
...SELAMAT MEMBACA...
Gaia mengeratkan tas yang tersampir di bahu, ditatapnya kediaman mewah milik Viscount Viren sebelum akhirnya benar-benar masuk namun hal mengejutkan bagi Gaia adalah seluruh orang di kediaman ini telah dipengaruhi oleh sihir.
Kedatangan Gaia kemari bukan tanpa alasan melainkan ingin bertemu dengan Haetric dan sedikit mengulik kehidupan pria bertopeng tersebut. Sejak awal, Gaia sudah curiga melihat mata Haetric yang sedikit memancarkan keunguan, khas penyihir tapi siapa sangka itu benar adanya.
Lebih menakutkan lagi bagi Gaia adalah bagaimana Viscount Viren menyambutnya dengan pandangan kosong, otak dan tubuhnya sudah dikendalikan begitulah yang terlihat. Walau berusaha keras disembunyikan, Gaia masih bisa lihat sihir hitam dan kutukan menyelimuti samar sekujur tubuh penghuni kediaman Viren.
"Me-mengerikan ... jika sebesar ini ... Jangan-jangan dia keturunan leluhur."
Gaia mundur perlahan sambil membungkam mulut, mendadak ia mual namun tepat lima langkah ke belakang, tubuhnya membentur tubuh Haetric. Pria bertopeng itu menatap Gaia tanpa senyum terselip di bibirnya.
Sesaat menengadah untuk melihat siapa pemuda di belakangnya, sekujur tubuh Gaia bergidik ngeri, matanya memperjelas keterkejutan setelah melihat wajah Haetric tanpa mengenakan topeng. Wajah itu ... Milik Erick. Calon tunangan sekaligus mantan sukesor kerajaan Retkan.
"P-pangeran ... tidak ... k-kau Haetric, kan?"
Gaia bergumam, walau itu wajah Eric tapi mata pria itu bukanlah cokelat melainkan ungu, mata khas penyihir.
"Kamu selalu sulit ditebak, Gaia." Sesaat setelahnya Haetric mengulum senyum, walau tidak sepenuhnya ramah, itu lebih baik daripada tatapan membunuh sebelumnya.
Haetric lantas mengembuskan napas sambil memandang ke atas, terlihat begitu jengah karena awalnya ia tidak ingin Gaia tahu terlalu cepat ditambah kelalaian yang anak-anak lakukan membuat rencana awal dimajukan.
"Kenapa kamu memakai wajah Erick?!"
Haetric tertawa sumbang lalu berdiri di balik punggung Viscount Viren yang diam seperti mayat hidup.
__ADS_1
"Hm, ceritanya sangat panjang, ini akan memakan sampai larut malam, kamu mau mendengarnya?" Haetric tersenyum lantas mejentikkan jari pada beberapa pelayan agar menyajikan teh dan beberapa kue kering.
Di waktu bersamaan, pergerakan Rahid dalam penyelidikan kelompok sesaat dan kutukan yang tertanam dalam benda atau artefak kuno telah terendus oleh Duke Agneto. Oleh karena itu, Duke agneto mulai mempersiapkan pasukan bila sewaktu-waktu ada serangan mendadak.
Namun, Rahid masih belum cukup bukti untuk mengetahui siapa sosok yang duke agneto jadikan rekan hingga melakukan banyak kejahatan terutama saat hendak membunuh Gaia. Maka dari itu, hari ini ia menyempatkan diri untuk mengundang Irian menikmati secangkir teh di siang hari pada gazebo di taman.
"Kamu tahu Irian bahwa ayahmu terlibat sesuatu yang mengerikan? Jika kamu hanya diam sekarang, apa kamu siap melihat kepala ayahmu ada di bawah kakiku?"
Bukan lagi kata-kata cukup ramah yang Irian dapati namun kecaman yang membuat nyalinya ciut. Jika begini, haruskah dia memberitahu apa yang ia ketahui?
"Aku menjanjikan posisi yang lebih tinggi untukmu. Apa yang kamu inginkan saat ini, akan kupenuhi. Kamu berhak mendapatkan hal ini sebab bagaimanapun kamu tidak bersalah atas kejahatan yang ayahmu lakukan."
Jemari besar Rahid meraih beberapa helai rambut Irian, membuat wanita tersebut bersemu dengan jantung yang berdegup kencang. Iriana yang tergila-gila pada Rahid tentu tidak bisa menolak kesempatan sebesar ini. Ayahnya selalu berjanji tapi dirinya selalu dijadikan alat untuk mencapai segala tujuan, baik sebelum era Rahid dan sekarang. Kalau ia bisa mendapatkan segalanya tanpa bantuan ayahnya, Irian tentu akan melakukan apapun.
Eslan yang berjaga tak jauh dari sana mengepalkan tangan, perasaannya jadi jengkel mendengar permintaan kurang ajar Irian, namun Rahid justru mengulum senyum sarkas yang dibalut kemakluman palsu.
"Tentu saja."
Irian lantas menunjukkan senyum kebanggaan, jika dirinya nanti jadi ratu, ayahnya tidak akan dijatuhi hukuman mati paling juga hanya hukuman penjara seumur hidup. Tapi untuk menguatkan permintaannya akan dipenuhi, Irian kembali melontarkan permintaan yang membuat Rahid sedikit tersentak.
"Kalau begitu, acara perburuan yang akan dilaksanakan di hutan kerajaan, saya ingin hasil buruan Yang Mulia diberikan pada saya."
"Lanca—" Eslan hendak membentak namun Rahid mengangkat tangan dengan telapak tangan terbuka, memberi isyarat bahwa Eslan diam saja di tempat dan itu membuat Irian melempar senyum sarkas pada putra viscount tersebut.
"Tentu saja." Senyum Rahid lantas pudar lalu ditatapnya Irian dengan seirus. "Kalau begitu mari katakan yang kamu tahu."
__ADS_1
"Itu ... Ayah selalu bertemu seorang pemuda di tengah malam. Saya selalu memperhatikannya setiap malam dan menguping, suara pemuda itu terdengar familier dan saya terus menerka-nerka siapa pemuda itu."
"Apa saja yang mereka bicarakan?"
Irian diam sejenak, tentu ia tidak akan mengatakan bahwa mendengar rencana pembunuhan Gaia. "Tentang sihir dan kutukan, hanya itu-itu saja."
"Katamu suaranya terasa familier, apa ada orang yang kamu curigai?"
"Itu ... Putra haram viscount Viren. Postur tubuh dan suara pemuda itu sangat mirip dengannya."
"Eslan." Rahid langsung melirik Eslan, paham apa yang hendak dikatakan Rahid, Eslan lantas undur diri untuk menyelidiki latar belakang pria yang dimaksud Irian.
...***...
"Kamu tahu ... saat itu musim semi baru tiba, harusnya hari-hari kami terasa menyenangkan dan hangat walau terus diburu oleh manusia selama ratusan tahun. Lantas keberadaan kami terendus oleh ratu, tentu kami akan dieksekusi tapi ratu justru menawarkan sebuah kesepakatan bahwa kami bisa selamat jika ingin menggunakan sihir dan kutukan untuk menjadi senjata perang menguasai seluruh kerajaan di benua ini, Retkan ingin menjadi kerajaan adidaya yang mengendalikan seluruhnya, tapi ibuku yang berstatus sebagai pemimpin di kelompok penyihir yang tersisa tidak menyetujui itu. Walau ibu membenci manusia, tidak terbesit sedikit pun untuk menggunakan kekuatan sebagai senjata pembunuhan massal yang pada akhirnya ratu marah dan menunjukkan kuasanya. Kami diseret ke depan warga sipil, dibakar hidup-hidup, aku lihat dengan jelas bagaimana ibu dan saudara-saudaraku menjerit saat tubuh mereka dilahap api secara perlahan lalu mereka memintaku lari dan tetap hidup, mereka menggunakan kekuatan untuk membuatku kabur."
Air mata Gaia luruh tanpa disadari. Bagaimana bisa ratu sekejam itu, lalu apa yang harus ia lakukan sekarang? Menatap mata Haetric saja ia sudah malu karena rasa bersalah.
"Kamu pikir aku akan menjadi penyihir belas kasih setelah semua itu? Tentu saja tidak, aku mulai menebar banyak kekacauan, tapi aku tidak menyangka bahwa Rahid justru memperlancar salah satu rencanaku untuk membunuh anggota keluarga kerajaan tanpa tersisa, tapi dendamku tidak padam. Setiap kali aku bercermin, lukaku ini selalu membuatku teringat masa lalu yang menyedihkan itu." Telapak tangan Haetric bergerak untuk mengusap wajah dari kening hingga dagu dan bersamaan usapan yang berakhir, perlahan rupa Haetric berganti.
Sepasang mata Gaia lantas melotot, pupilnya goyah melihat bagaimana wajah asli Haetric, penuh luka bakar dan sayatan. Itu sangat mengerikan hingga membuat Gaia mual dan nyaris muntah.
"Jadi, aku menguliti wajah Erick dan menyatukannya dengan sihir. Bukankah ini lebih baik?" Haetric tersenyum tipis setelah mengembalikan wajah seperti semula namun senyumnya terlihat menyakitkan di mata Gaia.
...BERSAMBUNG ......
__ADS_1