung mendatangi ranjang dan membiarkan tirai terbuka, menjadikan cahaya bulan satu-satunya penerang di kamar.
Gaia mengembuskan napas lantas duduk di sisi Rahid yang sudah terbaring sambil menunggu berkat dari Gaia agar tertidur dengan nyaman. Mata hitam pekat itu memperhatikan setiap gerakan yang tunjukkan oleh Gaia.
"Kamu pasti sudah dapat undangan dari Lady Irian, kan?"
Setelah diberkati, kesadaran Rahid sayup-sayup hilang namun ia masih bisa mengajak Gaia berbincang.
"Iya. Pesta ulang tahunnya besok."
"Kalau begitu jangan pulang, berangkatlah bersamaku."
"Saya akan berangkat bersama Wysia."
"Ini perintah, ingatlah syarat perjanjian kita."
Setelah berkata demikian, mata Rahid terkatup dan dengkuran mulai mengusir kesunyia n dari kamar gelap. Gaia hanya diam sembari memperhatikan betapa teduhnya saat mata penuh intimidasi dan wajah yang selalu mengeras itu tertidur.
"Rambutnya seperti bulu gagak, halus dan berkilau. Aku jadi penasaran, apa saja hal yang menyebabkan kamu menjadi kejam pada diri sendiri."
Gaia menyentuh ujung rambut Rahid yang menyentuh dahi. Bohong jika Gaia tidak goyah atau terpesona oleh kharisma yang terpancar dari sosok Rahid, tapi ia juga tidak boleh lupa kalau hubungan diantara mereka hanya ada karena sebuah kesepakatan.
__ADS_1
"Aku pikir tidak perlu melewati batas, lagi pula jika terlalu terikat di dunia ini maka aku tidak akan terima jika akhirnya sekarat dan mati."
...BERSAMBUNG ......